Posted by: izmantoko | November 7, 2008

Mahasiswa, Tawuran, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Sempatkah Anda melihat berita TV akhir-akhir ini? Atau mungkin sekedar membaca berita di surat kabar? Berita apakah yang sedang ‘hot’? Eksekusi Amrozi dkk., Syeikh Puji yang menikahi anak 12 tahun, atau harga minyak dunia yang sedang turun?

Dari banyaknya berita, saya menggarisbawahi pada satu masalah, Tawuran mahasiswa. Sadarkah Kita, bahwa harga diri kita sebagai mahasiswa yang sering disebut sebagai ‘agen perubahan’ sedang terinjak-injak?

Ya. Pandangan masyarakat terhadap mahasiswa sudah mulai berubah. Bukan lagi sebagai agen perubahan, namun menjadi ‘agen perusak’. Meskipun demikian, mahasiswa yang terlibat tawuran itu telah mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara mereka sendiri.

1. Pendidikan. Mereka belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan cepat dan mudah. Kesimpulan mereka hanya satu. “Hajar, Bos!!!”

2. Penelitian. Penelitian dilakukan setelah pendidikan. Karena mereka telah menemukan metode termudah penyelesaian masalah adalah tawuran, mereka pun mulai meneliti bagaimana metode terbaik untuk “menghajar” lawan mereka agar masalah cepat selesai.

3. Pengabdian Masyarakat. Mereka secara tidak sadar telah melakukan pengabdian pada masyarakat. Hal itu terlihat dari kebersamaan yang tercipta pada masyarakat. Mereka sama-sama takut, dan sama-sama kabur ketika tawuran terjadi. Hal yang menciptakan persatuan pada masyarakat.

So, bagaimana pendapat Anda semua?


Responses

  1. Geblek ah jon.. masak tri dharma kayak gitu -_-a
    Memprihatinkan, namanya mahasiswa mestinya punya kemampuan intelektual di atas masyarakat pada umumnya, tapi kok malah berlaku barbar begini? ckckck

  2. Wong gemblung…
    Edan..

    -Eh, link-ku salah! ‘r’-e siji thok, nek ‘r’-e loro, berarti kowe mbuka sing aneh-aneh :lol:

  3. atikelnya menarik,numpang baca ya?


Leave a response

Your response:

Categories