Jaket Biru Jingga (Sebuah Cerita Tentang Kecelakaan)

Pukul 16.30 di dalam rumah

Langit tampak sangat gelap, mendung menggelayut di sana, dan hujan mulai turun. Mulai muncul pula keraguanku untuk berangkat les sore hari itu. Suasana sore itu memang enak untuk meringkuk di bawah selimut dan di atas kasur sambil melihat televisi. Apalagi jika ditemani segelas susu coklat panas. Ah, sungguh nikmat. Namun demi masa depan yang lebih baik, kusingkirkan bayangan indah tersebut. Kucuci mukaku di kamar mandi dan tak lupa kusikat gigiku.

Kuturuni tangga dengan semangat. Saking semangatnya, aku hampir terpeleset karena genangan air hujan di lantai gara-gara atap yang bocor. Untunglah masih sempat kupegang erat pegangan tangga sebelum aku terjatuh. Sisa anak tangga kulalui dengan lebih berhati-hati. Kukatakan pada pembantu yang ada di rumah untuk mengelap air hujan di tangga agar tidak ada yang terpeleset. Sesaat, pikiranku terbawa ke masa lalu.

Aku sedang makan siang ketika adik sepupuku yang masih berumur 3 tahun terpeleset dari tangga rumahku. Semua orang di rumah kaget dan bingung pada saat itu. Ditambah dengan adikku yang menangis tanpa henti sambil memegangi kakinya, kami sekeluarga bingung. Segera saja dia dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa keadaan kakinya. Dan ternyata memang kakinya patah dan perlu digips. Peristiwa yang tidak mungkin terlupa begitu saja karena terjadi tepat di depan mataku.

Kupakai sepatu kesayanganku. Sepatu kanvas yang sering disebut sepatu warrior itu sudah menjadi pijakanku selama 1 tahun ini. Warnanya yang hitam kini berubah abu-abu. Solnya yang pada muianya terekat kuat dengan bagian alas, kini mulai terkelupas di beebrapa bagian. Ujung talinya pun sudah berserabut. Tapi biarlah, aku ingin memakainya sampai aku lulus SMA dan menjadi seorang mahasiswa. Setelah memakai sepatu, aku melangkahkan kaki ke pintu depan. Belum sempat aku keluar, aku teringat kalau aku belum membawa satu barang lagi, jaket.

Aku mendapatkan jaket ini pada saat ulang tahunku saat SMP. Jaketku adalah jaket parasut berwarna biru dongker dengan aksen jingga pada bagian dada dan punggung. Kerahnya menutupi leher bila resletingnya ditutup penuh. Sebuah tali terjuntai di bagian kiri bawah jaket untuk mengencangkan bagian tersebut. Kubordir bagian punggungnya dengan inisial namaku, SZR, Sandy Zetra Rahman. Ini adalah jaket kenangan cintaku karena pernah kupakai selama aku pacaran 3 kali, baik saat SMP maupun saat SMA.

Setelah semua siap, aku menuju mobilku, sebuah MPV hitam. Sebelum berangkat, aku berpamitan dengan kedua orang tuaku yang kebetulan saat itu ada di rumah. Biasanya mereka pulang malam. Ibu sering melakukan operasi sulit yang membutuhkan waktu lama sampai malam. Ayah pun sering lembur untuk menyelesaikan laporan-laporan pekerjaan yang harus diserahkan pada bossnya. Kucium tangan kedua orang tuaku, dan entah mengapa kupeluk mereka. Suatu hal yang sangat aneh dan jarang kulakukan, memeluk orang tua. Sekali lagi pikiranku terbawa ke training ESQ yang mengajarkan tentang berbakti kepada kedua orang tua. Aku sangat ingin dapat berbakti dan membahagiakan mereka, minimal dengan menbuat mereka bangga anaknya bisa lulus dengan nilai baik dan masuk perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Aku berangkat

Jarak 12 km terasa dekat bila ditempuh menggunakan mobil. Karena saat itu magrib dan kemungkinan besar bus-bus sedang ramai keluar masuk kandangnya di terminal, aku menghindari lewat terminal. Aku memilih lewat jalan dekat stasiun karena aku tahu tidak ada jadwal kereta jam itu. Akhirnya, aku sampai ke tempat les 20 menit setelah berangkat dari rumah.

Di tempat les, seperti biasa teman-teman menyambutku. Pasti mereka berharap aku akan menraktir mereka lagi seusai les. Bak seorang artis, kulambaikan tangan dan tersenyum sok manis kepada mereka. Mereka malah menjadi kesal dan memalingkan mukanya dariku.

“Hei, hei… Kenapa kalian ini? Kenapa jadi kesal begitu? Ayo masuk kelas, bukannya ini sudah waktunya masuk?” kataku.

Aku berjalan menuju kelas dan mereka mengikutiku. Hari itu pelajarannya adalah matematika dan fisika, dua pelajaran maut bagiku dan bagi mereka semua. Namun aku merasa beruntung memilih untuk les di tempat itu. Pengajar matematika dan fisika di tempat itu sangatlah baik dan jelas dalam menerangkan pelajarannya. Alhasil, meskipun baru bisa mengerjakan 2 soal seorang diri, aku sudah merasa bahwa aku jago matematika dan fisika.

Pukul 20.30 di tempat les

Les sudah selesai. Saatnya pulang. Namun langkahku terhenti sejenak untuk mengobrol bersama teman-teman di ruang tengah tempat les itu. Sebenarnya kalau yang ada di situ hanya teman-teman biasa aku tak akan berhenti untuk mengobrol. Namun yang ada di situ adalah gadis cantik yang aku suka dan teman-temannya yang juga cantik. Aku duduk sejenak dan mengobrol bersama mereka.

Tak lama kami berbincang, mereka sudah dijemput orang tuanya. Mereka pulang dan menyisakan aku dan 2 orang anak laki-laki dari SMA lain yang tidak kukenal di ruang tengah tersisa. Karena sudah tidak ada lagi yang menahanku di sini, aku pun pulang.

Jalanan di depan tempat les sudah Nampak lengang, tidak seramai siang ataupun sore tadi. Sedikit gerimis, namun tidak masalah bagiku. Aku pun berpikir untuk lewat jalan terminal karena kemungkinan sudah tidak begitu banyak bus yang keluar masuk. Kupacu mobilku dengan tenang, tanpa terburu-buru. Dan benar saja, jalan di dekat terminal juga lengang. Mobilku dapat melaju dengan mulus tanpa halangan apapun. Lewat dari terminal, aku sudah berada di jalan lingkar luar yang langsung menuju ke daerah rumahku. Jalan itu panjang, relative lurus, tidak berlubang-lubang, dan sepi.

Melihat keadaan seideal itu, aku tergoda untuk mempercepat laju mobilku. Kutekan pedal gas sedikit lebih dalam, mobil melaju. Kulihat keadaan masih aman, kutekan pedal gasku lebih dalam lagi. Aku merasa ini belum cukup cepat. Sekali lagi kulihat keadaan sekitar dan kutekan lagi pedal gasku hingga mobilku melaju 100km/jam. Bukan kecepatan maksimalku memang, namun aku masih memperhitungkan keadaan yang gerimis.

Dalam keadaan mobil masuk gigi 5 dan melaju 100km/jam, jalan sedikit menanjak. Di depan ada mobil pick-up yang berjalan lambat. Aku tak sabar bila harus mengikuti mobil itu dari belakang. Kuambil mobil itu dari sebelah kanan. Ya, hampir tersalip, pikirku. Saat berpikir seperti itu, tiba-tiba di tengah jalur yang berlawanan ada motor yang hendak menyebrang. Aku sedikit terlambat menyadari keadaan itu. Sambil mencoba mengerem, kutekan klakson dan kunyalakan lampu dimku agar dia diam dan tidak maju menyebrang. Sayang, dia tidak menyadarinya, dan aku tidak berhasil mengerem mobilku sampai berhenti. Mobilku menabrak motor yang sedang menyebrang itu.

BRAK!!!

Kuterbangun dalam posisi masih memegang setir mobil. Kulihat posisi mobilku, melintang tepat di tengah jalan. Pintu mobil tempatku keluar masuk sudah tak ada. Entah bagaimana bisa ia terlepas dan terhempas. Kucoba kuingat apa yang baru saja terjadi. Yang kuingat hanyalah aku menabrak motor yang menyebrang dan tiba-tiba aku terbangun dalam posisi seperti ini.

Kulihat orang-orang mengerubungi mobilku seakan-akan mereka ingin menghancurkannya. Tak kuhiraukan mereka, aku keluar dan segera menghampiri motor yang kutabrak. Ternyata bukan Cuma seorang yang ada di motor itu, melainkan dua orang, seorang laki-laki setengah baya dan anak lelakinya yang mungkin berumur 5 tahun. Kulihat keadaan mereka, mengenaskan. Dari kepala si laki-laki mengucur darah segar yang membasahi aspal. Tangannya patah, bagian sikunya sudah tak bersendi lagi. Kulihat kakinya, terlihat daging betisnya terkoyak hingga bisa kulihat dagingnya. Di samping si laki-laki, anaknya menangis tiada henti melihat keadaan ayahnya. Anak itu baik-baik saja nampaknya.Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan?

Lututku tak dapat menahan beban yang kubawa saat itu dan aku terjatuh. Aku telah menabrak seorang laki-laki dan membuatnya dalam keadaan yang mengenaskan. Aku juga telah membuat si anak mengalami shock yang sangat parah dan mungkin terbawa hingga ia dewasa nanti. Dan satu hal yang kutakutkan, sekolahku. Mungkinkah aku masih bisa mengikuti ujian akhir? Akankah aku diskors dari sekolah, atau mungkin aku malah dikeluarkan? Pikiran liar makin bermunculan di otakku. Ataukah aku akan dipenjara, menghabiskan beberapa saat atau mungkin seumur hidupku dalam ruangan berjeruji besi?

Kukuatkan diriku dan berdiri lagi. Aneh, kulihat orang-orang berkerumun di sekitar motor yang kutabrak dan di sekitar mobilku, namun tidak ada yang mendatangiku dan memintaku bertanggung jawab atas apa yang kulakukan. Dalam kebingungan itu, aku melangkah menuji mobilku untuk melihat keadaannya. Aku pun terdiam seribu bahasa. Kulihat sesosok anak laki-laki berjaket biru dengan aksen jingga terduduk sambil memegang setir mobil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s