Panitia INKM (Antara Pengalaman, Jodoh, dan Ketidakfairan)

OK, satu lagi posting untuk menyela cerita tentang liburan saya. Satu cerita tentang INKM. Apa sih INKM? INKM adalah kependekan dari Inisiasi Keluarga Mahasiswa ITB. Ini adalah acara ospeknya ITB (tahun lalu istilahnya PMB). Nah, seperti acara-acara lain, diadakan oprek panitia INKM. Dan tentu saja untuk INKM 2008, panitianya adalah anak 2007. Oprek ini dimulai sejak sebelum liburan semester dimulai, dan cukup banyak yang mendaftar.

Anak-anak yang sudah mendaftar awal dengan rela memotong waktu liburannya di kampung masing-masing hanya untuk megikuti diklat-diklat nggak jelas. Saya ambil contoh teman saya (sesama warga Solo), rela hanya liburan 4 hari di Solo (Gile bener, saya yang sudah 2 minggu aja kurang…) dan sisanya di Bandung untuk megikuti diklat tersebut. Saya berpikir, “Wah ini anak niat banget buat jadi panitia INKM.”

Dari beberapa sampel mahasiswa yang saya tanya, banyak yang ikut INKM benar-benar karena ingin belajar dan mencari pengalaman. Mereka ingin ,emdapatkan pengalaman dan pengetahuan dari diklat-diklat dan pelaksanaan INKM itu sendiri. Namun ada juga sampel yang saya tanyai menjawab bahwa mereka ikut INKM karena ingin cari gebetan anak 2008. Ya, sah-sah aja sih. Kali aja bisa dapet jodoh maba. Tapi ingat, “Semua amal bergantung niatnya.” Hehehe.

Satu hal yang perlu saya bahas adalah Ketidakfairan. Dari cerita saya di atas, terlihat bahwa orang-orang yang benar-benar niat menjadi panitia rela menghabiskan waktu liburannya di Bandung. Dan inti dari Ketidakfairan tersebut adalah, dilantiknya mahasiswa yang baru bergabung tepat saat malam pelantikan tanpa syarat tambahan! Mungkin mahasiswa tersebut dengan girangnya berpikir, “Wah asik, gw jadi panitia INKM.” Tapi sungguh tidak fair jika orang yang sampai rela menghabiskan liburannya di Bandung dilantik bersamaan dengan orang yang baru datang pada saat malam pelantikan. Kalau saya jadi orang pertama yang niat INKM sampai-sampai hanya liburan sebentar di kampung, saya akan langsung protes kepada panitia INKM dan meminta mereka tidak melantik orang yang baru datang tersebut. Jika memang panitia INKM membutuhkan orang, berikanlah mereka tugas sebagai konsekuensi ketidakikutan mereka pada diklat-diklat sebelumnya.

Satu pertanyaan yang perlu direnungkan bersama, Inikah ITB sekarang? Inikah yang disebut Institut Terbaik Bangsa?

5 thoughts on “Panitia INKM (Antara Pengalaman, Jodoh, dan Ketidakfairan)

  1. yah gapapa asal masih mau kerja. toh yg ikut diklat dapet experience yang lebih…

    ITB? Institut Terbaik Bangsa? ITB sudah lama kehilangan gelar sebagai institut terbaik di negri ini. Yang benar adalah institut dengan putra putri terbaik bangsa yang ego nya ‘terbaik’ pula… Kalo gak segera berbenah kita bisa semakin ketinggalan dengan sekolah” tinggi lainnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s