Evolusi Permintaan Maaf

1 Syawal 1428 H (ni dulu mau dipublish, tapi belum punya blog). Anggap aja late posting

Permintaan maaf saat lebaran telah mngalami suatu evolusi. Masyarakat yang pada awalnya penuh dengan rasa persaudaraan, non-materialistis, dan saling menghargai rela menghabiskan berliter-liter bensin mobil dan motor mereka hanya untuk mengunjungi saudara maupun kerabat mereka yang berada nun jauh di sana hanya untuk sekedar mengucapkan,”Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir bathin.” Sungguh suatu hal yang sangat menyentuh hati.

Seiring waktu berjalan, muncullah alat-alat mutakhir dan canggih, seperti telegram, surat, telepon, ponsel, internet, 3G, dll. Dan hal itu sedikit banyak telah merubah perilaku masyarakat. Masyarakat yang pada awalnya rela membuang bensinnya untuk mengunjungi saudaranya, mulai muncul sifat irit (pelit)nya. Mereka tidak lagi mau membuang bensin mereka. Sebagai gantinya, mereka menggunakan sarana komunikasi jarak jauh paling awal, yaitu surat.

Dengan bergesernya kunjungan ke surat, tentu saja membuat pengucapan selamat lebaran dan permintaan maaf lebih cepat dan efisien. Tapi apakah cukup efektif? Kita lihat, sebagian besar orang yang menerima sms selamat lebaran langsung menghapus sms tersebut setelah membalasnya. Dan mereka pun membalasnya hanya karena “kewajiban” membalas sms, bukan karena benar-benar ingin meminta maaf.

Itu dilihat dari sms. Sekarang marilah kita lihat dari email ataupun chatting. Email hamper sama dengan surat. Setelah diterima, dibaca, kemudian disimpan tanpa ada niat untuk membacanya lagi. Lama-kelamaan memori untuk email penuh, dan email itu pun dihapus. Lain halnya dengan chatting. Chatting hanyalah kalimat yang diketik saling berbalasan antara kedua orang. Saat salah satu mengetik mohon maaf lahir batin, ya dapatkah kita menjamin bahwa itu tulus? Marilah kita renungkan dalam hati. Setelah membacanya, kita langsung membalasnya secara serampangan pula. Tuluskah ucapan kita itu?

Singkatnya, teknologi benar-benar telah mengefisiensikan waktu dan menghemat biaya untuk mengucapkan selamat lebaran dan memohon maaf lahir batin. Tetapi, teknologi itu sendiri telah mngurangi bahkan menghilangkan esensi dan kesakralan ucapan itu. Hilanglah ketulusan kita saat mengucapkan hal itu. Jadi, kita sendirilah yang menentukan mana yang lebih baik. Mengunjunginya secara langsung untuk mengucapkan selamat lebaran, mengucapkannya melalui media canggih (telepon, email, chatting, dll.) tanpa perasaan tulus, atau memaksimalkan fungsi alat-alat tersebut dan menggunakan hati kita secara penuh saat mengucapkan permintaan maaf. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s