Kepastian yang Kutunggu

sebuah kisah tentang penyesalan yang mendalam

Kelasku benar-benar kosong. Belum ada temanku yang datang. Baru aku sendirian. Kupandangi berkali-kali jam dinding kelasku, masih jam 6.15. Sepertinya aku memang berangkat terlalu pagi, pikirku. Sambil menunggu teman-temanku, seperti biasa, aku memejamkan mataku untuk tidur. Tidak beberapa lama, saat aku terhanyut dalam dunia tidurku, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.

“Mand, bangun!”

Aku kaget, kubuka mataku untuk mencari tahu siapa orang yang menepuk bahuku.

“Eh, Ran! Uda dateng?”

“Udah, Mand. Kamu pagi banget datengnya?” tanyanya.

“Tadi nganter adikku dulu. Dia ada kelas pagi, jadi mau gak mau harus berangkat pagi. Kamu sendiri, kok dateng pagi juga?”

“Sama. Kan adikku juga kelas 3 SMP.”

“Ooh…”

Hening sejenak di antara kami.

“Mand…” Tiba-tiba Rani memanggilku.

“Ya?” tanyaku.

“Gak jadi ah.” Jawabnya seraya berjalan keluar kelas.

Dengan kebingungan, aku melihat Rani berjalan keluar kelas menuju kelas Rara, sahabatnya. Aku kembali ke alam tidurku. Lumayan, masih setengah jam lagi sampai sekolah mulai.

Hari itu pelajaran terasa sangat membosankan. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kewarganegaraan, dan agama. Ah, kenapa juga yang bikin jadwal. Kenapa hari ini pelajaran mengantukkan semua, pikirku dalam hati. Akhirnya, yang kutunggu datang juga. Bel pulang. Segera saja kuambil tasku dan meluncur ke kantin. Aku sangat lapar, saat istirahat aku tidak sempat makan siang. Di kantin, aku bercakap-cakap dengan bu kantin.

“Eh nak Armand, tadi waktu istirahat ada cewek dua yang ngomongin kamu lho.” Katanya.

“Ah yang bener, Bu? Siapa?”

“Nah itu dia, bu gak tau. Tapi kalo dari yang ibu denger, kayanya salah satunya naksir nak Armand lho.”

“Ah, ibu ini. Bisa-bisanya nguping pas jaga warung. Udah lah, Bu. Jangan dipikirin. Lha wong saya aja tenang-tenang aja.”

“Hehehe, ya terserah kamu aja, Nak.”

Setelah selesai makan siang, aku segera menuju parkiran untuk mengambil mobilku. Di depan gerbang sekolah, aku melihat Rani berdiri.

“Ran, kamu belum pulang? Nunggu jemputan ya?”

“Iya, Mand. Ayahku belum dateng. Kamu sendiri belum pulang? Pasti mampir ke kantin dulu buat makan siang!”

“Yup. Aku tadi laper banget. Jadi ya harus isi bensin dulu.”

“Kamu mau pulang, mand? Gak ikut les dulu? Biasanya kamu paling rajin kalo disuruh les.”

“Gak. Lagi males aja. Pingin istirahat di rumah dulu.”

“Hmm, Mand…” Lagi-lagi Rani memanggil namaku.

“Iya?” tanyaku.

Sebelum Rani sempat melanjutkan kata-katanya, ayahnya datang. Dia pun tergesa-gesa meninggalkan aku. Tapi sebelum dia pergi, dia sempat mengatakan hal yang aku tidak mengerti.

“Aku tunggu.”

Aku pun bertanya-tanya. Apa maksud Rani dengan aku tunggu? Dengan perasaan bingung, aku pulang. Sesampai rumah, aku sudah terlupa akan ucapan Rani tadi. Aku pun tertidur.

Aku terbangun karena ponselku berdering. Sambil terkantuk-kantuk, kuambil ponselku dan kulihat layarnya. Ternyata sebuah pesan baru dari Rara. Tumben Rara sms aku, kataku dalam hati. Kubuka pesan itu.

JANGAN TERLALU LAMA, MAND

Apa pula maksudnya mengirim sms seperti itu padaku? Kuberpikir sesaat mencari apa kira-kira maksud dari sms Rara. Karena aku masih tak mengerti, kutinggal saja sms itu. Kuanggap seperti angin lalu.

Keesokan harinya saat istirahat, aku melihat Tanto, kakak kelasku, masuk kelasku. Ngapain juga anak kelas 3 masuk ke kelas 2, pikirku. Aku tak peduli, aku pun keluar kelas bersama teman-temanku.

“Mand, ayo sepakbola aja!” teriak Abin dari kejauhan.

“Ok! Aku ke sana!”

Kami pun bermain sepakbola di halaman sekolah tanpa memikirkan Tanto lagi. Namun, aku tidak menyadari bahwa hal itu sebenarnya akan membuatku kecewa untuk selamanya.

Beberapa hari berlalu, aku masih sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Tapi ada satu hal yang membuatku berbeda. Aku merasa sedang jatuh cinta. Dan aku jatuh cinta pada Rani. Setelah kami saling berbicara, berkirim sms, dan jalan baren teman-teman, aku merasa aku benar-benar jatuh cinta.

Kucari waktu dan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku pada Rani. Dan aku memutuskan bahwa besok aku harus segera mengatakannya pada Rani sebelum terlambat. Malam harinya, aku pun menyiapkan mentalku untuk nembak Rani dan berdoa dengan harapan dia akan menerima cintaku.

Keesokan harinya, aku merasa benar-benar siap mental untuk menembak Rani. Sesekali aku memandang Rani dari kejauhan, dan dia hanya menatap mataku sekilas, dan langsung mengalihkan pandangannya. Bukan Rani yang biasanya sering bertatapan mata denganku untuk waktu yang cukup lama.

Dan benar, mentalku runtuh seketika ketika saat istirahat mendengar kabar bahwa Rani jadian dengan Tanto. Hatiku serasa hancur berkeping-keping ketika mendegar hal itu. Untuk memastikannya, aku menghampiri Rara dan bertanya,

“Bener si Rani jadian sama Tanto?”

“Bener, Mand. Kamu terlambat.” Jawab Rara.

Langsung aku kehilangan semangat hidup. Dengan tubuh lemah lunglai tanpa semangat aku mengikuti pelajaran hari itu. Aku pun pulang dengan membawa banyak kekecewaan. Di mobil, radio memutarkan sebuah lagu.

Tanya hatimu, benarkah dirimu masih mencintai aku

Bukankah dahulu kaulah yang menunggu pernyataan cinta dariku

Tanya hasratmu, benarkah dirimu masih membutuhkan aku

Bila tlah berubah, bicara padaku. Kepastianlah yang kutunggu.

Sunggu bodoh! Aku tidak menyadari bahwa Rani mencintai aku. Aku tidak pernah menyadari bahwa saat Rani mengatakan aku tunggu, dia ingin menunggu aku mengucapkan perasaanku padanya. Dan aku pun tidak menyadari maksud dari SMS Rara agar aku jangan terlalu lama artinya aku harus segera menyatakan perasaanku pada Rani sebelum Tanto.

Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Hanya sesal yang tersisa sampai aku mendengar suara seorang wanita memanggilku,

“Mand…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s