Mie

Seorang pria setengah baya berjalan di sebuah jalan setapak yang gelap membawa sekarton mie instan. Wajahnya dihiasi dengan kerutan-kerutan yang telah memakan usianya.  Dia tetap dapat menikmati rokoknya meskipun kedua tangannya memegang karton itu. Dikepulkannya asap putih dari mulutnya ke udara dingin malam yang menusuk-nusuk tubuhnya. Rokoknya tinggal separuh, dia membuangnya ke genangan air hujan beberapa jam yang lalu.

Dia sampai kes ebuah rumah tua serba hijau dengan pohon manga besar di depannya. Cat tembok rumah itu pun berwarna hijau, dan di sudut rumah terdapat lumut hijau yang tunbuh tak beraturan. Diletakkannya kardus mie itu di lantai. Dia mengetuk pintu kayu yang dicat berwarna hijau muda. Tak lama, seorang gadis membuka pintu. Pria itu masuk ke dalam rumah diikuti gadis itu yang membawakan kardus mie. Si pria menyibakkan tirai dan masuk ke kamar dan dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tua yang reyot. Tak lama kemudian dia telah memejamkan matanya. Keesokan harinya,

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Di samping kasurnya, seorang wanita yang seumuran dengannya berdiri dengan berkacak pinggang, menatapnya dengan tajam.

“Hei laki-laki pemalas, bangun kau! Masih betah kau hidup seperti ini? Cepat kerja, aku ingin hidup sedikit lebih baik.”

Bukan hal yang luar biasa bagi pria itu ketika istrinya menampar pipinya untuk membangunkannya dari tidur. Dia paham istrinya sudah lelah hidup menderita bersamanya. 15 tahun mereka hidup bersama dengan keadaan sangat pas-pasan. Istrinya ingin bahagia, ia pun begitu. Ia juga sadar akan kewajibannya untuk menafkahi keluarga. Namun ia juga sadar, menjadi seorang penjual mie instan di sekretariat himpunan bukanlah pekerjaan dengan keuntungan yang besar.

Pria itu berjalan masuk ke kamar mandi dan tak lama kemudian dia telah keluar dengan wajah dan rambut basah. Dia ganti kaos oblong kucelnya dengan kemeja kuning hijau favoritnya. Dia menyisir rambutnya yang jarang-jarang, merapikan kemejanya, memakai sandal jepit hijau, dan mengangkat kembali kardus mie instan yang ia beli kemarin. Ia berangkat menuruni jalan setapak menuju kantornya.

Jam di dalam sekretariat himpunan baru menunjukkan pukul 7.30 ketika pria itu sampai di teras. Begitu ia akan memasuki bilik kecil tempatnya bekerja beberapa anak memanggilnya,

“Pak Antok! Saya mau mie goring dobel pakai telor.”

“Saya mie rebus pake telur putih aja, Pak.”

“Mie goreng polos juga, Pak!”

Anak-anak himpunan memang telah menunggu kedatangan Pak Antok. Mereka tidak sempat sarapan di rumah atau di kos dan mereka memilih untuk sarapan di kantin Pak Antok. Pak Antok selalu berharap pesanan anak-anak tiap pagi akan menjadi awal hari yang baik untuknya.

Dengan sabar dia melayani permintaan anak-anak himpunan yang mengalir terus. Satu per satu bungkus mie instan dibuka dan dimasukkan ke dalam panci berisi air mendidih. Dia aduk mie dalam panic, menunggunya matang, memberikan bumbu ke dalamnya, dan memberikannya pada anak-anak. Di tengah rutinitasnya membuat mie, dia berhenti di bungkus mie instan kelima yang dia buka. Sebuah kertas putih terselip di antara mie dan bungkusnya. Dibacanya kertas itu, dan ia membaca sebuah kalimat.

SELAMAT ANDA MENDAPATKAN UANG TUNAI RP 200.000,00. TUKARKAN KERTAS INI KE TOKO TERDEKAT

Memang mie instan yang dia beli sedang mengadakan undian berhadiah langsung dari dalam bungkusnya. Wajahnya menjadi terang dan matanya berbinar. Segera ia selesaikan pesanan dari anak-anak yang telah memesannya dan dia menghentikan pesanan-pesanan berikutnya. Hatinya berbunga-bunga dipenuhi oleh keinginan mendapatkan uang dari toko tempat dia membeli kardus mie instan kemarin. 10 menit kemudian, dia telah menyelesaikannya pesanan-pesanannya. Dia kunci pintu biliknya dan kembali melangkahkan kaki dengan semangat ke toko dekat rumahnya.

Di tengah jalan Pak Antok berpapasan dengan kawannya yang juga berjualan mie di himpunan lain.

“Tok, mau kemana?”

“Ntar ya, Mar. Buru-buru, nih. Aku dapet rezeki nomplok dua ratus ribu. Hahaha”

Raut wajah Pak Mardi berubah. Wajahnya yang awalnya ceria ketika menyapa Pak Antok, kini menjadi kecut dan penuh kebencian. Dia juga telah berjualan mie cukup lama, namun selama ini ia tidak pernah mendapatkan hadiah ataupun undian apapun. Baginya, memenangkan dua ratus ribu sama dengan memenangkan undian dua milyar. Rasa irinya muncul dan mengalir mengisi pembuluh darahnya. Ia iri dengan Antok yang mendapatkan hadiah itu. Pak Antok tidak menyadari perubahan yang terjadi pada Pak Mardi. Ia malah mengeluarkan kertas dari kantong celananya dan memamerkannya pada Pak Mardi.

“Nih kertasnya! Hahaha. Udah ya, gw duluan ya.” Katanya sambil memasukkan kertas itu kembali ke kantongnya.

Belum sempat kertas itu masuk ke kantongnya, Pak Mardi tiba-tiba merebut kertas itu dari tangan Pak Antok. Pak Antok sigap, dia menghindari serangan mendadak dari Pak Mardi. Diteriakinya Pak Mardi,

“Mau apa kau? Ini hadiahku, ini rezekiku! Cari hadiahmu sendiri!”

“Masa bodoh! Aku juga butuh uang, keluargaku juga butuh uang!”

Tidak ingin terlibat dalam perkelahian memperebutkan uang itu, Pak Antok lari menjauh dari Pak Mardi. Pak Mardi tidak tinggal diam, dikejarnya Pak Mardi secepat dia mampu. Kedua pria setengah baya itu berlari di tengah jalan, menghindari motor dan mobil yang melintas. Hampir semua orang yang berada di jalan mengalihkan pendangan pada mereka, sesuatu yang sangat aneh bagi mereka melihat orang tua berlari-larian di tengah jalan.

Pak Antok mulai terengah-engah kehabisan nafas, kebiasaannya merokok mulai kelihatan efeknya. Dia terbatuk-batuk dengan parah. Pak Mardi melihat Pak Antok yang mulai melambat, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dijegalnya Pak Antok, dan Pak Antok terjatuh dengan wajahnya menghantam aspal jalan.

BRUK

Seorang wanita tua menjerit melihat Pak Antok yang terjatuh dan masih dalam keadaan telungkup di atas aspal. Darah segar mengalir dari kepalanya dan membasahi aspal di sekitar kepala Pak Antok. Pak Mardi terdiam, dia tidak menyangka kawannya akan terjatuh separah itu. Sedikit penyesalan muncul dalam hatinya, namun bisikan setan lebih kuat daripada rasa penyesalan. Ia ambil kertas hadiah dari tangan Pak Antok dan lari menjauh dari tempat itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung mengejar Pak Mardi untuk menangkapnya dan menghukumnya. Beberapa orang lainnya menolong dan mencoba menyadarkan Pak Antok.

Pak Antok tak sadarkan diri. Seorang pemuda menampar-nampar wajahnya agar ia bangun, tidak berhasil. Akhirnya, ada warga yang menawarkan bantuannya untuk membawa Pak Antok ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Orang-orang mengangkat Pak Antok ke mobil itu dan ia dibawa ke rumah sakit.

Pak Mardi masih berlari, ia kebingungan harus menuju kemana. Warga yang emosi masih mengejarnya dengan penuh amarah. Ia berhenti sejenak di pertigaan, dan ia memilih berlari ke kiri. Belum jauh ia berlari, tiba-tiba muncul sebuah mobil yang bergerak kencang dari sebuah belokan di jalan tersebut. Tak sempat ia menghindar, dan

BRAK

Badannya terlempar sejauh 3 meter. Darah mengalir dari kepalanya, ia tak sadarkan diri. Warga yang mengejarnya berhenti dan melihatnya dari kejauhan. Salah seorang warga berkata,

“Baiklah, ayo kita kembali.”

Tanpa perintah tambahan, mereka semua kembali ke aktivitas masing-masing. Mereka tinggalkan Pak Mardi dalam keadaan mengenaskan, kepala berdarah, kaki patah, dan tak sadarkan diri.

Di udara, kertas hadiah mie instan yang dibawa oleh Pak Mardi terbang tertiup angin dan melayang-layang. Sampai akhirnya kertas hadiah itu jatuh di depan rumah tua bercat hijau.

One thought on “Mie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s