Monolog Sang Dewan

Angkat aku tinggi-tinggi

Letakkan aku di atas atap lengkung itu

Bisa kulihat keadaan dan cacat tubuh kalian

Bisa kudengar rintihan dan bisikan kalian

Seharusnya…

Di sini lebih rendah dari monas

Akan kutinggikan atap ini biar lebih jelas kulihat dan kudengar

Mana dompet kalian, mana uang kalian

Kugunakan untuk semen bangunan

Kalian berontak, aku tersentak

Akan kutinggalkan kalian sejenak

Keluargaku pun ingin hidup enak

Aku terbahak, kalian terinjak

Temanku pergi ke Gunung Olympus

Aku mencari sahabatku, Paman Sam

Anak buahku pergi berburu kanguru

Sayang mereka lupa alamat rumah

Berkelit menutupi kesalahannya

Jangan kalian harapkan perhatianku

Aku tak peduli kalian menderita

Aku hidup dengan bahagia dunia

Tak peduli pula nanti di sana

Kisum Ikmus Musik

Nyanyian tak seindah suara bidadari

Kau terbisu meski terucap

Nada tak seindah petikan harpa malaikat

Berputar-putar pada lingkaran setan

Wajah tak mampu alihkan duniaku

Adakah yang harus kupandang

Pakaian indah tak bisa samarkan diri

Hanya penutup, jika memang tertutup

Mungkin bangga dengan dada besar

Lilitkan kain saja kepadanya

Uang memang obat bius terkuat

Karenanya mereka menari dan bergoyang bersama

Entah harus bagaimana kusebut

Wanita bukan, Lelaki kurang

Membuka pagi, istirahat siang, menutup malam

Bosan

Kemana Kirana, nirwana, dan Sephia?

Hilang terganti Yolanda dan C-I-N-T-A

Surti Tejo jauh lebih enak

Kapan muncul lagi begitu indah dan karma

Lembaran merah merusak semua

Mungkinkah kembali baik?

Ketika Aku Sedang Galau…

Aku sedang galau,

Ingin kubakar semua lembaran dan kurobek buku tentang tugas akhir ini

Ingin kubanting laptopku ke lantai dan membiarkannya menjadi serpihan-serpihan komponen

Aku sedang galau,

Kuambil gitarku dan memainkan kunci-kunci fals yang tidak jelas

Bernyanyi sambil berteriak untuk melepaskan semua beban pikiran

Aku sedang galau,

Aku ingin kau diam sejenak, berikan waktu untukku tenang

Tenangkan hatiku, jangan kau galaukan lebih dari ini

Aku sedang galau,

Teringat masa-masaku SMP kalaku membohongi pacarku

Kutulis sebuah puisi tentangnya

Aku sedang galau,

Hentikan semua ini, otakku mengambil alih posisi hati

Padahal otakku telah penuh dengan pikiran-pikiran negatif dan busuk

Aku sedang galau,

Maukah kau memahamiku?

Namanya…

Mendung menggelayut di hati

Hilangkah sang mentari?

Ataukah dia tengah mengistirahatkan diri?

 

Engkau pernah nyalakan sumbu hati

Mungkinkah ia akan mencapai pangkalnya

Ataukah dia mati oleh terpaan badai cemburu

 

Nama itu telah terkikis ombak kebencian

Berharap ia masih terbaca jelas olehku

Mungkinkah itu?

 

Dan sebuah nama melayang-layang dalam kepalaku

Bukan namamu, namanya

Perlahan ia mulai meresap memasuki otakku, menggantikanmu

Hai

Ini Indonesia, bung…!

Hidup tenang, maaf, sedang tidak tersedia

Sedang ada lomba rakit bom di sini

Ini Indonesia, non…!

Baju tertutup terlarang

Kurang gaul kalo kurang mini

Ini Indonesia, pak…!

Jangan jujur-jujur kalau jadi orang

Orang jujur, ancur

Ini Indonesia, bro…!

Nggak perlu kuliah buat jadi sarjana

Sogok dikit, lulus S1

Ini Indonesia, bu…!

Hati-hati ngasih hati

Nanti jadi tidak punya hati

Ini Indonesia, kawan…!

Negeriku, negeri kita

Negeri sekarat

 

Olimpia

Di Olimpia

Zeus telah kehilangan wibawanya

Mungkin langit akan runtuh

Meskipun sawah masih membentang luas

Namun bulir-bulir padinya mulai mumbusuk

Pohon yang mulanya hijau kini menguning lagi

Berdiri tegak ia menantang langit

Di seberang lapangan banteng-banteng tertidur

Mereka tak lagi garang, mulai berevolusi menjadi sapi

Jauh di bawah langit,

Di bawah rindang pohon,

Di bawah kotoran banteng, dan

Di bawah tanah,

Hidup semut-semut yang enggan hidup

Kurang makan, terendam lumpur, dan tertindas

Mereka berteriak tanpa suara, tanpa daya

Zeus merenung, memikirkan pohon yang menguning, padi busuk, dan banteng sapi

Bukan semut-semutnya