Ber-Busan Bersama IAE-ITB (bagian 1)

Sehari setelah menemukan masjid di GImhae, saya telah merencanakan untuk pergi ke Busan. Ketika saya bilang kota saya adalah di Gimhae, tidak banyak orang yang tahu. Namun ketika saya mengatakan bahwa kota saya ada di dekat Busan, hamper semua orang tahu,meskipun mereka sering berpikir bahwa Busan itu dekat dengan Seoul. Padahal, Seoul itu ada di utara Korea Selatan dan Busan ada di ujung selatan Korea Selatan.

Nah, jadi ceritanya saya buka-buka FB dan menemukan salah satu post di home saya bahwa ada alumni elektro-itb (IAE-ITB) yang mengadakan gathering EL ITB di Korea Selatan. Saya buka linknya, dan saya TIDAK diundang. Betapa sedihnya ketika mengetahui saya yang seorang diri di Inje ini tidak diundang dalam salah satu (mungkin satu-satunya) acara yang dapat mempertemukan saya dengan mahasiswa Indonesia, khususnya ITB, lainnya. Dengan tebal muka saya tulis di comment event itu,

“Teh (karena yang mengadakan event adalah perempuan), saya boleh ikutan nggak?”

Dari situlah komen saya dibalas oleh para undangan lainnya dan setelah 2-3 hari akhirnya saya diundang secara resmi. Hahaha. Di luar wall event itu, saya masih berhubungan dan berkomunikasi dengan Teh Adin (Elektro Power 2005) yang baru saja menikah dengan Mas Anas (Elektro 2005 juga). Saya tanya-tanya mengenai bagaimana cara menuju ke Busan, naik busa apa, oper berapa kali, dll. Setelah dia mencari-cari, ternyata dari Inje ke Busan (tepatnya Busan National University) cukup ditempuh dengan naik bus kota 1 kali. Bus yang ditumpangi pun sama dengan bus yang membawa saya ke pusat kota Gimhae, hanya saja berlawanan arah.

Sesampainya di dorm setelah menemukan masjid, saya beristirahat. Malamnya saya baru melakukan packing barang-barang untuk ke Busan. Yang jelas barang-barang seperti sajadah, kamera, uang, dan paspor tidak saya lupakan. Namun ada sesuatu hal dan sesuatu barang yang pada akhirnya nanti saya sadari telah saya lupakan.

Esoknya, setelah mandi dan sarapan (mungkin lebih tepatnya sarapan dan mandi, karena di sini saya sarapan sebelum mandi), saya bergegas berangkat menuju depan kampus. Acaranya dijadwalkan dimulai jam 10 dan kata Teh Adin bus dari Gimhae ke Busan memakan waktu 1 jam. Oleh karena itu, jam 9 kurang 15 saya sudah standby di halte bus. Kira-kira 10 menit saya menunggu, bus nomor 8 pun datang, saya membayar 1100 Won (harga yang sama untuk pergi ke masjid), dan saya duduk manis di bus menuju ke Busan.

Saya diberitahu harus turun di Busandaehakyo setelah melewati 46 halte. Awalnya saya masih rajin menghitung halte, namun setelah sampai halte ke 8 saya lelah dan berhenti menghitung halte. Saya pun melihat-lihat pemandangan di jalan sambil sesekali menajamkan telinga memperhatikan pengumuman pemberhentian bus berikutnya. Setelah saya melihat keadaan di luar jendela mulai bertuliskan busan, saya berhenti melihat pemandangan dan berkonsentrasi melihat pengumuman. Deg-degan, takut terlewat atau mungkin terbawa sampai entah kemana. Akhirnya, muncul juga tulisan Busandaehakyo (dalam huruf korea). Saya tekan bel bus, dan bus pun berhenti di halte tersebut. Saya turun dari bus itu, dan saat itu juga hujan turun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s