Hukum Positif

Yang saya dapatkan dari mata kuliah akustik selain akustik itu sendiri adalah pengetahuan tentang hukum. Sebut saja nama dosen saya Pak Joko. Beliau adalah seorang ahli dalam bidang speech recognition, dan dia juga yang menghadapi kasus Artalita Suryani dkk. Beliau berkata bahwa sebenarnya sistem yang dia buat ini tidak diperlukan apabila hukum di Indonesia menerapkan hukum seperti di luar negeri, dimana ada juri di tiap persidangan.

Kalau di Indonesia pakai juri, tidak perlu dibuat sistem untuk menentukan frekuensi suara secara tepat dan akurat. Manusia suda memiliki microphone paling hebat sedunia, yaitu telinga. Jadi sebenarnya cukup perdengarkan rekaman pembicaraan kepada para juri dan mereka akan menilai. Ketika sebagian besar dari mereka mengatakan benar, maka benar. Tidak perlu diragukan lagi.

Sayangnya hukum di Indonesia adalah hukum positif yang benar-benar objektif. Kasarnya, misalnya jelas-jelas si A membunuh tetapi tidak ada barang buktinya, maka si A tidak bisa dituntut atas kasus pembunuhan tersebut.

Yah, entah hal ini positif atau tidak. Yang jelas, yang namanya kebenaran cuma ada satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s