Awal Ramadhan di Korea

Selama bulan Ramadhan ini, cerita-cerita saya akan sedikit atau banyak berkaitan dengan kehidupan selama bulan ini di Korea. Seperti yang kita tahu, terjadi perbedaan pendapat tentang penetapan kapan 1 Ramadhan. Ada yang berpendapat Jumat, ada pula yang berpendapat Sabtu. Kedua pendapat pasti memiliki argumen yang sama kuat sehingga orang-orang ada yang mengawali puasa pada hari yang berbeda. Ternyata penetapan 1 Ramadhan yang baru dipastikan pada Kamis malam ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Korea Selatan. KMF (Korea Muslim Federation) – MUInya Korea- pun baru menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu pada kamis malam. Meskipun demikian, sebagai umat beragama kita tetap harus saling menghormati pendapat orang yang memulai puasanya pada hari Jumat.

Saya menjalankan terawih malam pertama di asrama karena khawatir di masjid belum ada jamaah sholat terawih. Barulah pada malam kedua saya menuju ke Masjid Al-Hidayah yang terletak 750m dari tempat saya magang. Saya berangkat ke sana bersama mahasiswa-mahasiswa Malaysia yang baru 1 bulan berada di kampus saya untuk pertukaran pelajar selama 2 bulan. Di Korea, tepatnya di Gimhae, azan Isya baru berkumandang pukul 9.15, sudah malam. Kami semua berjamaah sholat Isya pada pukul 9.30 dan langsung dilanjutkan terawih dari pukul 9.45 sampai 10.20 malam. Constrain saya dengan larutnya waktu sholat ini tentu saja adalah transportasi kembali ke dorm. Benar masih ada taksi, tapi sayang juga 4000KRW untuk kembali ke dorm di saat naik bus cukup membayar 1000KRW. Beruntunglah pada malam itu Mas Nisa, salah satu pengurus Al-Hidayah menawarkan untuk mengantrkan kami pulang menggunakan mobilnya. Kami pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Terawih malam kedua selesai dilakukan.

Puasa hari kedua, saya telat bangun sahur sehingga perut saya tidak kemasukan apa-apa. Meskipun demikian hal ini tidak boleh membatalkan rencana-rencana saya hari Sabtu ini. Pagi harinya, saya pergi ke CGV, salah satu nama bioskop di Korea, untuk menonton The Dark Knight Rises. Ini adalah film ketiga yang masuk kategori ‘wajib tonton’ dalam tahun ini setelah Avengers dan Amazing Spiderman. Nonton pagi (atau yang saat saya kecil di Indonesia sering disebut matine=entah apa maksudnya ini) di Korea tenyata ramai. Memang aneh rasanya naik eskalator mall di saat toko-toko belum ada yang buka karena saat itu jam baru menunjukkan pukul 8 pagi. Tidak ada toko dalam mall yang sudah buka pada pukul 8. Filmnya sangat menarik dan keren. Saya sendiri memberi nilai 8.2 untuk film itu. (review film akan saya tulis di http://jonimaulana.blogspot.com). Seusai nonton, saya kembali ke dorm untuk sholat dhuhur dan dilanjutkan tidur siang.

Sore harinya, saya bersiap-siap untuk melakukan perjalanan lagi. Kali ini saya akan menuju Masjid Al-Fatah yang ada di Busan. Kata salah satu mahasiswa Perpika, masjid ini menyediakan buka dan sahur setiap hari. Jadi tidak ada salahnya saya mencoba ke sana, bukan cuma untuk buka dan terawih saja, tetapi saya juga berencana untuk menginap sekaligus sahur. Selama perjalanan ke Busan, saya menyadari bahwa ‘menundukkan pandangan’ adalah sesuatu hal yang hanya efektif dilakukan di negara-negara yang penduduknya berpakaian tertutup sehingga kita tidak melihat wajah atau bagian atas tubuh lawan jenis. Di Korea, menundukkan pandangan berarti melihat ke bagian bawah dan perlu diingat, saat ini adalah musim panas, sehingga hampir semua wanita mengenakan rok/celana sangat pendek. Lalu apa yang saya lakukan? Ya biasa saja, sambil sedikit-sedikit beristighfar. Hehehe

Sesampainya di masjid Busan, sudah banyak orang berkumpul membentuk lingkaran sambi lmenunggu saat berbuka puasa. Takjil pada hari itu adalah es buah dan kurma. Enak betul es buah yang dibuat oleh TKI-TKI yang berasal dari Busan dan sekitarnya ini. Seperti biasa, setelah takjil kami semua sholat magrib berjamaah terlebih dahulu sebelum makan besar. Makan besar yang dilakukan di tempat yang sama seperti takjil tadi dilakukan ala muslim timur tengah. Sebuah nampan besar berisi nasi yang diguyur dengan sayur dan ayam sebagai lauknya (saya menulis ini sambil menelan ludah membayangkan enaknya menu buka puasa saat itu). Setiap kali saya makan dengan cara seperti ini, saya selalu merasa bahwa muslim itu tidak terbatas negara dan ras. Buktinya saya bisa makan bersama orang Indonesia dan orang Mesir bersama dalam satu nampan tanpa ada perasaan aneh dll. Perut kenyang, saatnya melanjutkan dengan sholat isya dan terawih. 2 kali saya ikut sholat terawih, pola sholatnya sama, yaitu 2-2-2-2-2-1. Jika saya sholat sendiri di kamar asrama, polanya adalah 4-4-3. Apalah artinya pola sholat terawih, yang penting sama-sama diniatkan untuk beribadah kepada Sang Pencipta.

Beberapa jamaah menahan kantuknya sambil bertadarus seusai sholat terawih dan kultum sejenak dari Ustadz Rizki. Namun setelah seseorang mulai menggelar selimut sebagai alas tidur, para pejuang tadarus itu satu per satu mulai mengikutinya. Begitu pula saya. Kami semua tidur nyenyak dengan perut kenyang dan hati tenang setelah berbuka puasa dengan lauk mewah dilanjutkan dengan terawih dan tadarus. Kami dibangunkan pukul 3 pagi untuk sahur. Sebelumnya, saya sudah terbangun karena HP saya memainkan lagu AC/DC berjudul ‘Back in Black’ yang cukup memekakkan telinga. Kami turun ke lantai bawah, mencuci muka terlebih dahulu, dan langsung dilanjutkan dengan sahur dengan rendang. Lagi-lagi menu Indonesia untuk sahur ini. Untuk sahur, masing-masing orang harus membayar 2000KRW, karena tidak ada subsidi dari imam masjid tersebut. 2000KRW terasa sangat ringan karena kita memerlukan 7000 KRW untuk makan rendang seperi ini di Warung Indonesia. Seharian berpuasa tanpa sahur terbayar dengan buka dan sahur mewah ini.

Acara terakhir saya dalam rangkaian perjalanan iniĀ adalah sholat Subuh berjamaah. Jarang-jarang saya melakukan sholat subuh berjamaah seperti ini. Seusai sholat seperti biasa ada taklim sejenak, dilanjutkan tadarus sendiri-sendiri, dan tidur sejenak sambil menunggu matahari terbit. Saya kembali ke Gimhae pukul 7.30. Insyaallah saya akan ke masjid ini lagi dalam Ramadhan tahun ini, karena di sini saya tidak hanya mendapatkan menu berbuka dan sahur yang mewah, tetapi juga keluarga dan teman sesama Indonesia dan juga muslim dari negara lain.

 

About these ads

4 thoughts on “Awal Ramadhan di Korea

  1. fighting ya!! semoga gak ada yg bolong puasanya, mengingat suhu disana sedang panas bgt ^_^

    saya jadi pengen ngerasain juga puasa di korea apalagi kalau artis korea yg nmny kim tae woo *klo gk slah marganya ‘kim’*dy kan islam jg, pasti juga sama2 berat. – –
    fighting!! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s