Family Time at Korea – Busan 2

Hari kedua di Korea. Menurut jadwal yang sudah saya rancang sebelumnya, hari ini kami akan mengunjungi Inje University, termasuk kamar saya di dorm dan lab saya. Karena jarak yang cukup jauh dari Pusan Hostel ke Inje University yang terletak di kota Gimhae, kami berangkat dari hostel pukul 9 pagi.

Perjalanan dimulai dari naik bus nomor 22 dari depan SK View menuju stasiun subway Kyungsung-Pukyong. Dari sana, kami menempuh perjalanan jauh melewati lebih dari 20 stasiun untuk mencapai Gupo Station. Belum selesai, masih ada 30 menit perjalanan naik bus 128-1 menuju ke gerbang Inje University langsung. Akhirnya sampailah kami ke kampus saya.

Tujuan pertama adalah kamar dorm. O iya, selama perjalanan kami membawa sebuah koper yang berisi bahan makanan dan pakaian oleh-oleh dari Indonesia. Cukup banyak barang-barang yang ada di situ mulai dari jaket, baju, kornet, bubur, jahe, dll. Begitu melihat kamar dorm, ekspresi mereka sama seperti melihat kamar kosan saya di Bandung dulu, berantakan. Wajar saja, soalnya sebelum berangkat menjemput mereka di bandara, saya belum sempat merapikan kamar. Ibu saya langsung merapikan barang-barang yang bertebaran di kasur dan meja belajar. Seluruh pakaian yang ada di koper dikeluarkan dan dimasukkan lemari, sedangkan makanan-makanan tetap ditinggal di dalam koper dan kopernya ditinggal di kamar saya. Padahal di kamar saya sudah ada koper yang cukup besar. Makin sempitlah kamar saya. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa, demi makanan-makanan yang dapat mengobati rasa kangen Indonesia.

Kemudian kami semua menuju ke gedung E tempat saya berkuliah. Niat awalnya kami ingin mengunjungi Prof. Choi. Sayangnya beliau sedang pergi ke Seoul dan tidak berada di tempat. Begitu pula ketika kami menuju ke lab, tidak ada mahasiswa Korea di sana. Hanya ada 3 orang mahasiswa Mongolia yang sedang asik dengan kegiatannya masing-masing. Saya mengenalkan keluarga saya kepada mereka.

Mumpung masih di Gimhae, saya ingin menunjukkan tempay-tempat yang sering saya kunjungi, termasuk sungai kecil di depan Homeplus dan Danau Yeonji. Sebelumnya, saya mengajak makan siang di rumah makan korea terlebh dahulu. Saya mengenalkan Bibimbap dan Kimbab kepada mereka. Tampaknya mereka menyukainya, meskipun porsinya sebenarnya cukup banyak, bukan merupakan porsi normal Indonesia. Usai makan, saya ajak mereka sholat sejenak di mushola TKI di sekitar tempat itu. Saya sempat bertemu dengan Mas Iwan, orang yang pernah mengantar saya ke masjid Pakistan tempat jumatan.

Sayangnya, seusai sholat hujan turun dengan lebatnya. Kami menerjang hujan untuk melihat dari luar King Suro Tomb dan berfoto sejenak di Hanok Village. Lepas dari tempat itu, kami sudah tidak kuat lagi berjalan di bawah derasnya air hujan. Kami pun memutuskan untuk membeli payung di sebuh toko. 7000 Won harga payung itu, sekali lagi jangan dibandingkan dengan harga payung di Indonesia. Kami hanya membeli satu payung saja karena bagi saya hujannya tidak begitu deras dan saya masih bisa berjalan di bawahnya. Ternyata hujan bertambah deras. Dengan terpaksa kami menunggu di depan toko itu.

300 Won untuk segelas kopi dan 600 won untuk 2 gelas coklat panas saya keluarkan dari dompet recehan saya. Enak juga duduk di depan toko, minum minuman hangat sambil menungu hujan reda. Dan di sinilah keajaiban terjadi ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami. Seorang pria turun dari mobil membawa sebuah benda hitam dan meletakkannya di atas meja. Dia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya dengar jelas (andaikata saya mendengar jelas pun saya tidak tahu apa artinya). Dia kemudian masuk ke mobil dan pergi. Ternyata benda yang ditinggalkannya adalah payung. Kami berpikir apakah dia menitipkan payung ini di sini atau memang memberikannya kepada kami. Setelah ditunggu cukup lama, orang itu tidak kembali lagi. Yakinlah kami bahwa dia memang memberikan payung tersebut kepada kami. Kami bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang.

Ingin saya menunjukkan sungai yang membeku, sayangnya karena hujan, air sungai itu mengalir dengan derasnya. Saya juga ingin menunjukkan Tomb Museum, sayangnya hari itu hari Senin dan museum itu tutup pada hari Senin. Jadilah kami memilih untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Sebelum kembali, kami sempatkan berjalan sejenak di Seomyeon, namun nampaknya tidak ada hal menarik di sana. Akhirnya belum pukul 6 sore, kami sudah kembali ke hostel untuk mempersiapkan esok hari.

Family Time at Korea – Busan 1

Yes, it’s family time!!! Inilah yang sudah saya tunggu-tunggu sejak minggu lalu. Hari minggu ini sampai 6 hari ke depan, orangtua dan adik saya berkunjung ke Korea. Saya mempersiapkan segalanya, mulai dari izin ke profesor sampai izin ke mentor di kantor. Alhamdulillah lancar. Jadilah minggu depan saya seminggu tidak ke kantor. Ditambah adanya libur Seollal (tahun baru Cina) dari senin-rabu, otomatis saya libur 10 hari. Hehehe.

Minggu pagi, saya berangkat ke Gimhae international airport, tentu saja bukan untuk pulang ke Indonesia, tapi menjemput keluarga. Saya menanti kira-kira 30 menit sampai akhirnya saya melihat seorang wanita berjilbab melintas di dalam ruang pengambilan bagasi. Siapa lagi kalau bukan ibu saya! Saya menanti lagi sampai seluruh barang diambil, dan keluargu saya pun keluar dari dalam ruang pengambilan bagasi. Senang sekai rasanya bertemu dengan mereka, kedua orangtua dan adik yang 4 bulan tidak bertemu. Saya mencium tangan orang tua dan menyalami adik. Kemudian kami menuju ke stasiun metro untuk naik Busan Gimhae Lightrail dan menuju ke Busan.

Rencananya keluarga saya akan menginap 2 malam di Busan dan 3 Malam di Seoul. Bukan di hotel, melainkan di guest house atau semacam hostel. Di Busan, kami menginap di pinggiran Busan, tepatnya di SK View, di sebuah kamar bernama Pusan Hostel. Untuk mencapai tempat itu, kami harus naik bus bernomor 22 atau 131 dari halte bus sekitar Kyungsung University. Pemilik tempat itu bernama Tiger (sepertinya ini nama gaul, bukan nama asli) dan Soojee. Tempat itu memang benar-benar hanya sebuah kamar di apartemen yang disewakan untuk umum. Kami menyewa kamar keluarga untuk 2 malam di sana. Tempatnya cukup nyaman bagi saya, meskipun nampaknya tempat itu lebih cocok untuk anak muda dibandingkan untuk keluarga. Tapi karena kamar ini hanya untuk beristirahat, jadi ya nyaman-nyaman saja berada di sini.

Hari pertama, kami menuju ke Shinsegae. Saya ingin menunjukkan pusat perbelanjaan terbesar di dunia yang kebetulan terletak di Busan. Seperti yang saya perkirakan sebelumnya, mereka semua mengeluarkan ekspresi yang sama ketika saya pertama kali ke Shinsegae, yaitu MAHAL! Memang tempat ini hanya cocok untuk orang asli Korea yang bekerja di Korea dan mendapatkan gaji standar Korea. Bagi orang Indonesia yang berjalan-jalan ke Korea, harga barang-barang di sini sangat amat mahal.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Gwangan. Saya ingin menunjukkan keindahan jembatan Gwangan saat malam hari. Sayangnya kami ke sana saat jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Sebenarnya kami ingin menunggu sampai lampu jembatan menyala. Tapi apa daya, nampaknya keluarga saya masih lelah setelah perjalanan 7 jam Jakarta-Incheon dan 1 jam Incheon-Gimhae. Jadilah kami hany berfoto di sana dan kembali ke hostel untuk beristirahat.

Mahasiswa TKI – Daily Activity

Saya menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis. Sedikit banyak bekerja telah menyita waktu saya. Bagaimana tidak, saya bekerja mulai pukul 8 pagi sampai 5 sore. Saya sendiri tiap hari berangkat naik bus umum, maka saya harus berangkat pukul 7 pagi dari dorm agar tidak terlambat. Untuk bangun tidur sendiri adalah pukul 6 pagi dan sholat subuh pukul 6 lewat 5 menit. Praktis hanya ada waktu 1 jam kurang untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat, termasuk sikat gigi, sarapan, ganti baju, dll. O iya, selama bekerja ini saya tidak mandi pagi (ini bukan aib kok, jadi saya bangga-bangga saja menceritakannya). Kenapa? Karena air panas di dorm belum menyala pada saat itu. Jadi daripada saya menggigil kedinginan gara-gara mandi air dingin, saya memilih untuk mandi pada malam hari dan cukup cuci muka dan sikat gigi pagi harinya.

Saya sampai kantor kira-kira 7.45. Saya masuk ke ruangan rapat untuk berganti jaket, dari jaket winter ke jaket kerja. Seperti apakah jaket kerja itu? Hanya sebuah jaket tipis berwarna krem muda dengan tulisan 택광실업(주) pada dada kiri. Jaket ini merupakan syarat wajib pakai jika mengambil makan siang, karena hanya orang yang mengenakan jaket saja yang akan mendapatkan makanan. Langsung saya mengambil laptop yang disimpan di ruangan mekanik dan meletakkannya di meja kerja.

Laptop saya adalah laptop kuno bermerk Samsung SensX15 yang masih enggunakan prosesor Intel Centrino dan VGA Intel on-chip. Bukan spesifikasinya yang penting, melainkan saya punya sesuatu untuk dikerjakan di sini, entah itu hanya browsing atau mengerjakan tugas menggunakan laptop ini.

Yang saya lakukan di sini setiap hari memang berkaitan dengan komputer, tepatnya programming. Satu-satunya hambatan saya adalah kurangnya pengalaman saya dalam bidang programming. Itu pula yang menyebabkan nilai Algoritma dan Struktur Data saat kuliah S1 mendapat BC. Dan seperti yang yang sudah saya tulis sebelumnya, jurusan saya di sini adalah computer science yang jelas membutuhkan kemampuan programming. Jadilah saya harus belajar lebih keras.

Ada 2 hal utama yang saya kerjakan di sini, Visual Basic dan Database. Visual Basic sudah pernah saya lakukan sejak SMA, meskipun saat kuliah saya lebih banyak menggunakan C dan MATLAB. Database lah masalah utamanya. Saya berkali-kali mendengar tentang Sql dan Oracle naun tidak pernah tahu apa itu. Baru kali inilah saya menghadapi Sql dan Oracle yang terintegrasi dengan Visual Basic dan terhubung dengan seluruh bagian di Taekwang. Sistem yang sangat besar untuk saya. Mission Impossible kah? Tidak, saya pasti bisa mengerjakannya.

Siang harinya seluruh pekerja di Taekwang, baik itu pekerja pabrik sampai pekerja kantoran, makan bersama di restoran khusus staf. Menu masakan di sini jauh lebih enak dibandingkan makanan di dorm. Kalau tidak salah baru sekali lauknya yang jelas-jelas daging babi, selebihnya adalah ikan atau ayam. Tidak lupa saya sholat dhuhur di ruang rapat setelah makan. Kemudian saya lanjut bekerja, sholat asar, dan pulang. Untuk sore harinya sendiri, kadang disediakan dinner, sehingga saya tidak perlu memasak nasi dan tuna di dorm.

Ini adalah pengalaman pertama saya bekerja, terlebih bidangnya merupakan bidang yang belum terlalu saya kuasai. Jadilah saya harus berusaha ekstra keras untuk dapat beradaptasi.

Salam Mahasiswa TKI!

 

Pelajar yang Menjadi TKI

Pada tulisan sebelumnya, saya sedikit menyinggung tentang mahasiswa Universitas Terbuka Korea, dimana anggotanya adalah para pekerja. Kali ini terbalik, ada pelajar yang menjadi pekerja. Lebih tepatnya terpaksa bekerja.

Saya adalah orang tersebut. Program beasiswa saya mewajibkan saya bekerja selama 6 bulan di perusahaan Korea. 6 bulan ini akan dibagi menjadi 3, sehingga saya akan bekerja 2 bulan tiap liburan semester. Dan entah mengapa perusahaan tempat saya bekerja sama sekali tidak berhubungan dengan bidang yang saya pelajari (image processing), nampaknya proses pemilihan perusahaan ini dilakukan secara acak.

Perusahaan tempat saya bekerja bernama Taekwang (T2). Perusahaan ini adalah produsen dari sepatu NIKE. Sistem kerjanya adalah NIKE Amerika melakukan riset tentang model dan teknologi terbaru yang dapat diterapkan pada sepatu, kemudian NIKE mengirimkan desain tersebut ke T2 untuk dibuat sampelnya. T2 sendiri tidak serta merta membuat sepatu setelah mendapatkan desain dari NIKE. T2 juga melakukan penelitian apakah desain tersebut dapat diterapkan atau tidak dan mengembalikan desainnya ke NIKE lagi. Proses ini berlangsung sampai dicapai kesepakatan atas desain yang akan diproduksi sampelnya.

Sampel yang dibuat tidak hanya sepasang sepatu saja, melainkan berbagai macam ukuran, baik itu untuk pria, wanita, maupun anak-anak. Mungkin untuk sebuah model, sampel yang dibuat mencapai 10-20 pasang sepatu. Proses terakhir setelah sampel yang dikirim disetujui oleh NIKE, maka NIKE akan memesan kepada T2 sejumlah sepatu untuk dikirim langsung ke negara tujuan, seperti Jepang, Meksiko, negara-negara eropa, dll. Di sini T2 mempunyai banyak pabrik di negara-negara lain yang disebut offshore. Negara tersebut adalah China dan Vietnam. Ke depannya, T2 berencana membuka pabrik baru di Subang, Indonesia.

Cukup cerita tentang sepatunya, sekarang kembali ke saya. Apa yang saya kerjakan di sini? Jadi pekerja pabrik kah? Atau malah angkat-angkat barang? Berhubung major saya di sini adalah computer science, saya ditempatkan di bagian IT. Jelas bukan bermain-main dengan image processing. Saya belajar database dan mereview visual basic lagi. Susah-susah gampang sebenarnya. Tinggal bagaimana mempelajarinya. Tapi karena saya terhitung sebagai mahasiswa magang, jadinya malah sering dianggurin. Alhasil masih sempet membuka sosial media sejenis facebook, twitter, dan menulis artikel ini. Hehehe.

Baru mau satu minggu saya bekerja di sini. Semoga ke depannya semakin jelas apa yang harus saya kerjakan. Amin.

Hut UT Korea Berbonus Salju

Korea Selatan seperti yang mungkin sudah ketahui banyak orang adalah negara 4 musim. Sebagai seorang warga negara tropis, saya belum pernah melihat apa itu salju, apalagi menyentuhnya dan bermain-main dengannya karena sampai saat ini dia belum turun di Gimhae.

Kebetulan, hari Sabtu lalu (31/12/11) ada acara Syukuran 1 Tahun Universitas Terbuka di Korea. Acara akan dilaksanakan di KAIST, Daejeon. Akan ada beberapa teman Perpika juga yang akan datang. Jadilah saya tertarik dan berangkat ke sana.

Sebelumnya, saya janjian dengan teman-teman alumni EL ITB angkatan 2006 yang berkuliah di KIT. Kami bertemu di Mushola An-Noor, Daejeon. Saya juga bertemu dengan Keke dan Haris (lagi) setelah sebelumnya bertemu di Seoul bulan November lalu. Setelah usai sholat magrib, kami semua berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu dan menikmati malam tahun baru di Daejeon.

Kami mulai berjalan dari mushola menuju ke Jungangno dan melihat suasana downtown lama. Di jalan itu ada banyak sekali orang yang berkumpul dan kebanyakan anak muda. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa papan dari kertas bertuliskan FREE HUG atau BACK HUG.

Eh ini seriusan free hug? *tiba-tiba otak mesum saya muncul. Untunglah saya masih sadar dan tidak menjadi liar untuk segera memeluk mereka satu per satu. Kami berjalan dengan tenang menyusuri jalan dan melihat apa-apa yang mereka lakukan. Sungguh mengherankan, kenapa mereka memberikan free hug? Mungkin hanya sebagai tanda persahabatan. Namun tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang mesum yang memang niatnya memeluk saja. Tapi ya sudahlah, biarkan mereka melakukan hal  tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan ke downtown baru dengan niat awal untuk melihat lebih banyak orang yang ingin merayakan tahun baru. Namun ternyata, hampir tidak ada orang di sana. Saya tidak tahu bagaimana keadaan sehari-hari di tempat itu, namun jelas ini bukan suasana malam tahun baru yang kami harapkan. Alhasil kami hanya berjalan-jalan saja dan tempat tujuan terakhirnya adalah Noraebang alias karaokean.

Dalam perjalanan kami kembali lagi ke mushola, kami melewati downtown lama lagi. Saat itu 5 menit menjelang pukul 00.00. Ada apa di sana? Ada banyak orang, namun sama sekali tidak ada kembang api dan hitungan mundur secara bersama-sama. Kami merayakan malam tahun baru di Daejeon, tepatnya di garingnya downtown Daejeon. Kembalilah kami ke mushola untuk beristirahat.

Keesokan harinya, seperti kebiasaan ketika saya menginap di mushola, kami diberi sarapan setelah selesai sholat subuh. Memang tidak wah, namun kebaikan hati para pengurus mushola sangat pantas untuk dipuji. Mereka memberi sarapan kepada kami, pemuda-pemuda yang berasal dari antah berantah yang tidak dikenalnya. Mungkin inilah yang disebut persaudaraan sesungguhnya. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9.30, saatnya kami beranjak menuju KAIST.

Perjalanan ke KAIST ditempuh menggunakan subway line 1 Daejeon. Sampai di stasiun subway Wolpyeong (KAIST), kami disambut oleh hujan salju yang tipis. Ya, ini adalah pertama kalinya saya melihat salju dan hujan salju. Sebenarnya kami ingin naik taksi dari stasiun ke KAIST, namun kami memilih untuk berjalan sambil menikmati salju. Kami menyusuri jalan dan akhirnya harus menyeberangi sebuah sungai. Ada beberapa bagian dari sungai itu yang membeku. Kami lanjutkan perjalanan dan bertemu sungai kedua. Bedanya, sungai ini beku total.

Teman-teman awalnya ragu apakah sungai ini aman untuk dilewati. Berhubung saya sangat bersemangat karena melihat salju, saya menjadi tester untuk mencoba permukaan sungai ini. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan akhirnya saya berada di tengah sungai. Aman, sungai ini beku total. Mereka semua pun ikut turun dan mengabadikan momen tersebut. Meskipun es di permukaan sungai tidak begitu tebal, namun saya masih bisa melempar es tersebut ke arah teman-teman. Wah, seru juga perang salju ternyata.

Puas bermain, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai ke gedung E11. Kami disambut mahasiswa-mahasiswa Universitas Terbuka yang menjadi panitia acara tersebut. Kami masuk ke sebuah aula dan duduk manis mengikuti acara. Dari acara itu saya dapat melihat bahwa para mahasiswa UT, yang kebanyakan pekerja, merupakan orang-orang yang hebat. Mereka bekerja Senin-Jumat ata bahkan Senin-Sabtu dan hari Minggunya mereka berkuliah, baik itu secara online maupun bertatap muka langsung. Salut, mungkin itu kata-kata yang tepat ditujukan kepada mereka.

Rangkaian acara satu per satu berlalu, dan sayangnya kami harus pulang sebelum acara selesai karena kereta Mugunghwa yang kami naiki akan berangkat pukul 5. Di tengah istirahat sholat asar, kami memohon izin untuk pulang terlebih dahulu kepada Mas Boy, Presiden Perpika, dan beliau mengizinkan kami pulang duluan dengan memberikan beberapa wejangan sebelumnya.

Kami berenam ditambah Mas Boy dan teman-teman pengurus Perpika yang lain keluar dari gedung dan tertegun melihat putihnya pemandangan. Salju sudah menumpuk tebal, menghampar sepanjang mata memandang.  Kami semua tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Foto-foto merupakan hal yang wajib, begitu pula bermain lempar salju. Ini impian yang menjadi kenyataan. Selama ini saya hanya melihat salju dari TV dan membayangkan bagaimana rasanya. Namun sekarang saya sudah menyentuh dan memainkannya dengan tangan ini. Semoga yang belum pernah dan masih memimpikan bermain salju dapat segara merasakannya. Amin

Mereview 2011

Welcome 2012!

Akhirnya satu tahun perjalanan tahun 2011 telah usai. Banyak hal yang terjadi sepanjang 2011, dan banyak di antaranya yang sangat berkesan.

  • Menjadi ketua Elektron HME-ITB: Ketika saya masih menjadi senator, terjadi suksesi kepengurusan Elektron, sebuah badan semi-otonom di bawah Himpunan Mahasiswa Elektroteknik yang bergerak dalam bidang majalah. Sudah saya katakan bahwa saya tidak bisa menjadi ketua karena saya tidak boleh merangkapp jabatan sebagai senator dan ketua Elektron, akan tetapi setelah musyawarah anggota, akhirnya saya menjadi ketua Elektron HME-ITB.
  • Turun dari jabatan Senator HME-ITB: Tepat 1 tahun sejak saya menjadi bagian Kongres KM-ITB 2010/2011 dan 14 bulan sejak saya dilantik menjadi senator, akhirnya usai sudah tugas saya. Banyak hal yang didapatkan selama berkecimpung di kemahasiswaan terpusat, bukan hanya rapat malam, diskusi, dll., tetapi juga sahabat-sahabat baru.
  • Rangkaian Tugas Akhir: Tugas akhir saya sebenarnya sudah diinisiasi sejak akhir 2010, namun baru pada awal 2011 saya mulai semangat mengerjakannya. Tidur di lab, berkunjung ke SITH, bolak-balik setting alat, ditambah beban kuliah s2 yang berat membuat pengerjaan TA saya makin lengkap. Untung saya tidak sendiri, ada sahabat saya yang selalu memberikan semangat untuk berjuang bersama.
  • Menjadi seorang jomblo (lagi): Di sela-sela pengerjaan TA, saya putus dengan pacar saya. Kenapa? Ya adalah suatu alasan yang tidak perlu diungkapkan. Yang jelas saya telah kembali menjadi seorang jomblo, hingga saat ini.
  • Wisuda Juli: Akhirnya saya mengalami acara malam dan acara siang wisudaan HME-ITB yang selama ini saya ikuti sebagai pengisi acara dan orang yang mengarak. Acara malam yang dilaksanakan di Arum Manis Cihampelas bagi saya merupakan acara yang wah. Saya nampil bersama band 2006 dan tentu saja bersama band 2007. Lebih wah lagi, saya menyanyikan lagu GIGI dan bergaya seperti vokalisnya, lengkap dengan dasi merahnya. Malam ini bertambah indah ketika saya mendapatkan award wisudawan teridola. *Nampaknya para pengisi polling salah mendeskripsikan teridola sebagai wisudawan yang paling mengidolakan seseorang, bukannya si wisudawan yang teridola. Hehehe
  • Kebimbangan antara Fast Track dan Korea: Seusasi lulus, saya mengikuti fast track ITB dan sudah mulai kuliah. Di tengah-tengah berkuliah, datanglah surat pengumuman bahwa saya diterima berkuliah di Inje Univetsity, Korea. Mulailah kebimbangan itu dimulai. Pertimbangan berbagai macam faktor bermunculan di kepala saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berkuliah di Korea.
  • s2 di Korea: 31 Agustus 2011 adalah hari keberangkatan saya ke Korea. Keluarga saya menemani saya dalam perjalanan Solo-Jakarta, kemudian saya melanjutkan perjalanan Jakarta-Incheon dan Incheon-Busan seorang diri. Sampailah saya di Korea dengan selamat dan sentausa.
  • Menonton Konser KPOP untuk pertama kali: Sudah jelas saya di Korea tidak akan berada di lab terus-terusan. Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah jalan-jalan, termasuk perjalanan ke Daegu untuk menonton Asia Song Festival 2011 di Stadion Daegu. Ini adalah pertama kalinya saya melihat konser yang bukan konser band, ditambah lagi ini di Korea.
  • Tampil di panggung internasional pertama kali: Menjadi pelajar S2 bukan berarti mengesampingkan hobi dan passion saya dalam bermusik. Ketika ada kesempatan, maka saya pun nampil di sebuah event internasional di Busan.
  • Menjadi pembicara di Korea Multimedia Society 2011: Ini baru pelajar s2 sesungguhnya, mngikuti seminar. Tidak hanya ikut, namun juga menjadi pembicara di salah satu sesi.

The Only Indonesian

Ya, satu-satunya orang Indonesia di sini, di jurusan ini, di kampus ini. Lebih jauh, sejauh ini aya adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia di kota ini. Lalu kenapa?

Sebagai satu-satunya orang Indonesia, artinya saya membawa nama Indonesia. Jika para atlet bertanding membawa nama Indonesia di dunia olahraga untuk mendapatkan kemenangan atau medali, saya di sini membawa Indonesia lebih untuk menjaga nama baiknya. Saya representasi Indonesia. Setiap apa yang saya lakukan selalu dikaitkan dengan Indonesia secara keseluruhan. Padahal apa sih saya? Hanya seorang warga Indonesia dari 200.000.000 warga negara Indonesia. Artinya saya hanya 0,0000005% dari Indonesia.

Setiap saya sholat di lab, orang-orang bertanya apakah seluruh orang Indonesia sholat seperti saya? Apakah semuanya Muslim?

  • Saat saya tidak makan siang karena semua menunya mengandung babi, mereka bertanya apakah seluruh orang Indonesia tidak makan babi? Begitu pula ketika saya menolak minum alkohol berwujud bir atau soju.
  • Ketika saya menjelaskan sesuatu dengan bahasa Inggris, mereka bertanya apakah semua orang Indonesia dapat berbahasa Inggris dengan lancar seperti saya?
  • Ketika saya bercerita bagaimana perjalanan pendidikan saya sejak SD sampai kuliah, mereka bertanya apakah semua orang Indonesia jenius seperti saya (ini pun saya tidak tahu kenapa sya bisa dikatakan jenius)?

Untunglah mereka bertanya, sehingga saya bisa menjelaskan bahwa tidak semua warga Indonesia sama seperti saya. Saya pun perlu menjelaskan bahwa penduduk Indonesia sangat banyak, sulit untuk menggeneralisir semuanya. Namun yang saya takutkan adalah ketika mereka tidak bertanya dan saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Kalau-kalau saya melakukan hal yang salah atau kebodohan yang tidak jelas, mereka mungkin akan langsung berpikir bahwa semua warga Indonesia bodoh.

Lalu apa solusinya? Sebisa mungkin saya menjaga sikap, perbuatan, dan perkataan selama di sini. Mencoba untuk mengaplikasikan apa yang biasa orang Indonesia lakukan, seperti senyum, rendah hati, senang membantu, dll. Saya memposisikan diri saya sebagai representasi Indonesia, khususnya di mata civitas akademika kampus Inje University, dan umumnya di seluruh Gimhae.

4 bulan saya sudah di sini, alhamdulillah sampai sekarang saya tidak aneh-aneh. semoga tidak aneh-aneh pula apa yang ada di kepala orang-orang.

Dijamu Makan Malam di Rumah Profesor

Saya mulai postingan kali ini dengan sebuah fakta,

Selama 4 tahun saya berkuliah di ITB, tidak pernah saya sekalipun diajak makan malam di rumah dosen. Sedangkan 4 bulan di sini, saya sudah diundang makan malam di rumah profesor lab saya.

Bukan bermaksud membandingkan, tapi memang beginilah adanya. Saya kroscek ke teman-teman saya, ternyata tidak semua mahasiswa merasakan hal yang sama. Mungkin saya saja yang kurang beruntung karena belum merasakan hal ini di Indonesia.

Kemarin, saya dan teman-teman lab diundang ke rumah Prof Choi untuk makan malam. Saya tanya ke teman apakah hari ini profesor berulang tahun, ternyata tidak. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan beliau setahun sekali. Penasaran dengan apa yang akan saya dapatkan nanti, kami semua berangkat ke rumah beliau yang terletak di Dongnae, Busan, 21mk dari Inje University.

Sesampainya di sana, kami menuju kamar beliau di apartemen 104 lantai 23. Begitu kami datang, kami disambut beliau dan istrinya. Istri beliau nampak masih muda dan cantik, mungkin seumuran Kim Min Sook yang di My Girlfriend is Gumiho. Kami duduk dan menanti rombongan lain datang.

Akhirnya kami lengkap dan duduk di meja makan. Secara bertubi-tubi makanan datang, mulai dari nachos, spaghetti bolognaise, spaghetti seafood mayo, salad, croissant, roti keju, sampai garlic bread. Teman-teman saya memang sangat mengerti saya, mereka bertanya mana di antara makanan tersebut yang mengandung babi. Untungnya hanya spaghetti seafood mayo dan nachos yang tidak bisa saya makan, selain itu bisa semua. O iya, untuk minumnya, semua orang minum wine yang nampaknya mahal. Saya sendiri cukup meminum Coca Cola.

Tak terasa makanan sebanyak itu habis juga, perut pun kenyang. Saya pikir kami akan segera pulang, ternyata salah. Dimulailah sesi ngobrol-ngobrol. Sebagian besar mereka mengobrol dengan bahasa Korea yang hanya bisa saya tangkap sepintas. Namun sesekali mereka juga ngobrol dengan bahasa inggris sehingga saya dan 2 orang Mongolia yang ada di situ bisa paham. Obrolan mengalir seperti air, mulai dari menceritakan hometown, hobi, sampai pacar dan istri. Begitu juga profesor saya dan istrinya yang saling menceritakan kenangan mereka sejak bertemu sampai punya anak. Saya sendiri hanya tertawa sok tahu (padahal tidak paham). Ada juga kalanya saya diminta bermain gitar dan bernyanyi. Teman saya meminta lagu ‘a Whole New World’ Aladdin, dan saya pun bernyanyi, diakhiri dengan tepuk tangan mereka semua.

Masih belum selesai, makanan penutup adalah buah-buahan dan cheesecake ditambah cokelat. Habiskah semuanya? Habis! gila juga orang-orang ini. Saking enaknya ngobrol dan makan, akhirnya kami baru pulang dari rumah profesor pukul 10 lebih. Masih ada beberapa transportasi yang harus dinaiki sebelum sampai kampus lagi. Dan benar saja, karena terlalu larut, kami kehabisan bus dan harus berjalan dari stasiun ke kampus yang memakan waktu 30menitan.

Lelah? Sangat. Kenyang? Iya. Senang? Tentu. Sangat menyenangkan bisa kumpul bersama selab seperti ini, makan besar, dan ngobrol secara kekeluargaan. Kalau ini berlangsung di Indonesia, mungkin saya akan jauh lebih menikmati acara kumpul seperti ini karena bisa mengikuti pembicaraan dengan lebih baik.

Pindahan Dorm

Ceritanya masa semester fall ini sudah selesai dan sekarang memasuki winter vacation. Ada kebijakan di sini, dorm saya, Global Town, akan ditutup selama winter vacation. Lalu saya tinggal dimana? Sudah terbayang di otak saya apabila saya harus tinggal di mushola gimhae bersama para pekerja bila memang tidak ada dorm yang dibuka. Untunglah ada dorm lain yang dibuka, dorm ini bernama Bio-tech Village. Kenapa dinamakan Bio-tech? Karena bidang utama yang dikembangkan di Inje University adalah hal-hal yang berhubungan dengan biology dan medical.

Jadi, terhitung sejak Sabtu lalu, saya resmi ‘diusir’ dari Global Town. Barang-barang yang saya miliki ternyata lumayan banyak, terdiri dari satu koper besar, satu tas ukuran sedang, satu tas ransel, satu box karton, dan satu buah kantong plastik, plus bantal. Karena banyak, saya cicil menitipkan barang-barang tersebut di lab sejak hari Kamisnya karena Sabtu saya ada ujian, sehingga saya berpikir akan ribet jika saya masih memikirkan barang-barang ini.

Ujian Digital Image Processing ini selesai, saya dan teman-teman lab menonton film, makan malam, dan karaokean (ada di artikel berjudul Mission Impossible). Seusai karaokean, saya diajak Kyung Min dan Byeong Jin untuk mencoba bermain game online di PC Bank depan kampus. Jadilah kami bermain di sana sampai pukul 11. Setelah itu, saya sudah niat untuk menginap semalam di lab, karena baru diperbolehkan masuk dorm baru hari Minggunya. Untunglah ada teman lain yang bernama Ho Seong menawarkan agar saya menginap di rumahnya. Berangkatlah kami berdua ke rumahnya.

Kamar Ho Seong sama seperti kamar saya di Bandung, berantakan parah. Kami berdua beres-beres dulu sebelum tidur. Setelah beres-beres, dia pamer video musik yang dia rekam bersama bandnya yang bernama Black Knight. Saya tidak mau kalah, saya pamerkan video saya pas nampil di wisudaan April HME. Hehehe.

Keesokan paginya Ho Seong terbangun karena saya bangun untuk sholat subuh. Setelah bangun, dia menyalakan komputer dan mempersilakan saya menggunakannya. Lalu, Ho Seong memasak Ttopokki untuk sarapan. Wih, baik banget udah dikasih tempat nginep, dikasih sarapan pula.

Pukul 10.30, saya kembali ke lab untuk mencuci muka dan sikat gigi. Untung di sana ada Byeong Jin. Saya ajak dia untuk check in di dorm baru. Setelah mengurus administrasi dan mendapatkan kartu dorm baru, saya menuju kamar. Berbeda dengan Global Town, dorm ini jauh lebih bsar. Ada 11 lantai dan untungnya ada lift. Tidak terbayang kalau seperti Global Town yang murni tangga semuanya dan harus membawa barang ke lantai 11.

Kamar saya ada di lantai 4, tepatnya nomor 6405. Saya sekamar dengan anak Korea yang bernama Jeong Hwan, sayangnya dia tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah kami diam-diaman selama di kamar. Kamar saya lebih sempit dari kamar di dorm lama, namun kamar ini memiliki kamar mandi dalam dan pemanas ruangan yang dikendalikan sendiri, bukan dari pusat. Untuk lainnya, hampir sama seperti kamar lama.

Dorm ini juga ada mesin cuci dan pengering seperti dorm lama. Ada juga Family Mart, semacam convenience store, di basement. Mungkin ini bisa membuat saya makin boros ke depannya. Namun yang paling menarik adalah gym yang terletak di dalam gedung, tidak di luar gedung seperti dorm lama. Ya semoga saya dapat memanfaatkannya dengan baik.

Workshop Membuat Kimchi

Mari kita kembali ke artikel santai tentang hidup di Korea. Jadi kemarin ceritanya saya mendapat sms dari graduate school officer, namanya Kim Hee Kyu. Intinya akan ada workshop membuat kimchi yang dilaksanakan hari ini pukul 10AM di kantin Inje Global Town (dorm saya yang lama).

Awalnya saya berpikir karena yang mengundang adalah petugas TU graduate school yang mengurusi mahasiswa internasional, akan ada banyak mahasiswa internasional lain yang diundang. Ternyata setelah saya tanya beberapa mahasiswa internasional lain, mereka tidak disms. Baiklah, karena memang saya disms personal, ya sudah saya datang.

Pagi ini saya berangkat lebih awal dan menaruh tas di lab. Saya mendaki jalan menuju dorm saya yang lama ditemani hembusan angin pagi yang luar biasa dinginnya. Sepanjang jalan saya mencari wajah-wajah mahasiswa internasional, ternyata memang tidak ada. Ok, saya membawa nama Indonesia dan mahasiswa internasional sendirian. Begitu saya masuk kantin, saya melihat begitu banyak mahasiswa Korea di situ. Mereka mengenakan pakaian dapur yang terdiri dari jaket plastik, celemek (ini entah benar atau tidak bahasa Indonesianya), dan sarung tangan. Tidak lupa mereka mengenakan topi Santa Klaus merah dengan bola putih di ujungnya. Lucu juga ini ada sinterklas bikin kimchi. Nampaknya memang event ini disesuaikan dengan acara-acara menuju natal.

Saya mendaftarkan diri dan mendapatkan hal yang sama seperti yang lainnya. Sepertinya ini pertama kali saya memakai pakaian seperti ini. Di tengah ruangan, banyak sawi putih sudah disiapkan bersama dengan sambal gochujang dan lobak yang sudah menjadi kimchi. Saya melihat sekeliling, anak Korea semua. Saya paling hitam dan paling brewokan. hehehe. Ketika orang yang mengurus acara ini memanggil, saya hanya mengikuti mahasiswa lain untuk mengetahu apa yang harus dilakukan.

Kami semua berdiri menghadap sawi putih dan gochujang. Sebelumnya, ahjumma penjaga kantin memberikan contoh bagaimana cara mengoleskan gochujang ke sawi putih itu. Setelah dia selesai mencontohkan, dia melihat sepintas ke arah saya. Nampaknya ahjumma ini sudah hafal dengan saya, satu-satunya mahasiswa yang tidak makan daging babi di situ. Dia tersenyum, saya juga tersenyum.

Saya berdiri di meja ketiga dari de[an,  siap membuat kimchi. Sebelumnya saya mencoba membuka pembicaraan dengan teman sebelah saya, untungnya dia lumayan bisa berbahasa inggris. Nama Koreanya saya lupa, tapi nama inggrisnya Lucas. Saya meminta tolong dia menjelaskan apa yang perlu dilakukan. Namun tidak lama kemudian, saya dipanggil oleh salah seorang laki-laki untuk maju ke baris paling depan. Ya saya sih ngikut saja. Ternyata di depan sudah ada 2 orang cewek Korea. Awalnya saya berdiri di paling ujung, disamping kedua cewek tersebut, namun si petugas meminta saya berpindah ke tengah cewek-cewek itu. Ya saya tambah ok-ok saja, orang ceweknya lumayan cantik. hehehe.

Tak lama, datanglah rombongan yang nampaknya orang penting. Benar, dia adalah Presiden Inje University. Mungkin di Indonesia setingkat rektor. Beliau datang dengan istri dan beberapa stafnya. Begitu beliau selesai mengenakan pakaian yang sama seperti saya, mulailah kami membuat kimchi.

Saya ambil satu sawi, saya oleskan gochujang ke atasnya. Awalnya pelan-pelan, lembar per lembar. Tapi lama kelamaan bosan juga. Akhirnya saya mengoleskan gochujang dengan sedikit brutal dan cepat. Alhasil hasil kimchi saya masih perlu ditambah gochujang oleh ahjumma gara-gara kurang rata. Mungkin ada sekitar 10-15 sawi yang saya olesi gochujang. Cukup gampang ternyata membuat kimchi, cukup bermodal sawi putih dan gochujang.

Di tengah-tengah bekerja, saya mencoba mengobrol dengan kedua cewek (ok, kurang enak pakai cewek. Kita ganti menjadi gadis) Korea. Gadis pertama bernama Eun Sul dan yang kedua bernama Mi Ni. Nampaknya mereka tidak begitu paham berbahasa Inggris. Jadilah mereka Konglish (Korean English). Saya sendiri meskipun lancar berbahas Inggris, tetap saja Javanese English karena medoknya masih terlalu kuat. Kami bercaka-cakap tentang jurusan, asal negara, winter plan, dll. Eun Sul bertanya kepada saya apakah saya menyukai kimchi. Meskipun saya tidak terlalu suka, untuk menjaga perasaan warga Korea, saya menjawab iya.

Kemudian dia memanggil ahjumma dan mengatakan bahwa kimichinya enak. Dia meminta saya melakukan hal yang sama.

Saya: Ahjumma

Ahjumma: (2 orang ahjumma memandang ke arah saya) Ne?

Saya: Kimchireul massiseoyo!!

Kedua ahjumma tersebut tersenyum setelah saya mengatakan kimchinya enak. Lumayan lah, semoga dapat pahala karena menyenangkan perasaan orang lain. Eun Sul dan Mi Ni berkali-kali memakan kulit-kulit sawi yang terlepas. Buset, doyan bener kedua orang ini makan kimchi tanpa nasi. Mereka juga berkali-kali suap-suapan kimchi di depan saya (karena saya posisinya di tengah mereka, otomatis tangan mereka melintang di depan saya). Saya hanya tersenyum melihatnya. Sampai suatu ketika Mi Ni mengambil daun sawi yang terlepas, menggulungnya, dan menyodorkannya ke saya. Meskipun saya yakin rasanya bakal tidak enak, siapa sih yang menolak disuapin sama cewek Korea apalagi ceweknya manis? Hahaha. Jadilah saya memakan kimchi saja tanpa nasi dan berusaha sekuat mungkin untuk menelannya.

Selesai membuat kimchi, kami semua berfoto dengan kimchi-kimchi yang sudah diolah. Saya awalnya ingin berdiri di belakang saja. Namun kali ini giliran petugas wanita yang meminta saya untuk berdiri paling depan. Mungkin ingin menunjukkan adanya mahasiswa internasional yang ikut workshop ini. Jadilah saya berdiri di baris pertama, tepat di samping staf dari Pak presiden Inje.

Berikutnya adalah makan siang. Agak sedih juga katanya lauknya pork. Tapi ternyata ada ikan juga. Saya pun memakan nasi, ikan, dan sayur sawi saja. Lucas baru tahu kalau ternyata saya tidak makan babi, namun akhirnya dia paham kalau muslim memang tidak makan babi. Beres, saatnya pulang. Saat pulang tidak ada hal yang menarik, kami mendapatkan ramyun rasa kimchi (buset, hari ini kimchi-kimchian terus) dan saya pun kembali ke lab untuk langsung menulis artikel ini. Saya hanya berharap nanti ada foto saya yang muncul di majalah bulanan Inje untuk bulan Januari. Amin.

Terakhir, buat referensi kalau mau foto-foto gaya Korea, katakan KIMCHI sebagai pengganti CHEESE. Dan sebagai ganti SATU, DUA, TIGA, katakan HANA, TUL, SET! KIMCHI…!

tambahan, ternyata acara ini masuk ke website Inje dan ada nama saya di sana.

사랑의 김장나누기 행사에 참가한 정유라 (언론정치학부 3년 23세)씨는“연말연시를 맞아 불우한 이웃을 위한 사랑과 정성을 김치에 담아 선물하겠다.”며 참가소감을 밝혔으며, 인니 반둥공대에서 유학 온 요니 셉티안 이즈만토코(Yonny Septian Izmantoko)씨와 네팔 트리부반대학에서 유학 온 카렐 로크 나트 (Kharel Lok Nath)씨는“한국에서 처음 김치를 담아 보는데 잊을 수 없는 추억이 될 것 같다”며 즐거워했다.

Ada fotonya juga,