Mencari Secercah Iman di Pusat Gimhae (bagian 3)

Sampailah saya di lantai 3. Di situ terdapat sebuah pintu dengan tulisan-tulisan Arab di depannya. Dengan yakin dan penuh perasaan gembira, saya buka pintu pintu itu sambil mengucap salam,

Assalamualaikum…

Dan alangkah kagetnya saya ketika saat itu yang terlihat di mata saya adalah 4 orang pria asing, yang saya yakin bukan orang Indonesia, sedang membuat suatu lingkaran. Karena tujuan utama saya memang mencarai masjid untuk jumatan, saya pun masuk menuju mereka dan memperkenalkan diri.

Pada mulanya mereka memandang saya dengan aneh, mungkin dipikirnya saya adalah orang asing yang ingin mengganggu mereka beribadah. Sampai saya berkata bahwa saya muslim, barulah mereka menyambut saya dengan wajah gembira. Saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia yang sedang berkuliah di Inje University Korea dan baru 7 hari berada di Korea. Ternyata mereka adalah orang-orang Sri Langka yang sebagian besar adalah pekerja di daerah situ. Setelah usai perkenalannya, tiba-tiba seorang pemuda yang bernama Muhammad Mufti mengajak saya untuk bersama-sama menghafal surat pendek.

Saya dan dia berhadapan dan bergantian membaca surat pendek, kemudian bergabunglah seorang lain yang lebih tua ke dalam grup kami. Kami menghafal mulai al-maun sampai an-nas secara bergantian. Alhamdulillah, saya masih dapat menghafal dengan baik meskipun pada saat itu hati ini deg-degan karena harus berhadapan dengan orang-orang asing.

Selesai menghafal, tibalah saat dhuhur. Dan sekali lagi, dengan tiba-tiba Mufti menyuruh saya untuk adzan. Ini benar-benar permintaan yang di luar dugaan. Saya maki deg-degan membayangkan suara adzan saya terdengar di pelosok gang-gang di kota itu. Setelah dirayu berkali-kali, akhirnya saya berdiri dan siap untuk adzan. Ketika saya bertanya di mana microphone, Mufti berkata tidak perlu menggunakan microphone, cukup adzan langsung saja dengan menghadap kiblat. Ternyata harapan saya untuk memperdengarkan suara adzan Indonesia ke masyarakat Korea tidak terwujud.

Jamaah yang ada mungkin sekitar belasan orang dan sebagian dari mereka memang orang Sri Langka dan Bangladeh. Namun ternyata ada juga seorang Korea yang solat dhuhur di situ. Selesai dhuhur, saya menghampiri Mufti untuk mengantar saya ke masjid orang-orang Indonesia, namun dia berkata agar saya menunggu makan siang terlebih dahulu. Awalnya saya menolak, tapi orang-orang lain pun meminta saya untuk makan siang terlebih dahulu. Saya pun mengiyakan permintaan mereka.

Sambil menunggu makan siang, ada lagi majelis yang dibuat oleh mereka, seperti ceramah siang. Karena saya bingung tidak ada yang diperbuat sekaligus pekewuh kalau diam dan duduk saja, saya pun bergabung dengan mereka meskipun saya yakin tidak akan mengerti dengan apa yang akan diceramahkan karena pasti akan menggunakan bahasa Sri langka. Saya duduk, dan ternyata saya cukup mudah menangkap apa yang ingin ustadz itu sampaikan. Dia menyampaikan tentang adab wudhu dan tata caranya, serta bagaimana gerakan-gerakan solat yang benar. Dari apa yang dia ucapkan, saya masih sempat mendengar doa setelah wudhu yang berbunyiAllahummaj’alni dst serta niat solat yang berbunyi Hussholli dst. Setelah kira-kira 30 menit, ceramah itu selesai dan makanan sudah ada.

Saya mencuci tangan terlebih dahulu dan kemudian duduk menghadap sebuah nampan besar yang berisi nasi. Saya duduk bersama para orang-orang tua yang ada di situ. Dia mengambil kuah kari dan menyiramkannya di atas nasi. Kami pun makan bersama di atas nampan itu dengan sayur kari berlauk ikan. Saya merasa saya bukan berada di Korea, melainkan berada di timur tengah pada saat itu. Usai makan, saya pamit kepada orang-orang di situ dan mengucapkan terima kasih atas sambutannya. Kami (saya dan Mufti) berjalan ke luar gedung.

Di luar gedung, kembali suasana yang saya rasakan adalah suasana Korea, dimana banyak orang Korea berlalu-lalang dengan bahasa Korea. Sekitar 200m (ternyata sangat dekat), sampailah kami di depan Masjid Al-Barakah. Mufti izin untuk tidak naik, saya mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepadanya. Suatu saat saya mungkin akan solat jumat di sana.

Saya naiki tangga, dan akhirnya saya bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sedang berkumpul di masjid itu. Ada yang tiduran, ada yang solat, dan ada yang sedang berkumpul dalam majelis. Saya hanya bisa berkata,

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah memberi petunjuk dan menuntun langkahku hingga aku dapat menemukan tempat ini.

One thought on “Mencari Secercah Iman di Pusat Gimhae (bagian 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s