Jangan Dikonversi ke Rupiah

Tulisan ini juga saya tulis di blog saya yang lain di http://jonimaulana.tumblr.com

Kata-kata inilah yang selalu saya coba terapkan dengan istiqomah setiap hari. Kenapa? Karena apabila saya mengkonversi semuanya ke rupiah, maka semua hal di sini menjadi mahal. Mari kita asumsikan 1 Won= Rp 10.

  • Makan siang : 2500-3000 Won di kantin dan 4000-6000 Won di restoran. Kalau di Indonesia, dengan Rp 5000 saya bisa puas makan di warung, katakanlah bu kodok.
  • Potong rambut : 9000 Won. Ini gila! Saya di Bandung potong rambut hanya membayar Rp 7000 tapi di sini saya harus membayar senilai Rp 90000. Bahkan potong rambut di Johnny Andrean saja tidak semahal itu.
  • Nonton bioskop : 9000 Won. Ini juga mahal banget itungannya. Di XXI saja, saya ‘hanya’mengeluarkan Rp 25000-Rp 35000. Bakal sangat jarang saya menonton film di sini.
  • Naik bus : 1200 Won. Ini bus dalam kota. Kalau di Bandung mungkin sekelas angkot, hanya saja beda cara naik, pembayaran, dll. Masih bisa ditolerir lah, ada trade off antara biaya dan fasilitas
  • Sabun, Shampo, dkk : Shampo ukuran besar bermerk Pantene di sini dijual seharga 8000 Won, sedangkan sabun cair ukuran sedang dijual seharga 5000 Won. Saya hanya khawatir kalau nanti sifat pelit saya muncul, bisa-bisa saya tidak mandi dan tidak keramas

Ya itulah sekedar contoh-contoh kecil kehidupan di sini. Semuanya memang mahal, jika dikonversikan ke Rupiah. Oleh sebab itu, mau tak mau harus terbiasa menggunakan Won saja ketika belanja, tanpa ada embel-embel konversi ke Rupiah.

2 thoughts on “Jangan Dikonversi ke Rupiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s