Andai Aku Tahu Apa Judulnya (Part 2)

Esok harinya dia sudah merasa baikan. Setelah sholat subuh di kamar kosnya, dia menonton TV sebentar. Pemuda itu memang tidak pernah jamaah sholat subuh di masjid. Itu bukan karena dia malas, namun saat pertama kali dia di Bandung, dia ke masjid itu saat subuh. Tapi ternyata pintu masuk masjid itu terkunci. Dia tidak bisa masuk, akhirnya dia selalu Sholat subuh di kos.

Setelah merasa cukup melihat berita olahraga di TV, ia segera mengambil handuk dan mandi di kamar mandi bawah. Dia selalu mandi paling awal agar tidak perlu antri mandi dengan teman-teman kosnya. Setelah mandi, dia membuat susu sereal untuk sarapan. Dia memang jarang makan pagi. Karena jadwal kuliahnya selalu pagi, dia tidak sempat mampir ke kantin Salman sebelum kuliah. Akhirnya tiap pagi dia hanya meminum susu sereal. Dia kemudian bersiap-siap berangkat. Dengan memakai celana jeans dan kemeja balap favoritnya, dia berangkat. Langsung saja dia ke jalan raya untuk menunggu angkot putih dengan strip merah, kuning, hijau Panghegar-Dipati Ukur. Setelah menunggu kira-kira 10 menit angkot datang dan dia pun berangkat.

Di depan ruang ujian, teman-temannya sudah banyak yang datang. Tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya.

“Hoi Sep! Piye? Awakmu wis apikan durung?

Ternyata itu adalah temannya yang berasal dari Malang, Syafiq.

Alhamdulillah. Wis rada mendingan. Mau yo wis mlayu-mlayu, wedi telat.” Jawabnya.

“Ayo masuk, Sep. Pengawasnya udah di dalam.

Akhirnya, dengan perasaan yakin dan tenang, Septian memasuki ruangan ujian, Dengan bersenjatakan bolpoin hitam kesayangannya dan pensil 2B dia mulai mengerjakan soal demi soal.

Setelah selesai, para mahasiswa pun keluar dari ruang ujian dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang tersenyum, tertawa, cemberut, kecewa, dll. Namun Septian keluar dengan wajah cerah. Ia merasa bisa mengerjakan dengan lancar, meskipun soal hitungannya hanya dia kerjakan seadanya karena dia tidak membawa kalkulator. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada SMS dari Bram, temannya yang juga dari Solo.

SEP, NTAR MAGHRIB AYO AMBIL JAKET WIKA.

Segera setelah membaca sms tersebut, ia menuju tempat parkir motor utara ITB dimana Bram sering memarkir motornya. Setelah melihat sekeliling, akhirnya dia menemukan Bram.

“Hoi, Bram! Ambil jaketnya nanti sore? Bukannya disuruh sehabis liburan?” tanyaku.

“Aku udah telepon. Katanya udah jadi. Nanti sore tinggal ambil. Ntar aku jemput jam 5. Kamu langsung standby depan kos ya habis aku sms. Kamu langsung bawa barang-barang aja. Ntar kita berangkat bareng anak-anak naik angkot Cisitu aja.” Katanya.

“Beres, Bram.”

Septian pun pulang ke kosnya. Tapi sebelum pulang, dia sempatkan mampir ke toko roti Kartika Sari untuk membeli oleh-oleh untuk keluarganya. Setelah sampai kos, dia segera packing barang-barang yang akan dia bawa pulang nanti. Kemudian dia pun beristirahat agar kondisinya lebih fit lagi.

One thought on “Andai Aku Tahu Apa Judulnya (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s