‘Kencan’ Pertama di Korea

Kenapa saya memberikan tanda kutip di kata kencan pada judul di atas? Karena ini memang bukan kencan seperti biasa di mana pasangan pergi ke luar, makan di restoran, ataupun nonton bioskop. Kencan kali ini, selain karena hal aneh dan tidak biasa yang dilakukan, juga dilakukan bersama seseorang yang cukup unik. Bukan orang Indonesia (karena seperti yang sering saya katakan, hanya saya sendirian mahasiswa Indonesia di kampus ini), bukan orang Filipina, bukan orang Vietnam, dan bukan orang Korea. Saya ber’kencan; dengan seorang mahasiswi Cina.

Sebut saja namanya Xue. Dia adalah mahasiswi jurusan food and drug di Inje University, saya mengenalnya di kelas bahasa Korea. Dan entah dia tahu darimana kalau saya bisa berbahasa Inggris, dia beberapa kali meminta saya mengajarinya. Karena ada dasarnya saya suka mengajar, ya saya iyakan permintaannya.

Pagi ini, dia mengirim message via KakaoTalk (semacam BBM untuk Android dan iOS). Awalnya saya pikir dia ingin meminta saya mengajarinya Bahasa Inggris lagi (seperti semalam), ternyata tidak. Dia meminta saya menemaninya eksperimen. Yang ada di kepala saya, eksperimen mahasiswa food and drug akan berhubungan dengan berbagai macam zat kimia, dll. Saya iyakan permintaannya, karena memang hari ini saya tidak ada kegiatan. Kami bertemu di depan gedung B.

Dia membawa nampan berisi syringe dan berbagai macam larutan. Dia juga membawa jas lab untuk saya gunakan. Kami masuk ke labnya, dan jantung saya berdebar kencang ketika membaca papan nama di depan ruangan ‘Anima Center’. Saya tanya ke dia, apa yang kita lakukan? Dia menjawab, menyuntik tikus.

Jlegar!! Saya yang selama ini di ruma atau di kosan selalu memilih menghindar jika ada ribut-ribut tikus, kali ini telah mengiyakan menamani Xue melakukan eksperimen yang ternyata berhubungan dengan tikus. Namun seperti Yonny yang biasa, saya tetap tenang dan sok cool. Terlebih ketika dia bertanya ‘Is it okay?’ Dengan sok cool saya menjawab ‘okay’. Di pikiran saya, bodo amat nanti gemetaran yang penting sekarang cool.

Masuk di labnya, dia mengambil sebuah kandang yang berisi tikus berwarna putih berukuran tidak terlalu besar. ‘Now, you should do this’ katanya sambil memberikan contoh bagaimana menahan tubuh tikus agar tetap lurus sehingga dia dapat menyuntikkan suatu hal melalui mulut tikus itu. Dengan berpakaian lengkap seorang mahasiswa biologi (jas lab, sarung tangan, masker), saya mengucap ‘bismillahirrahmanirrahim’ dan berdoa sebelum memegang tikus untuk pertama kali (benar-benar pertama kali dalam hidup saya). Tangan kanan saya memegang ekornya, dan tangan kiri saya menahan badannya agar tidak meronta-ronta. Saya angkat si tikus dan saya sodorkan ke Xue. Dia pun memasukkan sesuatu ke dalam tubuh tikus itu melalui mulutnya.

Percobaan pertama, gagal. Saya gemetar hebat ketika harus memegang si tikus, sehingga Xue tidak bisa menyuntiknya. Kedua, masih gagal. Baru saat percobaan ketiga dia merhasil menyuntik tikus itu. Kemudian saya bertanya ‘berapa banyak tikus yang akan disuntik?’ Dia menjawab dengan kurang begitu jelas ‘fortyn’. ‘One four or four zero?’ ‘Four zero.’

JLEGAR kedua pada hari itu. Saya harus mengangkat tubuh tikus-tikus itu sebanyak 40 kali, padahal satu tikus saja memakan waktu hampir 10 menit. Tapi tetap, sok cool. ‘Okay, let’s do it slowly’. Padahal dalam hati saya merasa dijebak. Hahaha. Akhirnya, satu per satu tikus berhasil saya angkat dan disuntik oleh Xue. Ada tikus yang pendiam dan tenang, namun lebih banyak tikus yang meronta-ronta ketakutan. Dia berkata, ‘yesterday me and my friend did it well, and they were calm. Maybe because my friend is a women and all the mice are male.’ Yang penting selesai juga tugas saya hari itu. Setelah selesai, kami berdua membersihkan ruangan, termasuk membersihkan kotoran-kotoran seluruh tikus tersebut.

Kemudian, kami menuju ke lab Xue, lab yang benar-benar lab, tanpa ada tikus. Ngobrol-ngobrol sejenal, minum kopi, dan diakhiri dengan makan di dorm. Well, pengalaman yang benar-benar luar biasa, memegang tikus untuk pertama kali, bukan hanya satu, tetapi 40. *Perasaan dulu pas punya pacar anak farmasi nggak pernah diajakin megang-megang tikus. Dan satu lagi, menyenangkan juga menghabiskan hari minggu hampir 5 jam untuk memegang tikus.

Nggak pernah ngebayangin mahasiswa computer science megang tikus kaya gini

Ini Xue sedang menyiapkan injeksi

Note: Xue ini teman biasa, makanya namanya bukan kencan beneran. :)

 

Korea Multimedia Society Conference

Di Korea ini, alhamdulillah sudah 2 kali saya mengikuti conference (ini bahasa indonesianya yang baik dan benar apa saya kurang tahu) yang diadakan oleh Korea Multimedia Society (KMMS). Kebetulan profesor saya adalah salah satu dari petinggi di komunitas tersebut, jadilah mahasiswa-mahasiswa di lab diminta menulis paper dan menirimkannya ke sana.

Ini adalah kit conference pertama yang diadakan di Ewha Womans University, Seoul. Saat saya ke sini, saya hanya berdua bersama teman saya yang bernama Yong Soek. Namun karena lokasinya di Seoul, saya menghabiskan cukup banyak waktu dengan jalan-jalan seusai acara selesai.

Berikutnya, ini adalah kit conference kedua yang saya dapatkan. Conference ini dilaksanakan di sebuah kota bernama Mokpo yang terletak di barat daya Korea Selatan, tepatnya di Mokpo National University. Kali ini, ada 6 orang yang berangkat, saya, Oonggi, Ji Hyeon, Ho Song, Yong Seung, dan Bogi. Well, tidak terlalu banyak hal yang dapat saya lakukan di Mokpo karena memang tempatnya yang bukan berupa kota besar, sehingga cukup sulit menggunakan alat transportasinya.

자기소개서

저는 요니 셉티안 이스만터커. 소니 뮤직 회사에서 일하고싶습니다. 제 전공은 전산학과입니다. 작년에 저는 한국 음악 레코드 회사에서 일했습니다

저는 영어를 잘 합니다. 제 토익 점수가 좋습니다. 저는 악기를 많이 다룰 줄 압니다, 기타 와 피아노 와 드럼 와 베이스 기타. 그리고, 컴퓨터도 할 줄 압니다. 여러가지 음악 프로그램을 잘 사용 할 압니다.

제 꿈이 소니 뮤직 회사에서 일하는 것입니다. 잘 부탁드립니다.

요니 셉티안

*ini adalah salah satu PR kelas Bahasa Korea untuk menulis surat lamaran kerja berisi pengalaman diri

Menjadi Pengawas Ujian UT Korea

Setelah 2 bulan lebih saya mengajar di Universitas terbuka Indonesia cabang Korea Selatan (UT Korea), akhirnya mahasiswa-mahasiswa melangsungkan ujian akhir semester pada hari Sabtu, 13 Mei 2012. Ini adalah kali pertama mahasiswa-mahasiswa yang saya ajar melangsungkan ujian. Entah dosen-dosen atau guru SMA merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan sekarang, namun saya merasakan deg-degan yang sebenarnya. Kenapa? Saya khawatir jika apa yang saya ajarkan selama ini masih belum mencakup seluruh materi. Saya pun khawatir kalau-kalau apa yang saya ajarkan selama ini tidak dapat dimengerti mereka dengan baik.

Ujian UT Korea ini berlangsung selama 2 hari, masing-masing dilangsungkan pada tanggal 13 Mei 2012 di Daegu dan 20 Mei 2012 di Busan. Saat saya menulis artikel ini, mereka sedang mngerjakan ujiannya di Daegu. Sebelum ujian berlangsung , tampak wajah-wajah yang sama seperti mahasiswa yang akan melangsungkan ujian pada umumnya. Semua mimic wajah seperti  tegang, percaya diri, deg-degan, dll. Ada beberapa orang yang tampak santai dan bercanda di antara mereka. Tampak pula beberapa orang yang tampak memojokkan diri dan mencoba berkonsentrasi membaca modul pelajaran mereka.

Saat ini mereka sedang mengerjakan soal-soal yang diimpor dari UT Jakarta. Tidak hanya di Korea, akan tetapi seluruh mahasiswa UT baik itu di Indonesia maupun di Negara lain pun sedang melaksanakan ujian. Saya merasa pernah ada di posisi mereka. Menghadapi soal yang mungkin sulit, mereka nampak kebingungan, dan muncullah berbagai macam gerak tubuh seseorang yang merasa bingung saat ujian, mulai garuk-garuk kepala, clingak-clinguk, berdeham, mengigit bolpen, memandangi soal dengan wajah kosong, menutup wajah, berkali-kali membolak-balik soal, dll.

Apa yang saya liat saat ini dan tadi adalah mahasiswa yang sebenarnya, lengkap dengan berbagai macam ekspresinya dan gerak tubuhnya. Memang mereka semua adalah WNI yang bekerja di Korea (biasa kita sebut dengan TKI), namun saat ini mereka adalah mahasiswa, sama seperti saya dan mungkin teman-teman pembaca pernah berada pada posis mereka juga. Dalam hati kecil saya, saya memberikan perasaan salut yang luar biasa kepada mereka, para WNI yang pada dasarnya hanya bekerja di sini selama Senin-Jumat, bahkan Senin-Minggu, tapi masih sempat meluangkan waktunya untuk belajar bersama para tutor untuk meraih gelar sarjana S1.

Saya bangga bisa mengenal seluruh mahasiswa UT, baik itu mahasiswa saya sendiri maupun mahasiswa jurusan lain. Mereka adalah orang-orang hebat, ulet, dan tekun. Saat nantinya mereka pulang ke Indonesia, mereka tidak hanya akan membawa banyak uang (karena gaji perbulan pekerja Korea memang relative besar), tetapi juga membawa gelar sarjana S1. Dan bagi saya sendiri, bisa mengajar di UT Korea adalah perwujudan salah satu hal yang saya sukai selain bermain musik dan menulis, yaitu mengajar.

Suasana ujian UT Korea di Daegu

Seorang mahasiswa nampak serius mengerjakan soal

Mahasiswa-mahasiswa yang nampak kesulitan mengerjakan soal

Angka dalam Bahasa Korea

Berhubung saya belum puny hal unik untuk diceritakan, saya akan memberikan sedikit pengetahuan mengenai bahasa Korea. Kali ini saya akan membahasa mengenai angka.

Dalam bahasa Korea, ada 2 macam angka, yaitu angka asli Korea (kita sebut Korea) dan angka yang merupakan hasil asimilasi antara Korea dan Cina (kita sebut Sino-Korea). Penggunaan angka Korea dan Sino-Korea berbeda, ada kalanya kita menggunakan Korea dan ada kalanya menggunakan Sino-Korea.

Angka Korea memiliki range yang tidak terlalu besar, biasanya hanya sekitar 1-100 saja. Angka ini biasa digunakan untuk menyatakan jam, umur, dan satuan benda.

1=hana; 2=tul; 3=se; 4=ne; 5=tasot; 6=yosot; 7=ilgop; 8=yodol; 9=ahop; 10=yol; 11=yol han

20=semul; 21=semul han; 30=soren; 40=mahen; 50=suin; 60=yel sun; 70=iren; 80=yoden; 90=ahen; 100=pek

Sedangkan angka Sino-Korea digunakan untuk menyatakan harga (ini yang paling penting untuk kehidupan sehari-hari), menit, lantai, dll. Range dari Sino-Korea lebih besar.

1=il; 2=i; 3=sam; 4=sa; 5=o; 6=yuk; 7=chil; 8=pal; 9=gu; 10=sib; 12=sib i; 20=i sib; 30=sam sib; 100=pek; 1000=chon; 10.000=man; 100.000=sib man; 1.000.000=pek man; 10.000.000=chon man

Contoh percakapan di pasar:

pembeli: Igo olmayeyo? (ini berapa)

penjual: I man o chon won (25000 Won)

pembeli: ah, pissayo. Kakka juseyo. Man chil chon o pek won oteyo? (ah, mahal. Diskon dong. 17500 gimana?)

penjual: Ne (ya)

Kata-kata yang saya tulis tebal di atas adalah kata-kata wajib hafal bagi orang asing yang berkunjung atau tinggal di Korea. Selamat belajar. 안녕히계세요

Membaca dan Menulis Hangeul

Seperti yang kita tahu, Korea tidak menggunakan alfabet romawi sebagai huruf nasionalnya. Sebagai gantinya, mereka menggunakan huruf yang biasa disebut dengan hangeul. huruf ini sendiri dibuat oleh seorang raja bernama Sejong sangat sangat terkenal di Korea.

Bagaimana cara membaca huruf ini? Sebenarnya sangat mudah. Pada penulisannya, sebuah suku kata ditulis dalam sebuah rangkaian hangeul. Contoh: 한 (han), 글(geul). Huruf yang terletak di kiri atas atau atas adalah huruf pertama. Huruf yang terletak di kanan atas atau di tengah adalah huruf vokal. Sedangkan huruf yang terletak di bawah adalah huruf mati di akhir suku kata.

http://30.media.tumblr.com/tumblr_lq1eadSbY61qice4lo1_1280.jpg

Gambar di atas adalah tabel jenis-jenis huruf dalam hangeul. Silakan belajar jika berminat. Sebagai contoh, silakan baca hangeul berikut:

요니 셉디안 이스만더거

PPI Jerman vs (beberapa) Anggota DPR-RI

Indonesia geger karena tiba-tiba perwakilan PPI Jerman mengkritik anggota DPR yang sedang mengadakan studi banding ke Jerman. Tidak hanya mengkritik, mereka juga melakukan aksi walkout dari acara gala dinner yang dilakukan di KBRI Jerman. Silakan lihat di sini jika belum sempat melihat video kontroversial tersebut.

PPI Jerman

Yang ingin saya garisbawahi di sini adalah keberanian mahasiswa Indonesia di Jerman untuk mengritik secara langsung di depan para anggota DPR tersebut, tidak hanya melalui media-media massa dan elektronik. Saya pun sampai saat ini hanya bisa mengritik sikap dan kebijakan mereka melalui media elektronik karena tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dan mengkritik langsung.

Sebenarnya semua yang disampaikan oleh mereka (mahasiswa) merupakan hal-hal yang sering kita dengar, seperti memprotes seringnya studi banding yang dilakukan tanpa adanya laporan hasil studi banding tersebut, banyaknya anggota keluarga yang ikut, kegiatan yang sebagian besar hanya berbelanja, sampai betapa para anggota DPR tersebut merepotkan pihak KBRI karena harus mengurus mereka selama mereka di sana, termasuk antar jemput ke hotel dan pusat perbelanjaan. Akan tetapi saya paling salut dengan keberanian mereka untuk mengecap anggota DPR yang hobi ke luar negeri dengan cap kampung.

Saya yakin banyak rakyat Indonesia yang memiliki unek-unek yang sama dengan para mahasiswa, bahkan saya pun pernah menulis tentang keadaan DPR yang kacau di blog ini. Apa yang dilakukan mahasiswa Indonesia di Jerman tersebut seharusnya bisa menjadi tamparan yang cukup keras bagi para anggota DPR, setidaknya mereka akan merasa malu jika mereka masih memiliki urat malu.

Yang jelas, kritikan yang disampaikan langsung kepada anggota DPR ini jauh lebih efektif dibandingkan aksi demo yang selalu meresahkan masyarakat dan sering merusak fasilitas umum. Mereka mahasiswa cerdas dan berani. Saya berharap PPI Korea Selatan pun dapat seberani mereka.

Ke-tag Postingan Berantai

Harusnya kalau nggak jalan-jalan ke blognya Mita, saya nggak nggak baca postingan yang saya ditag di dalamnya. Kalau di zaman SD ada surat berantai yang kalau tidak disebarkan kembali akan mendapat celaka dan jika disebarkan akan mendapat keberuntungan, di postingan ini bebas. Akan tetapi, berhubung saya sudah membacanya, nggak ada salahnya saya memenuhi peraturan-peraturan yang ada di sana.

Pertama, saya harus menyebutkan 11 hal tentang diri saya.

  1. Musikalitas tinggi. Kalau ditanya apa hobi saya, akan saya jawab bermain dan mendengarkan musik. Lebih jauh lagi, jika ditanya apa passion saya, saya pun akan menjawab musik. Dari sekian banyak hal yang pernah saya lakukan, nampaknya musik memang sesuatu yang paling dapat saya nikmati.
  2. Praktis. Sesuatu yang mungkin dapat dibanggakan ketika saya tidak perlu berpikir panjang untuk melakukan suatu hal. Memang ada buruk jika berpikir praktis tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya, namun sangat efektif jika dibutuhkan keputusan cepat.
  3. Bossy. Saya sering menyuruh orang-orang untuk melakukan tugasnya masing-masing. Terkadang jika ada beberapa hal yang perlu dikerjakan oleh suatu kelompok, tanpa pikir panjang saya akan membagi-bagi tugas kepada masing-masing anggota kelompok
  4. Pengalah. Saya tidak suka jika ada masalah yang mengakibatkan pertengkaran. Oleh karena itu saya lebih memilih untuk menghindarinya. Contoh, ketika ada teman yang terkenal keras kepala mengajukan idenya yang memang tidak masuk akal, saya memilih untuk meninggalkan tempat itu daripada harus berdebat panjang lebar.
  5. Melankolis. Sering kali saya berdiam diri di suatu tempat yang sepi, seorang diri. Kegiatan yang awalnya hanya bertujuan untuk menyendiri pun menjadi kegiatan memikirkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup.
  6. Appearance-oriented. Terkadang saya dengan begitu cueknya memakai pakaian apapun yang ada. Akan tetapi saya lebih sering menghabiskan waktu cukup lama hanya sekedar untuk memilih pakaian yang tepat untuk suatu acara. Tidak hanya pakaian, rambut saya yang cukup ribet ini pun perlu treatment khusus yang juga memerlukan waktu. Hasilnya? Ya, seorang Yonny yang mendingan.
  7. Pemarah. Agak aneh memang, di satu sisi saya malas bertengkar tapi di sisi lain saya termasuk orang yang mudah emosi. Sumbunya nggak terlalu pendek, tapi cepat meledak.
  8. Coba-coba. Saya suka mencoba sesuatu yang baru, termasuk nekat berangkat ke Korea seorang diri hanya untuk mencari pengalaman berkuliah di luar negeri. Hobi coba-coba ini tentu saja diikuti kesiapan menghadapi segala macam resiko di baliknya.
  9. Proud. Ini sangat dekat kaitannya dengan sombong, semoga saya tidak termasuk di sana. Akan tetapi saya memang sering membanggakan hal menarik yang saya miliki, bukan untuk nyombong, hanya lebih ingin berbagi. Contohnya, foto-foto selama musim dingin dan musim semi, foto-foto jalan-jalan, lagu-lagu ciptaan saya, dll.
  10. Benci rutinitas. Saya tidak suka melakukan suatu hal yang sama terus menerus. Hal ini saya rasakan ketika magang di salah satu perusahaan di Korea, di mana saya harus berangkat pagi, duduk di meja kerja, mengerjakan tugas, dan pulang malam harinya. Begitu terus selama 2 bulan. Ya, saya tersiksa.
  11. Perfeksionis. Tidak semua hal harus sempurna bagi saya, namun saya selalu mencoba untuk mencari dan menghasilkan sesuatu sesempurna mungkin, termasuk pasangan. Saya tahu ini mustahil, namun semua memerlukan proses dan waktu. Salah satu akibatnya, hampir setahun saya jomblo.

Berikutnya saya akan menjawab pertanyaan yang ada di postingan si Mita.

  1. Apakah hobby kamu? Apapun yang berkaitan dengan musik, baik itu mendengar ataupun bermain musik
  2. Apakah cita-cita kamu? Absurd memang, tapi sejak SD saya ingin pada suatu saat bisa konser di Jakarta Convention Center
  3. Siapakah yang paling menginspirasi kamu? Jelas keluarga, tapi di luar itu seorang Armand Maulana dan GIGI telah menjadi inspirasi hidup dengan lagu-lagunya
  4. Apakah kejadian terburuk selama hidup yang tidak terlupakan? Malam hari sepulang les (untuk UAN SMA), saya melewati jalan sepi. Saya mengemudikan mobil dengan cukup kencang. Tiba-tiba ada motor yang ingin menyebrang jalan dan saya tidak sempat menghindarinya. Pengemudi motor terjatuh ke kanan dan orang yang diboncengnya terlempar dan berguling sampai atas mobil saya. Untung tidak ada korban jiwa
  5. Apakah kejadian terbaik selama hidup yang tidak terlupakan? Malam wisuda Juli 2011. Saya lulus, bisa mengucapkan terima kasih kepada orang tua, menyanyikan lagu GIGI lengkap dengan gaya Armand Maulana, dan mendapatkan award wisudawan teridola (yang saya yakin maksudnya bukan teridola secara literal, melainkan paling mengidolakan seseorang)
  6. Ingin tinggal/bermukim dimana? Saya ingin tinggal di Solo saja, dekat dengan keluarga
  7. Apakah buku favorit kamu? Sulit menentukannya, namun sepertinya Perfume (Patrick Suskind) paling mengena dan berkesan
  8. Hari apakah yang paling bersejarah untuk kamu? Kenapa? Hari keberangkatan saya ke Korea, karena pada hari itu saya memutuskan untuk meninggalkan semua di Indonesia, termasuk keluarga, teman-teman, dan fast track ITB.
  9. Apakah keahlian kamu? Memainkan sebuah lagu menggunakan gitar setelah 1-2 kali mendengarkannya
  10. Apakah makanan favorit kamu? Tempe mendoan
  11. Apakah ilmu yang paling kamu senangi? Saya tidak menyebut musik karena bagi saya itu adalah seni. Untuk ilmu, mungkin Bahasa Inggris.

Berikutnya, yang ketiban tag adalah:

Adit, Amy, Nisa, Arres, Fikri, Eja, Syafiq, Bhella, Anita, Andi, Haekal

Pertanyaan untuk teman-teman:

  1. Siapa penyanyi favorit teman-teman?
  2. Apa aliran/genre musik favorit teman-teman?
  3. Film favorit?
  4. Dimana lokasi bulan madu impian?
  5. Kriteria pasangan (suami/istri) ideal?
  6. Mana yang lebih disukai, bekerja atau belajar?
  7. Sampai saat ini sudah berapa kali pacaran?
  8. Jika mempunyai pilihan untuk melanjutkan sekolah di Asia, Eropa, atau Amerika, mana yang akan dipilih?
  9. Kejadian apa yang paling berkesan selama berkuliah?
  10. Jika hanya diperbolehkan membuka 5 situs internet, apa sajakah situs tersebut?
  11. Sebutkan 5 barang yang selalu dibawa kemana pun kalian pergi!

Kabar-kabar ya kalau sudah dibuat tulisannya. :)

Stadion-stadion di Korea

Seeprti yang kita tahu, Korea merupakan salah satu tuan rumah Piala Dunia 2002 yang diselenggarakan bersama Jepang. Korea juga merupakan tuan rumah Asian Games 2000. Satu lagi, Korea adalah tuan rumah Olimpiade 1988. dari hal-hal ini dapat dipastikan bahwa Korea telah menyiapkan berbagai macam hal untuk menggelar event-event berskala internasional tersebut, salah satunya adalah membuat Stadion.

Stadion memang pada dasarnya adalah tempat khusus untuk menonton pertandingan sepakbola, akan tetapi stadion-stadion pun dapat berfungsi untuk menggelar olahraga lain, ataupun tempat konser. Pada event Piala Dunia 2002 lalu, Korea menyiapkan beberapa stadion di beberapa kota besar, antara lain Seoul, Busan, Incheon, Gwangju, Jeju, Daegu, Daejeon, dan Suwon. Asian Games 2000 diadakan terpusat di sekitar Busan Stadium, dan olimpiade 1988 dilangsungkan di Seoul Olympic Stadium.

Saya yang memang pada dasarnya hobi jalan-jalan, terlah menjelajah ke 4 stadion di Korea, yaitu Daegu, Busan, Seoul, dan Seoul Olympic. Selain dapat menikmati keindahan dan kemegahan arsitektur stadion, di sana juga sering ada museum-museum tempat menyimpan memorabilia dan kenangan atas event-event yang pernah berlangsung.

Sebagai contoh, di Seoul World Cup Stadium terdapat museum piala dunia yang berisi berbagai macam pernik piala dunia. Selain itu di stadion ini pun pengunjung dapat masuk ke stadionnya secara langsung, mengikuti jalur tur yang sudah disediakan. Pengunjung pun dapat melihat ruang ganti pemain, ruang pemanasan, bahkan sampai ke tempat pemain cadangan di samping lapangan. Di Busan stadium, kita bisa melihat telapak kaki para pemain Korea saat Piala Dunia 2002 lalu. Sudah jelas kita akan bisa meihat telapak tangan Park Ji Sung, Ahn Jung Hwan, sampai pelatih Guus Hiddink. Sedangkan di Seoul Olympic Stadium kita bisa melihat kiprah para atlet korea selama perjalanan Olimpiade. Di Daegu saya tidak sempat melihat ada tidaknya museum di sana, karena saya ke sana hanya untuk melihat konser Asia Song Festival yang dilangsungkan untuk memperingati suksesnya perlombaan atletik internasional di sana.

Mungkin stadion-stadion di Indonesia dapat mencontoh stadion-stadion di Korea. Selain pengelolaannya yang perlu dibuat lebih baik, di sana juga perlu diberikan fasilitas untuk pengujung yang ingin sekedar berwisata.

Menulis Paper Itu…

Apa sih menulis paper itu? Kenapa mahasiswa-mahasiswa pascasarjana sering mengeluhkan adanya kewajiban menulus paper? Dan kenapa para profesor berlomba-lomba mempublish paper dengan cara ‘memeras otak’ mahasiswanya?

Dari apa yang saya tahu, mungkin paper adalah satu-satunya media untuk menunjukkan hasil karya selama pendidikan s2,s3 kepada masyarakat luas, terutama orang-orang yang bergelut dalam bidang riset, bidang keilmuan apapun itu. Dengan paper juga seorang profesor dapat menunjukkan ke rekan sejawatnya bahwa dia lebih hebat daripada mereka. Terakhir, paper merupakan gerbang besar menuju proyek-proyek besar yang tentu saja memiliki budget yang besar.

Jadi, urutannya adalah profesor merekrut mahasiswa, mahasiswa diperas otaknya untuk menulis paper, paper dipublish dan terdeteksi oleh lembaga-lembaga riset atau mungkin malah negara, profesor mendapatkan proyek besar, profesor menggaji mahasiswanya mungkin sebesar ‘zakat’ dari uang proyek tersebut.