Mencari Secercah Iman di Pusat Gimhae (bagian 2)

Tiba-tiba hujan kembali deras. Dengan terpaksa dan berat hati sekali, saya memasuki toko GS25 dan saya membeli… payung. Ya, saya telah mengorbankan idealisme saya untuk tidak berpayung demi kesehatan saya di sini. 8000 Won, cukup mahal untuk sebuah payung, tapi akan lebih mahal untuk pengobatan apabila saya sakit.

Ok, semua sudah siap, saya menunggu bus no.8 dan saya pun berangkat menuju Gimhae. Ongkos bus ini adalah 1100 Won sampai manapun. Saya duduk manis di belakang supir dan menunggu sampai papan pengumuman menunjukkan King’s Suro Tomb. 15-20 menit kemudian tulisan itu pun muncul. Sayangnya, saya telat menekan tombol stop sehingga saya berhenti di halte berikutnya.

Saat turun, ternyata hujan masih turun dengan lebatnya. Saya pun berjalan tanpa arah yang jelas karena saya hanya diberi informasi adanya masjid di daerah itu. Awalnya saya berjalan menuju Hanok Center. Saya pikir itu adalah pusat perbelanjaan, ternyata itu adalah sebuah kompleks rumah adat korea yang sangat cantik. Saya sempatkan memfotonya meskipun keadaan masih hujan deras.

Kembali saya berjalan dan mencari-cari seseorang yang berwajah asia tenggara dan saya tidak menemukannya. Saya memang tidak bertanya kepada orang yang saya temui di jalan, karena saya yakin dia tidak akan paham tentang apa yang saya cari. Sampai akhirnya saya melihat sebuah Tourist Information. Kali ini saya yakin siapapun yang ada di dalamnya pasti bisa berbahasa Inggris. Saya masuk dan bertanya tentang orang Indonesia di sekitar situ. Sayangnya, dia tidak tahu.

Kembali saya berputar-putar tak tentu arah. Sendirian, di tengah kota, hujan pula. Sungguh merana saya pada saat itu. Hampir 1 setengah jam saya berputar-putar, sampai akhirnya saya melihat toko yang bergambar banyak bendera negara, termasuk Indonesia. Makin menguatkan saya, di situ juga tertulis halal. Dalam hati saya berkata, Alhamdulillah, Tuhan memberikan petunjuknya padaku.

Saya masuki toko itu dan bertanya tentang orang Indonesia yang berada di sekitar situ. Penjaga toko itu menunjukkan sebuah tempat yang ternyata itu adalah Restoran Indonesia. Makin bahagialah saya. Saya naik dan saya bertemu mbak-mbak tukang masaknya.

Saya: Mbak, orang Indonesia? Bisa Bahasa Indonesia?

Mbak: Iya, bisa mas. Mau pesan apa?

Saya: (dengan tidak tahu malu) Nggak mbak, cuma mau tanya. *Saya yakin si mbak pasti berpikir bahwa saya mahasiswa yang kehabisan uang.

Mbak: Iya, apa mas?

Saya: Tahu masjid di daerah sini nggak mbak? Saya mau cari masjid buat solat.

Mbak: Oh, kalo masjid di Andong. Di sini adanya Mushola. Itu, perempatan belok kiri. Ntar liat aja plang-plang tokonya.

Saya: Wah, makasih banget mbak. Ntar kapan-kapan saya pasti makan di sini.

Saya pun turun dan berjalan menuju perempatan. Saya belok kiri, berjalan sedikit, dan saya pun melihat tulisan Masjid At-Takwa. Dengan bahagia saya naiki tangga bangunan itu. …

One thought on “Mencari Secercah Iman di Pusat Gimhae (bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s