Masjid yang Sebenar-benarnya Masjid di Gimhae

Minggu lalu saya tidak jumatan karena sedang perjalanan ke Seoul, dimana saya buta sama sekali daerah situ. 2 Minggu lalu, saya ingin jumatan di masjid yang saya temukan pada awal-awal saya berada di Gimhae. Tetapi pada itu saya sedikit shock karena di situ ditulis pengumuman bahwa jumatan dipindah ke Masjid Gimhae. 2 hal yang terlintas di pikiran saya pada saat itu adalah bingung karena harus mencari lokasi masjid yang baru dan senang karena di Gimhae ada masjid, bukan cuma ruangan yang difungsikan sebagai masjid. Akhirnya pada saat itu saya putuskan untuk jumatan di masjid Sri Langka yang terletak beberapa ratus meter dari masjid Indonesia. Sayangnya saya tidak bertemu dengan Mufti di sana. (baca cerita selengkapnya di sini)

Hari ini adalah hari Jumat, saatnya Jumatan lagi. Harapan saya adalah ada jumatan di masjid Indonesia. Saya sudah siap mental apabila tidak ada jumatan di sana, saya akan jumatan di masjid Sri Langka, meskipun puluhan pasang mata akan tertuju pada saya. Saya sampai sana pukul 12. Saya naiki tangga bangunan dan sepi. Yah, ternyata tidak ada jumatan di situ. Hanya ada 2 orang ibu-ibu seang duduk di sekitar pintu masuk masjid. Nampaknya mereka diminta menjaga masjid. Ketika dia bertanya apakah saya mau jumatan, sedikit ngeles saya menjawab bahwa saya hanya menumpang wudhu saja.

Seusai wudhu saya bertanya di mana letak masjid Gimhae itu dan mereka menjawab tidak jauh dari situ. Cukup naik taksi dan membayar 3000 Won. Berhubung saya takut telat, saya memutuskan untuk jumatan di masjid Sri Langka saja untuk hari itu. Tiba-tiba dari ruangan terdengar suara,

Berangkat bareng saya saja, mas. Sebentar lagi, saya tak siap-siap dulu.

Alhamdulillah, ternyata ada mas-mas yang juga akan berangkat jumatan. Saya menanti sejenak dan dia pun keluar. Nampaknya dia adalah pekerja Indonesia yang bekerja di Gimhae. Kami berjalan keluar dari masjid Indonesia dan naik taksi menuju masjid GImhae. Dan ternyata benar kata ibu-ibu di masjid tadi, letaknya tidak jauh. Bisa dicapai juga dengan Bus 8. Kami turun dari taksi, dan alhamdulillah lagi, mas-mas itu, yang akhirnya saya kenal namanya Iwan, membayar taksinya.

Masjid itu besar, dan berbentuk benar-benar seperti masjid. Ada kubahnya juga. Tempat wudhunya bagus dan bersih. Menurut info mas Iwan, pekerja Indonesia sering sholat Idul Fitri/Idul Adha di sana. Kami wudhu dan masuk ke ruang utama masjid. Ruangan itu cukup besar, mungkin bisa menampung sekitar 200-250 orang.

Saya sholat tahiyatul masjid dan kemudian duduk. Sudah ada khotib yang berkhotbah di mimbar. Ternyata itu adalah masjid timur tengah, tepatnya Palestina (lagi-lagi menurut informasi Mas Iwan). Khotibnya menggunakan bahasa arab yang saya jelas tidak tahu artinya apa. Tapi yang jelas saya tahu maksudnya, dia berkhotbah tentang keutamaan dan perintah sholat jumat. Kenapa saya bisa tahu? Karena dia membaca bagian-bagian dari  Surat Jumat, terutama bagian perintah untuk sholat jumat dan meninggalkan jual beli.

Kondisi yang aneh pun terjadi. Beberapa kebingungan melanda saya.

  1. Tiba-tiba khotib itu turun mimbar dan menunjuk salah seorang jamaah di depannya. Jamaah itu berdiri dan sholat dua rekaat. Beberapa orang di belakangnya melakukan hal yang sama tetapi tidak berjamaah. Kemudian khotib itu duduk.
  2. Khotib tadi mengajak salah seorang jamaah untuk berdiri, membentangkan kain, dan membawanya berkeliling. Baiklah, saya tahu ini untuk infaq, tapi kenapa khotibnya yang berkeliling.
  3. Belum reda kebingungan saya, seorang lainnya dengan pakaian khas timur tengah berdiri di depan para jamaah. Tiba-tiba terdengar takbir dari belakang. Saya berpikir ini iqomah dan pria di depan akan menjadi imam. Tapi kenapa iqomah, khotib belum duduk di antara dua khotbah dan berdoa.
  4. Ternyata itu bukan iqomat, melainkan azan. Lah, kenapa malah azan? Memangnya ada azan setelah khotbah?
  5. Pria di depan berkhotbah. Wah, terus yang dari tadi saya dengarkan itu apa?
  6. Khotbahnya singkat, ada duduk antara 2 khotbah, dan ada berdoa. Berdirilah salah seorang pria dan dia iqomat. Kembali kebingungan datang. Iqomatnya aneh. Dia menduakali-lipatkan bacaan-bacaan iqomat. Dia membaca takbir 4 kali, syahadat Allah 2 kali, syahadat Rosul 2 kali, ajakan solat 2 kali, ajakan menuju kemenangan 2 kali, qodqomatissolat 2 kali,  takbir lagi 2 kali, dan tahlil 1 kali. Waduh, kenapa gini?

Sholat selesai dan jamaah pun pulang. Saya dikenalkan dengan temannya Mas Iwan, sayang saya lupa tanya siapa namanya. Saya sudah bersiap naik bus untuk pulang langsung ke kampus. Eh, saya ditawari naik taksi (meskipun hanya sampai di masjid Indonesia). Ya minimal saya jadi yakin bahwa bus yang saya naiki benar karena memang biasanya saya naik bus dari situ. Saya berpamitan dengan Mas Iwan dan temannya, saya naik bus 97 dan kembali ke kampus dengan banyak pertanyaan mengenai sholat jumat tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s