Andai Aku Tahu Apa Judulnya (Part 3)

Sore harinya, seperti yang dijanjikan, jam 5 Bram mengirim sms padanya. Dia pun segera bersiap turun membawa barang-barang yang akan dia bawa pulang. Setelah mengecek ulang kamar dan menguncinya, Ia berpamitan pada ibu kosnya. Dia pun keluar dan pergi mengambil jaket bersama Bram.

Dalam perjalanan, hujan gerimis kembali turun. Septian yang kondisi badannya belum begitu sehat menggigil sepanjang jalan. Namun dia tidak memberitahu dan menunjukkannya kepada Bram. Dia takut Bram akan khawatir. Akhirnya dia hanya menahan rasa menggigilnya. Mereka berdua berhenti di masjid untuk sholat Maghrib. Mereka terlambat untuk sholat berjamaah, akhirnya mereka berdua membuat jamaah sendiri. Septian yang dianggap Bram lebih pandai dalam hal agama pun menjadi imam.

Mereka pun segera melanjutkan perjalanan ke tempat jaket seusai sholat maghrib. Sesampainya di sana, mereka dikagetkan karena sang bos jaket mengatakan bahwa jaketnya belum siap.

“Lho!? Gimana sih? Katanya maghrib uda jadi? Terus jadinya kapan?” teriak Bram kepada bos Jaket.

“Wah maaf, Mas. Tadi tukang bordirnya pulang sebentar, jadinya sebagian belum jadi. Paling-paling sebentar lagi sudah jadi.” Jawab Bos dengan takut karena Bram marah.

“Mas, kereta kami berangkat jam 8. Kalo nunggu jaket, kira-kira cukup gak waktunya?” Septian bertanya dengan tenang.

“Insya Allah beres, Mas. Ini Cuma tinggal 5 jaket lagi.” Jawabnya.

Akhirnya mereka terpaksa menunggu jaket tersebut seraya sekali-sekali melihat jam tangan. Mereka sangat gelisah, khawatir mereka ketinggalan kereta. Akhirnya, pukul 7 tepat, jaketnya pun siap diambil. Setelah melunasi pembayaran dan terjadi serah terima jaket, Septian dan Bram pun bergegas memacu motornya ke kos Bram. Di belakang mereka sayup-sayup terdengar suara,

“Mas, maaf ya atas ketelatan jaketnya!”

Bram ngebut. Dia memacu motornya dengan sangat kencang. Dia masih harus packing beberapa barang lagi. Sedangkan di belakang, Septian merasa lebih tenang karena dia sudah mempersiapkan semua barang yang akan dia bawa.

“Bram, kamu boleh ngebut asal aman.” Katanya.

Dan seperti dicambuk, Bram memacu motornya lebih kencang lagi. Perjalanan sepanjang jalan Surapati dilalui mereka dengan secepat kilat. Sampai akhirnya mereka mulai melambat di dekat jembatan Pasopati karena banyak mobil yang antri di lampu merah. Setelah lewat lampu merah, Bram kembali memacu motornya di sepanjang Jalan Juanda langsung menuju kosnya di Cisitu. Akhirnya mereka sampai Cisitu dengan selamat pukul 7.20.

“Sep, kamu tinggal di sini aja. Tolong pesenin nasi goreng dua bungkus buat ntar makan malem. Aku mau ambil barang dan manggil Surya.” Kata Bram terburu-buru.

“Beres. Cepet ya. Udah mepet banget nih.” Jawab Septian sambil pesan dua bungkus nasi goreng.

Beberapa waktu kemudian, Bram dan Surya sudah siap. Nasi goreng pun sudah jadi. Setelah Septian membayarnya, mereka bertiga langsung menunggu angkot ungu Cisitu. Beruntung ada angkot kosong. Mereka pun langsung naik. Dan mereka berharap agar Cihampelas tidak macet.

Angkot pun berjalan perlahan. Dan ternyata harapan mereka tidak terkabul. Cihampelas macet total. Septian melihat jam tangannya, 7.45.

“Ampun deh! Semoga aja nggak telat naik kereta.” Doa Septian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s