Posted by: izmantoko | October 29, 2009

Keluarga Mahasiswa ITB dan Mulut Besarnya

Beberapa hari yang lalu, di ITB muncul poster-poster yang berisi tentang pelantikan kembali SBY sebagai presiden NKRI periode 2009-2014. Pelantikan yang  biayanya 12 Miliar tersebut menjadi bahan utama yang dibahas dalam poster-poster tersebut. Siapa yang mempropagandakan poster tersebut? Jelas, KM-ITB.

Apa sih yang ingin dilakukan? Hal ini baru terjawab pada tanggal 19 Oktober 2009, malam hari, ketika saya pulang. Sebuah baliho besar tentang kondisi rakyat Indonesia sekarang yang dibandingkan dengan biaya pelantikan yang menelan 12 Miliar. Ironi ini dijadikan dasar bahwa KM-ITB akan mewakilkan anggota-anggotanya untuk berdiri di depan Gedung DPR Jakarta pada hari pelantikan. Saya berpikir, ya bolehlah, ada rasa nasionalismenya.

Keesokan harinya, saya kuliah pagi. Terlihat banyak mahasiswa mengenakan Jaket Almamater berkumpul di depan gerbang Ganesha. Oh, mereka siap-siap berangkat, piker saya. Saya pun langsung ke kelas untuk kuliah. Siang harinya, saya ke Himpunan, dan mendapatkan suatu fakta menggelikan.

Ternyata, rombongan KM-ITB yang rencana akan berangkat ke Jakarta itu batal berangkat. Pertama, acara pelantikan SBY dijadwalkan dimulai jam 10.00, namun sampai jam 9.00 rombongan itu belum berangkat. Di sini kelihatan jelas bahwa mereka tidak serius, dengan adanya molor yang cukup lama ini. Akan tetapi, mereka tetap nekar berangkat meskipun tahu akan telat. Ya, lumayan konsisten lah, meskipun nggak serius.

Berikutnya, dari cerita yang saya dengar, di tol Kopo, bus rombongan tersebut dihentikan oleh Polisi. Sepertinya belum dipersiapkan adanya halangan seperti ini. Dan yang paling menggelikan, sopir bus tidak memiliki SIM. Hahaha! Lelucon macam apa ini? KM-ITB hanya membuat mahasiswa-mahasiswa ITB tersebut membuang waktu kuliah dengan haapan tinggi menuju Jakarta, padahal hanya untuk distop polisi di Tol Kopo.

So, KM-ITB boleh lah untuk niat dan pemikiran dan besar. Tapi saya piker, Omong saja tidak cukup. Kita ini mahasiswa ITB. BUKAN HANYA OMONGAN YANG DIBUTUHKAN, TAPI TINDAKAN YANG KONKRIT DAN BENAR!!!

Posted by: izmantoko | October 19, 2009

Miyabi vs FPI-LPI

Sabtu, 10 Oktober 2009. Saya melihat berita di tv pada pagi hari. Salah satu berita utamanya adalah penolaka kedatangan bintang porno Jepang, Maria Ozawa atau yang lebih terkenal sebagai Miyabi, oleh Laskar Pembela Islam (LPI) dan Front Pembela Islam (FPI). Jujur saja, saya tertawa melihat berita itu. Hahaha!

Begini, saya menggarisbawahi satu hal, LPI dan FPI menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia karena dia dianggap sebagai bintang porno yang merusak moral bangsa. Ok, mungkin dia memang bintang porno, tapi apa tujuan dia ke Indonesia  bukanlah untuk membintangi suatu film porno, melainkan film komedi. Jadi, apa alasan penolakan  itu?

Mereka mengatakan Miyabi merusak moral bangsa. Ya, memang Miyabi bintang film porno impor dari Jepang, tapi jangan lupa bahwa Indonesia juga punya banyak stok biintang porno yang bersliweran di iinternet. Tidak percaya, silakan googling apapun tentang porno dan Indonesia, pasti banyak situs yang berisi film porno asal Indonesia. Jadi, apakah Cuma Miyabi yang merusak moral bangsa dengan film-filmnya? Orang Indonesia pun memiliki andil besar, bahkan sejak zaman film-film hantu porno Suzanna dkk yang pasti sudah ada sebelum Miyabi lahir. Kenapa mereka tidak mengurus bintang-bintang porno asal Indonesia yang dekat dan terjangkau dan lebih memilih Miyabi yang berasal dari Jepang? Pakah karena Miyabi lebih terkenal? Atau karena filmnya lebih hot? Jelas, LPI dan FPI jelas mencari-cari alasan yang tidak masuk akal untuk menolak Miyabi karena tidak bisa menolak artis dalam negeri. Ya, mereka sedikit mengiingkari fakta yang ada bahwa Indonesia memang sudah rusak moralnya, bahkan sebelum ada Miyabi.

Melanjutkan masalah moral, apakah hanya film porno yang merusak moral bangsa? Bagaimana dengan music underground dan dangdut yang membuat para pendengarnya kesetanan dan berbuat anarkis, pengangguran di mana-mana yang membuat banyaknya kejahatan, bahkan moral pengebom pun dibentuk (dibrainwash), bukan berasal murni dari bangsa Indonesia.

Jadi, sekali lagi, wajarkah penolakan kedatangan artis porno luar negeri yang tidak bertujuan membuat film porno untuk berkunjung ke Indonesia ketika masalah kepornoan dalam negeri sendiri belum bisa diatasi?

(Ini hanya sebuah pendapat, mohon jangan ditanggapi secara emosi berlebih.)

Posted by: izmantoko | September 25, 2009

Akhirnya Ada Band Baru yang OK

bulan terdampar di pelataran
hati yang temaram
matamu juga mata mataku
ada hasrat yang mungkin terlarang

* satu kata yang sulit terucap
hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
perasaanku berubah jadi cinta

reff:
tak bisa hatiku menapikkan cinta
karena cinta tersirat bukan tersurat
meski bibirku terus berkata tidak
mataku terus pancarkan sinarnya

ku dapati diri makin tersesat
saat kita bersama
desah nafas yang tak bisa rusak
persahabatan jadi cinta

reff2:
apa yang kita kini tengah rasakan
mengapa tak kita coba persatukan
mungkin cobaan untuk persahabatan
atau mungkin sebuah takdir Tuhan

 

Familiar dengan lagu di atas? Ya, itu adalah lirik lagu band baru yang bernama ZIGAZ. Band ini menawarkan aliran musik yang fresh, berbeda dengan yang lain, tidak melayu, mendangdut, dll. Irama musiknya juga sangat wah, dan saat ini bisa disebut spesial, karena band-band lain hanya menawarkan lagu melayu dengan vokalis mendayu-dayu.

ZIGAZ adalah breakthrough musik band-band baru di Indonesia. Jika dibandingkan dengan Salju, Magneto, Hijau Daun, Shiver, Wali, sampai dedengkotnya band melayu kampung (Kangen Band), ZIGAZ benar-benar beda. Dan perbedaan ini semoga bisamenjadikan ZIGAZ sukses menghancurkan trend musik melayu kampung di Indonesia.

Posted by: izmantoko | September 18, 2009

Alhirnya Kepala Dua

Akhirnya 20 tahun sudah saya hidup di dunia…!

Posted by: izmantoko | September 14, 2009

Kemahasiswaan Terpusat

Tadi malam, saya baru saja berdebat habis-habisan dengan seorang teman saya, mahasiswa salah satu Universitas swasta di Solo. Apa yang kami debatkan? Tentang kemahasiswaan terpusat di suatu universitas/institut.

Awalnya kami hanya ngobrol-ngobrol biasa, sampai dia menyinggung tentang NKK-BKK yang pernah terjadi di ITB. Dan dia mengatakannya seolah-olah dia tahu segalanya. Langsung saja saya terpancing dan kami berdebat cukup panas dibumbui emosi.

Dia berkata, seharusnya semua Perguruan Tinggi itu punya kemahasiswaan terpusat (dia menyebutnya BEM), sehingga kalau ada perintah atau isu-isu apa pun, massa kampus dapat bertindak dengan cepat. Tidak seperti tempatmu (ITB), kemahasiswaan terpusatnya tidak ada, sulit menanggapi isu-isu yang ada.

Langsung saya balas, apa yang dia ketahui tentang ITB? Dia hanya tahu dari kata orang-orang. Cuih! Apaan itu? informasi terdistorsi banyak. ITB ada kemahasiswaan terpusat, dan berjalan (meskipun tertatih). Keluarga Mahasiswa (KM-ITB) tetap menjadi kemahasiswaan terpusat, akan tetapi memang himpunan masih sangat kuat, diakibatkan efek NKK-BKK.

Himpunsn-himpunsn di ITB luar biasa, merea semi-otonom dari KM-ITB. Mengadakan event tidak perlu lapor-lapor, dll. Himpunan bisa mandiri, tidak bergantung pada kemahasiswaan terpusat. Ya saya tekankan bahwa ITB berbeda dengan Perguruan Tinggi Lain! 

Maaf kalau kata-kata saya sedikit arogan, namun ini saya lakukan untuk membela almamater saya.

Posted by: izmantoko | September 13, 2009

Cowok Metroseksual

Fenomenan ini akhir-akhir ini cukup sering dijumpai di masyarakat. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan cowok metroseksual?

Ya gampangnya, cowok metroseksual adalah cowok yang benar-benar memperhatikan penampilannya di mana pun dia berada. Ya hal kecilnya dengan memakai parfum, gel rambut, sisiran klimis, dll. Ekstrimnya cowok itu memakai hand body, sunblock, skin lightener, dll. Penampilan pakaian pun selalu disesuaikan dengan event-event, dan sebagian besar tampak sangat wah dan modis.

Lalu pertanyaannya, salahkah para cowok metroseksual ini dengan hal-hal yang dia lakukan seperti itu?

Posted by: izmantoko | August 25, 2009

Suka Ma Suka vs Pijat Atas Tekan Bawah

Entah kebetulan atau sengaja, akan tetapi kedua film Indonesia di atas sangatlah mirip plot ceritanya. Menurut saya, untuk suatu kebetulan, terlalu banyak hal yang sama. Plagiat? Jauh lebih memungkinkan. Menurut pengamatan saya, ada beberapa hal yang sangat mirip bahkan sama di kedua film tersebut.

1. Pada awal-awal film, sama-sama ada 2 orang pemuda tidak saling kenal yang mencegat taksi yang sama secara bersamaan, dan entah mengapa keduanya memiliki tujuan yang sama. (Teuku Wisnu, Rizky Aditya di SMS dan Saipul Jamil, Narji di PATB)

2. Di rumah tujuan mereka, ada seorang tante seksi yang menjadi tuan rumah (Sarah Sechan di SMS dan Kiki Fatmala di PATB).

3. Tante pemilik rumah sama-sama memiliki seorang keponakan seksi (Laudya Bella di SMS dan Pelia di PATB)

4. 2 pemuda tersebut sama-sama mengaku gay untuk bisa tinggal di rumah tersebut.

5. 2 pemuda tersebut sama-sama menyukai keponakan tante pemilik rumah

6. Keponakan tante pemilik rumah sama-sama jatuh cinta dengan seorang duda beranak satu yang menjadi rekan kerjanya (Coki Sitohang di SMS dan Wendy di PATB)

7. 2 pemuda sama-sama menghalangi keponakan tante untuk menikah dengan duda tersebut

8. Pada akhir cerita, kedua pemuda tersebut sama-sama meminta maaf di depan umum atas kesalahan mereka dalam menghalangi pernikahan keponakan tante dengan duda tersebut.

8 persamaan? Benar-benar suatu hal yang sangat-sangat ekstrim dalam 2 film yang berbeda. Ya mungkin dapat diambil kesimpulan, Film Indonesia masih gitu-gitu aja, belum ada inovasi baru.

Posted by: izmantoko | June 27, 2009

Mencongak

Pernah dengar kata-kata ini? Atau mungkin pernah melakukannya waktu SD?

Ya, mencongak memang suatu hal yang sering dilakukan pada saat saya SD dulu. Sebelum mulai pelajaran dan sesudah ngaji (saya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Solo), selalu diadakan tes mencongak.

Entah sekarang masih ada atau tidak, tapi mencongak sangatlah bermanfaat. Sekarang, saya bisa membayangkan sekian dikali sekian, dibagi sekian, ditambah sekian. Kalau dulu tidak dilatih dengan mencongak, mungkin tidak selancar sekarang. hahaha.

Adakah yang pernah mencongak juga?

Posted by: izmantoko | June 26, 2009

Ganteng vs Cakep

Apakah kedua kata di atas berarti sama? Ya, sering ada seseorang laki-laki yang disebut ganteng, ada juga yang disebut cakep. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kedua kata di atas:

gan·teng a elok dan gagah (tt perawakan dan wajah, khusus untuk laki-laki); tampan: ia sangat — lagi baik budi sehingga banyak orang yg menyenanginya

ca·kep ? cakap

ca·kap a 1 kl sanggup melakukan sesuatu; mampu; dapat: – engkau membunuh hulubalang itu?; patik tiada — bercerai dng dia; 2 pandai; mahir: anak itu belum — mengerjakan hitungan perkalian; 3 mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk mengerjakan sesuatu: ia diberhentikan dr jabatannya krn tidak –; 4 bagus rupanya; cantik; rupawan: gadis itu modern lagi –; 5 bagus; elok (potongan atau halus bahannya tt pakaian dsb): alangkah — nya baju itu; 6 patut; serasi: ia pantas dan — benar memakai baju itu; 7 Mk tangkas; cekatan (tidak lamban): tampaknya ia — bekerja;

Ternyata arti kedua kata tersebut mirip-mirip (definisi keempar untuk cakap). Tapi di Jawa, kedua kata yang mirip tersebut memiliki arti yang sama, namun aplikasi yang berbeda.

Ganteng, digunakan untuk mengatakan seseorang laki-laki hitam yang tampan. Sedangkan Cakep digunkan untuk menyatakan seseorang laki-laki berkulit putih yang tampan.

Rasis? Bisa iya, bisa tidak. Tinggal bagaimana cara kita memandangnya. Tapi saya sebagai seorang laki-laki yang berkulit hitam dan manis, saya bangga kok menyebut diri saya Ganteng. hehehe.

Posted by: izmantoko | June 24, 2009

Wali – Cari Jodoh

Ada yang pernah dengar lagu ini? Yang liriknya seperti ini,

Ibu-ibu, bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku

Aku yang sedang malu sama teman-temanku

Karena hanya diriku yang tak laku-laku

Pertanyaan dasar, deh. kenapa lirik seperti itu bisa dijual?

Puitis? Jelas tidak.

Romantis? Apalagi.

Idealis? Nggak ada sama sekali.

Kampungan? Iya, tepat sekali.

Bukannya saya menghina atau bagaimana, tapi kok bisa-bisanya lagu seperti itu diterima masyarakat Indonesia? Dari liriknya saja sudah seperti itu, ternyata lagunya sama saja, kemelayu-melayuan. Parah! Kangen Band style, lah. Ya, saya memang sedikit antipati dengan aliran melayu yang hanya mencari popularitas tanpa menunjukkan jati diri yang asli. Kenapa sih harus ngekor band yang sudah ngetop? Kenapa tidak bikin aliran baru?

Yah, sebab lain lagu itu sediterima itu di masyarakat, ya masyarakat Indonesia sendiri. Kuping mereka sudah sangat terbiasa dengan lagu dangdut, yang akibatnya ketika mendengar lagu semacam itu, kupingnya langsung nyetel. Bukan hal yang salah juga, sih. Pendapat dan selera musik tiap-tiap orang berbeda. Saya yakin, orang menengah ke bawah tidak doyan mendengarkan musik Jazz ataupun Classic. Begitu pula banyak orang menengah ke atas yang tidak bisa mendengar lagu melayu, dangdung, dll.

Hmm, dari sini saya menarik sebuah kesimpulan yang sangat ekstrim.

Lagu yang banyak diterima orang hingga dinyanyikan banyak orang (pria/wanita, tua/muda, besar/kecil) adalah lagu bergenre melayu yang kampungan, gampangan, namun easy listening.

Silakan berpendapat jika tidak setuju dengan pendapat saya.

Older Posts »

Categories