Passion itu…

Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku karangan Mas Rene Suhardono berjudul “Journey to be Ultimate U”. Beberapa teman saya merekomendasikan buku ini kepada saya. Saya pun tertarik dengan judul buku ini yang memang menarik. Saya pun neminta keluarga saya untuk membawakan buku ini ketika mereka berkunjung ke Korea. 

Setelah membaca buku ini, saya langsung memiliki pikiran untuk berhenti kuliah, kembali ke Indonesia, dan memulai hidup dengan menjalani passion saya, seriously. Apa gunanya mengerjakan sesuatu karena kita hanya coba-coba, iseng, ikut-ikutan teman, apalagi terpaksa. dan benar, saya melanjutkan kuliah ke S2 bukan karena saya senang duduk di lab, melakukan sekian banyak riset, baik itu membaca buku, paper, ataupun membuat program, melainkan lebih karena ingin mencari pengalaman lebih. Begitu pula ketika sempat mengambil S2 di ITB, bukan karena memang hobi ngelab dan riset, melainkan lebih karena ingin memanfaatkan kesempatan mendapatkan 2 gelar dalam waktu 5 tahun saja.

Lalu, apa passion saya? Mungkin hanya ada 1 hal yang membuat saya senang dan bersemangat ketika mengerjakannya, yaitu musik. Menulis lagu, bernyanyi, memainkan alat musik, tampil di depan banyak orang merupakan hal-hal yang saya sukai. Saya akan merasa lebih senang ketika hasil karya saya, baik itu lagu ataupun suara saya ketika menyanyi, diapresiasi oleh banyak orang. Karena itulah saya sering meminta teman-teman saya untuk mereview lagu-lagu ciptaan saya yang saya upload di YouTube. Bila berminat, silakan review juga dengan membuka link berikut http://www.youtube.com/user/jonimaulana?ob=0&feature=results_main.

Akan tetapi ada satu hal yang selalu saya pegang teguh. Seperti nama saya, Yonny, dimulai dengan huruf Y dan diakhiri dengan huruf Y. Artinya saya harus mengakhiri semua yang telah saya mulai. :)

Membandingkan Korea dan Indonesia (2)

Saya mencoba melanjutkan hasil pengamatan saya selama berada di Korea. Jika sebelumnya saya membahas tentang transportasi, keuangan, pendidikan, dan bahasa, sekarang saya akan membahas hal lainnya.

5. Cuaca

Saya datang ke Korea pada September 2011, artinya saat itu Korea sedang mengalami musim gugur. Inilah musim gugur yang pertama kali saya alami. Di Indonesia memang sering kita lihat daun pohon jati meranggas, tapi itu bukan musim gugur sebenarnya. Musim gugur adalah musim ketika seluruh dedaunan berubah warna, baik itu menjadi merah ataupun kuning. Ini adalah musim yang mungkin paling indah dan romantis.

3 bulan berikutnya, musim mulai berganti. Saya akan mengalami musim dingin pertama saya. Harapan orang-orang daerah tropis ketika berada pada musim dingin tentu saja melihat sesuatu yang mustahil ditemui di Indonesia, selain puncak Jaya Wijaya, yaitu sesuatu yang berwarna putih dan lembut. Sesuatu ini adalah salju. Namun sayang seribu sayang, kota saya berada di daerah selatan Korea, artinya cukup kecil kemungkinan untuk mendapati salju menumpuk di halaman seperti di film-film. Namun apabila kita bergerak ke utara, kota-kota seperti Daejeon dan Seoul benar-benar tempat yang tepat untuk melihat tumpukan salju. Beruntung saya sempat melihat salju ketika berada di sana.

Masih ada 2 musim lagi, yaitu musim semi dan musim panas. Bayangan saya, musim semi adalah musim dimana daun-daun tumbuh dari pohon yang kering, dan segalanya menghijau. Sedangkan musim panas adalah musim kemarau di Indonesia. Musim panas inilah Busan menjadi surganya Korea dan orang-orang yang berlibur ke Korea. Kenapa? Karena Busan memiliki banyak pantai, dan di situlah inti musim panas.

Seperti yang kita tahu, Indonesia hanya memiliki 2 musim, kemarau dan penghujan. Kedua musim tersebut tidak memiliki perbedaan suhu yang signifikan. Dari sini dapat dikatakan bahwa daya adaptasi tubuh orang Indonesia kurang jika dibandingkan orang Korea. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa atau pekerja Indonesia yang pertama kali mengalami musim dingin di Korea, saya contohnya, akan mengalami pecah-pecah di sebagian besar tubuh. Udara dingin itu menyakitkan, bisa membuat kulit kering, terluka, dan mengeluarkan darah. Itulah yang terjadi pada saya selama 1,5 bulan pertama musim dingin. Lama kelamaan tubuh baru bisa beradaptasi. Untuk musim panas, mungkin tidak akan terlalu sulit untuk beradaptasi karena kata teman-teman saya suhu udaranya maih tidak lebih panas dibandingkan Indonesia.

Satu hal lagi mengenai perbedaan musim antara Korea dan Indonesia adalah mengenai waktu Sholat, bagi muslim. Di Indonesia, sudah menjadi suatu patokan bahwa subuh pukul 4.30, dhuhur, pukul 12.00, asar pukul 15.00, magrib pukul 17.30, dan isya pukul 19.00. Misalnya ada perbedaan waktu, selisihnya tidak akan lebih dari 1 jam. Namun di Korea penentuan waktu solat adalah hal yang berbeda. Kita tidak bisa menggunakan patokan di atas untuk setiap waktu, karena setiap musim memiliki jadwal solat yang berbeda. Sebagai contoh, pada musim dingin, saya sholat subuh pukul 6.00, bukan karena saya kesiangan, tapi karena memang azan subuh pukul 6.00. Terkadang pada suatu musim sholat asar baru pukul 16.30 dan magrib pukul 19.30. Di sinilah sebagai seorang muslim kita harus lebih memperhatikan waktu sholat, tidak bisa menyamaratakan waktunya untuk semua musim.

6. Kebersihan

Korea lebih bersih dibandingkan Indonesia. Bukan bermaksud menggeneralisasi, tapi ini merupakan suatu kenyataan. Hampir di seluruh kota yang pernah saya datangi di sini lebih bersih dibandingkan kota-kota yang pernah saya datangi di Indonesia.

Seoul misalnya, jaug lebih bersih dibandingkan sister citynya, Jakarta. Sangat jarang saya temukan sampah bertebaran di jalan. Misalkan ada, itu adalah kumpulan sampah yang sudah terkumpul dalam sebuah plastik besar dan disandarkan di sebatang pohon. Contoh lainnya Busan. Kota ini juga jauh lebih bersih dibandingkan sister citynya, Surabaya. Pelabuhan Busan kelihatan sangat rapi dan tertata, berbeda dengan Tanjung Perak atau Tanjung Priok.

Di Korea pun saya punya pengalaman masuk pasar tradisional, padahal di Indonesia saya sangat jarang masuk ke pasar seperti itu. Alasan saya tidak mau ke pasar tradisional Indonesia adalah karena semrawut, bau dan becek, meskipun itu tidak hujan. Di sini, yang namanya pasar tentu saja bau, baik itu bau daging, ikan, maupun bau bumbu-bumbu Korea yang baunya memag ajaib. Akan tetapi, bau-bau tersebut tidak bercampur dengan bau sampah dan bau beceknya jalan di dalam pasar yang bisa menghilangkan nafsu makan. Jujur saya heran melihat orang-orang yang bisa tahan untuk makan di dalam pasar tradisional Indonesia yang baunya entah bagaimana menjelaskannya. Namun di lain sisi saya juga heran kenapa saya juga bisa makan di Gelap Nyawang, jalan di depan ITB yang penuh dengan kuda-kuda berikut kotorannya di sekitarnya.

Kembali ke kebersihan Korea, menurut mentor saya di kantor, budaya hidup bersih ini sudah ditanamkan sejak Korea menjadi tuan rumah olimpiade tahun 1988. Mulai dari situlah mental warga Korea untuk hidup bersih mulai ditumbuhkan dan hebatnya berlangsung sampai sekarang. Selain itu kalau diperhatikan, di sepanjang jalan di Korea sangat jarang ditemui tong sampah, kecuali di sekitar perempatan atau persimpangan jalan yang cukup besar. Kenapa? Menurut teman saya, hal ini disebabkan budaya orang Korea untuk tidak makan atau minum sambil berjalan. Memang benar, sangat jarang saya melihat orang Korea, terutama yang sudah cukup tua, untuk makan atau minum sambil berjalan. Ini pun yang menyebabkan di setiap convenience store sejenis 7Eleven, GS25, Family Mart, dll selalu menyediakan air panas, microvawe, sekaligus tempat untuk makan dan minum di dalamnya. Nampaknya hal ini cukup sulit untuk diterapkan di Indonesia.

7. Kebudayaan

Bicara tentang budaya, tidak lengkap jika tidak membicarakan budaya secara lebih luas lagi. Seperti yang kita tahu, sama seperti Indonesia, dahulu kala Korea pun berbentuk kerajaan. Ada beberapa dinasti yang menguasai Korea, setahu saya ada dinasti Silla dan dinasti Gaya. Dinasti-dinasti tersebut meninggalkan berbagai macam hal, mulai dari kuil, kerajaan, patung, dan barang-barang lainnya.

Salah satu objek pariwisata di Korea yang sering dikunjungi adalah kuil. Memang mayoritas penduduk Korea adalah penganut agama Budha, namun menurut teman kantor saya, sebagian besar tidak mengamalkan ajaran-ajarannya. Akan tetapi, memang hampir di setiap bagian Korea dapat ditemukan kuil-kuil. Di Indonesia mungkin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke pura-pura di Bali.

Objek lain adalah istana-istana. Yang paling terkenal tentu saja Gyeongbokgung yang terletak di Gwanghwamun, Seoul. Di sekitar tempat itu juga ada Hanok Village, sebuah komplek perumahan yang berisi rumah-rumah adat Korea. Di tempat itu selain bisa berfoto, pengunjung juga bisa mendapatkan pengalaman mengikuti upacara minum teh, cara membuat kimchi, dll. Indonesia juga punya keraton dan beberapa rumah adat yang dapat dilihat oleh wisatawan.

Lalu apa bedanya? Menurut saya hampir sama, kedua negara sama-sama melindungi kebudayaannya. Namun yang saya lihat di sini adalah siapa orang yang bertanggung jawab atas hal-hal tersebut. Benar semuanya berada di bawah kementrian budaya dan pariwisata, hanya saja kondisi geografis Korea dan Indonesia bisa dibilang cukup ekstrim. Di Korea, kementrian ini cukup mudah mengawasi dan mengembangkan pariwisata budaya secara langsung tanpa perlu banyak birokrasi. Berbeda dengan Indonesia yang wilayahnya cukup luas, diperlukan birokrasi yang cukup panjang dari pusat sampai ke cabang terkecil untuk menentukan siapa yang akan mengurus kebudayaan-kebudayaan tersebut.

Kalau saya lihat dari bidang ini, Indonesia bisa menjadi sehebat Korea. Syaratnya hanya rasa kelebihpedulilan masyarakat secara umum dan pemerintah secara khusus atas lokasi-lokasi kebudayaan ataupun tempat-tempat bersejarah kita.

8. Industri

Terakhir, jika berbicara tentang industri, secara langsung bisa dikatakan Indonesia kalah jauh dari Korea. Siapa tidak kenal Samsung, LG, Hyundai, KIA, dll? Produk-produk industri besar Korea sudah mendunia dan dipakai banyak orang. Indonesia? Bisa dibilang tidak ada barang dari industri Indonesia yang sudah dipakai secara mendunia. Sebenarnya ada barang-barang semacam bola kaki, sepatu bola, knalpot mobil, dan rangka mobil yang dibuat oleh oleh Indonesia. Akan tetapi ketika barang-barang tersebut sampai ke konsumen, barang tersebut sudah berganti menjadi merk Nike, Adidas, dan BMW.

Lalu bagaimana cara mengembangakn Industri di Indonesia? Saya buka orang bisnis, hanya pengamat lingkungan sekitar. Yang saya lihat di Kore, orang-orang dengan bangga menggunakan produk-produk asli Korea. Contoh mudahnya adalah hampir semua mobil di sini adalah Hyundai, KIA, atau Samsung Renault. Begitu pula dengan bangganya anak muda Korea menggunakan jaket Polham yang merupakan produksi asli Korea.

Dari sini terlihat jelas bahwa Industri akan berkembang pesat apabila didukung penuh oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia tidak perlu malu menggunakan produ dalam negeri karena dari situlah kemajuan industri Indonesia bermula.Nampaknya semboyn ‘Aku conta produk Indonesia’ perlu diboomingkan lagi.

Mereview 2011

Welcome 2012!

Akhirnya satu tahun perjalanan tahun 2011 telah usai. Banyak hal yang terjadi sepanjang 2011, dan banyak di antaranya yang sangat berkesan.

  • Menjadi ketua Elektron HME-ITB: Ketika saya masih menjadi senator, terjadi suksesi kepengurusan Elektron, sebuah badan semi-otonom di bawah Himpunan Mahasiswa Elektroteknik yang bergerak dalam bidang majalah. Sudah saya katakan bahwa saya tidak bisa menjadi ketua karena saya tidak boleh merangkapp jabatan sebagai senator dan ketua Elektron, akan tetapi setelah musyawarah anggota, akhirnya saya menjadi ketua Elektron HME-ITB.
  • Turun dari jabatan Senator HME-ITB: Tepat 1 tahun sejak saya menjadi bagian Kongres KM-ITB 2010/2011 dan 14 bulan sejak saya dilantik menjadi senator, akhirnya usai sudah tugas saya. Banyak hal yang didapatkan selama berkecimpung di kemahasiswaan terpusat, bukan hanya rapat malam, diskusi, dll., tetapi juga sahabat-sahabat baru.
  • Rangkaian Tugas Akhir: Tugas akhir saya sebenarnya sudah diinisiasi sejak akhir 2010, namun baru pada awal 2011 saya mulai semangat mengerjakannya. Tidur di lab, berkunjung ke SITH, bolak-balik setting alat, ditambah beban kuliah s2 yang berat membuat pengerjaan TA saya makin lengkap. Untung saya tidak sendiri, ada sahabat saya yang selalu memberikan semangat untuk berjuang bersama.
  • Menjadi seorang jomblo (lagi): Di sela-sela pengerjaan TA, saya putus dengan pacar saya. Kenapa? Ya adalah suatu alasan yang tidak perlu diungkapkan. Yang jelas saya telah kembali menjadi seorang jomblo, hingga saat ini.
  • Wisuda Juli: Akhirnya saya mengalami acara malam dan acara siang wisudaan HME-ITB yang selama ini saya ikuti sebagai pengisi acara dan orang yang mengarak. Acara malam yang dilaksanakan di Arum Manis Cihampelas bagi saya merupakan acara yang wah. Saya nampil bersama band 2006 dan tentu saja bersama band 2007. Lebih wah lagi, saya menyanyikan lagu GIGI dan bergaya seperti vokalisnya, lengkap dengan dasi merahnya. Malam ini bertambah indah ketika saya mendapatkan award wisudawan teridola. *Nampaknya para pengisi polling salah mendeskripsikan teridola sebagai wisudawan yang paling mengidolakan seseorang, bukannya si wisudawan yang teridola. Hehehe
  • Kebimbangan antara Fast Track dan Korea: Seusasi lulus, saya mengikuti fast track ITB dan sudah mulai kuliah. Di tengah-tengah berkuliah, datanglah surat pengumuman bahwa saya diterima berkuliah di Inje Univetsity, Korea. Mulailah kebimbangan itu dimulai. Pertimbangan berbagai macam faktor bermunculan di kepala saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berkuliah di Korea.
  • s2 di Korea: 31 Agustus 2011 adalah hari keberangkatan saya ke Korea. Keluarga saya menemani saya dalam perjalanan Solo-Jakarta, kemudian saya melanjutkan perjalanan Jakarta-Incheon dan Incheon-Busan seorang diri. Sampailah saya di Korea dengan selamat dan sentausa.
  • Menonton Konser KPOP untuk pertama kali: Sudah jelas saya di Korea tidak akan berada di lab terus-terusan. Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah jalan-jalan, termasuk perjalanan ke Daegu untuk menonton Asia Song Festival 2011 di Stadion Daegu. Ini adalah pertama kalinya saya melihat konser yang bukan konser band, ditambah lagi ini di Korea.
  • Tampil di panggung internasional pertama kali: Menjadi pelajar S2 bukan berarti mengesampingkan hobi dan passion saya dalam bermusik. Ketika ada kesempatan, maka saya pun nampil di sebuah event internasional di Busan.
  • Menjadi pembicara di Korea Multimedia Society 2011: Ini baru pelajar s2 sesungguhnya, mngikuti seminar. Tidak hanya ikut, namun juga menjadi pembicara di salah satu sesi.

Solo Traveller

Yes! It is me. Kesana-kesini, ngalor-ngidul, ngetan-ngulon mengunjungi beberapa daerah dan tempat menarik di Korea Selatan, seorang diri. Banyak yang bilang saya freak, aneh, nggak punya teman, dll. Ok, kalo freak, bisa saya pastikan saya tidak freak. Masih normal-normal saja. Teman? Untuk teman asal Indonesia sekampus memang tidak punya, tapi di kampus ini saya punya banyak teman. Kalau aneh, ya mungkin. Kenapa mungkin? Karena saya lebih bisa menikmati jalan seorang diri daripada rombongan. Alasannya:

1. Saya bebas kemana-mana tanpa mempedulikan perasaan orang lain
2. Saya bisa membeli barang apapun tanpa perlu malu
3. Saya bisa gagal menawar barang dan mendapatkan harga barang mahal namun tidak akan ada yang menyalahkan saya atas hal itu
4. Saya bisa berlama-lama di suatu tempat atau hanya berkunjung sesaat di tempat tersebut
5. Jika saya menemukan tempat yang tenang dan nyaman, saya bisa langsung merenung tanpa harus memikirkan orang lain

Akan tetapi, ada satu kerugian bersolo travelling, yaitu susahnya mendapatkan foto objek dengan kita berada di foto tersebut. Mungkin bisa meminta tolong orang lain yang ada di situ untuk memfoto kita, tapi apa ya mau minta foto terus-terusan. Bisa juga memasang self-timer pada kamera dan lari untuk berfoto bersama background yang kita inginkan. Namun akan sangat aneh dilihat jika ada seseorang yang berlari-lari, berpose, dan kemudian kembali ke kamera dengan berjalan sambil mengecek hasil fotonya, meskipun saya sering melakukan hal ini, terutama ketika tidak ada/hanya ada sedikit orang.

So, semua kembali ke diri kita masing-masing. Lebih nyaman berjalan-jalan sendirian atau bersama teman-teman. Yang penting sama-sama bisa menikmati perjalanan.

Salam travelling!

Gunakan Aku

Saya tiba-tiba teringat sebuah penggalan lirik dari reff lagu Nugie yang berjudul Teman Baik,

“Teman baikku berkata, gunakan aku…”

Seakan tersentil, saya pun teringat bahwa saya mempunyai banyak sekali teman, baik itu teman SMA maupun teman saat kuliah. Untuk apa sih kita berteman? Bukan sekedar menambah friend di facebook, kan?

Ya, teman memang harus digunakan. Mungkin teman kita lebih pandai, lebih punya uang, ataupun memiliki link lebih banyak dibanding kita. Minta tolonglah pada mereka, karena mungkin mereka akan meminta bantuan kita pada suatu saat nanti.

Kopi

Asap putih mengepul dari kopi hitam di sampingku

Aku terdiam

Menanti inspirasi datang bagaikan menanti kapal haji Indonesia sampai ke Arab

Mencari semangat bagaikan mencari kotak hitam di puing-puing pesawat

Memulai mengetik bagaikan memulai berenang lagi setelah tenggelam

Menatap layar putih yang polos

Lama, lama, lama

Berharap bidadari akan mengerlingkan matanya padaku

Melirik pun tidak

Ah,

Kopi hitam mendingin, otakku tak kunjung panas

Kapan layar ini akan terisi?

Tentang Teman Saya

Saya mempunyai seorang teman, sebut saja inisialnya BTL. Dia adalah seorang pria yang putih, keriting, dan cukup menari (seharusnya) bagi para wanita. Tapi apa daya, si BTL ini memiliki nasib yang kurang baik di hadapan para wanita.

Kisah cinta BTL bermula bahagia ketika dia sempat berpacaran dengan teman SMPnya, sebut saja S. Setelah putus dan sampai sekarang, BTL belum memiliki kekasih lagi.

Awal SMA, BTL sempat naksir dengan WRS, seorang wanita cantik asal Boyolali. Kegagalan pertamanya, dia dijauhi oleh WRS. Akhirnya dia berganti haluan untuk ngeceng ke ASKD. Dia pun ditinggal jadian oleh wanita tersebut.

Kelas 2, BTL kembali mendekati seorang wanita, dan kali ini berinisial FRA. Dia cukup dekat dengan FRA, bahkan sempat main ke rumahnya sampai bertemu bapaknya. Namun sayang, dia kembali ditolak tepat di kafe MX. Kembalilah dia mencari pelabuhan lain dan dia menemukan wanita, sebutlah AS. Wanita imut ini juga cukup dekat dengan BTL, sering ngobrol dll. Sayangnya si AS ini keburu jadian dengan seorang pria lain.

Tinggallah BTL sendirian sampai lulus SMA. Pada saat kuliah, BTL kembali mendekati ASKD, namun sayang ASKD terlanjur dekat dengan sahabatnya sendiri. Dia pun mencari ke sekitar kampusnya, dan dia menemukan incaran lain, sebutlah DM. Jalan bareng, nonton bareng, sayang, kembali BTL ditinggal jadian.

Inillah kisah sedih dari teman saya, BTL. Mari kita berdoa bersama agar nasibnya menjadi lebih baik ke depannya. Amin.

Apa Jadinya?

Apa jadinya jika ada beberapa bahan berikut dan dicampurkan semuanya?

Kecerdasan,
Bakat bermain musik,
Kepercayaan diri,
Motivasi tinggi,
Kesombongan,
Keceriaan,
Kesendirian,
Ketenangan,
Keseriusan
Kepemimpinan, dan
Ketenaran

Tebaklah apa yang akan terjadi?