Posted by: izmantoko | October 19, 2009

Miyabi vs FPI-LPI

Sabtu, 10 Oktober 2009. Saya melihat berita di tv pada pagi hari. Salah satu berita utamanya adalah penolaka kedatangan bintang porno Jepang, Maria Ozawa atau yang lebih terkenal sebagai Miyabi, oleh Laskar Pembela Islam (LPI) dan Front Pembela Islam (FPI). Jujur saja, saya tertawa melihat berita itu. Hahaha!

Begini, saya menggarisbawahi satu hal, LPI dan FPI menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia karena dia dianggap sebagai bintang porno yang merusak moral bangsa. Ok, mungkin dia memang bintang porno, tapi apa tujuan dia ke Indonesia  bukanlah untuk membintangi suatu film porno, melainkan film komedi. Jadi, apa alasan penolakan  itu?

Mereka mengatakan Miyabi merusak moral bangsa. Ya, memang Miyabi bintang film porno impor dari Jepang, tapi jangan lupa bahwa Indonesia juga punya banyak stok biintang porno yang bersliweran di iinternet. Tidak percaya, silakan googling apapun tentang porno dan Indonesia, pasti banyak situs yang berisi film porno asal Indonesia. Jadi, apakah Cuma Miyabi yang merusak moral bangsa dengan film-filmnya? Orang Indonesia pun memiliki andil besar, bahkan sejak zaman film-film hantu porno Suzanna dkk yang pasti sudah ada sebelum Miyabi lahir. Kenapa mereka tidak mengurus bintang-bintang porno asal Indonesia yang dekat dan terjangkau dan lebih memilih Miyabi yang berasal dari Jepang? Pakah karena Miyabi lebih terkenal? Atau karena filmnya lebih hot? Jelas, LPI dan FPI jelas mencari-cari alasan yang tidak masuk akal untuk menolak Miyabi karena tidak bisa menolak artis dalam negeri. Ya, mereka sedikit mengiingkari fakta yang ada bahwa Indonesia memang sudah rusak moralnya, bahkan sebelum ada Miyabi.

Melanjutkan masalah moral, apakah hanya film porno yang merusak moral bangsa? Bagaimana dengan music underground dan dangdut yang membuat para pendengarnya kesetanan dan berbuat anarkis, pengangguran di mana-mana yang membuat banyaknya kejahatan, bahkan moral pengebom pun dibentuk (dibrainwash), bukan berasal murni dari bangsa Indonesia.

Jadi, sekali lagi, wajarkah penolakan kedatangan artis porno luar negeri yang tidak bertujuan membuat film porno untuk berkunjung ke Indonesia ketika masalah kepornoan dalam negeri sendiri belum bisa diatasi?

(Ini hanya sebuah pendapat, mohon jangan ditanggapi secara emosi berlebih.)


Responses

  1. kowe biasane tukang ndonloti kobep yo??
    tobat le tobat.. :p


Leave a response

Your response:

Categories