Jalan-jalan Idul Adha (bagian 3)

Setelah lelah berjalan-jalan dan cuci mata, tibalah saya di daerah terakhir untuk hari itu, yaitu Dusil. Saya turun dari subway di stasiun Dusil dan keluar via pintu 8, sesuai petunjuk Mas Harist. Saya berjalan lurus terus sambil melihat kanan, katanya nanti akan terlihat menara di sana. Kira-kira 300m saya berjalan, tampaklah kubah dan menara putih di sela-sela gedung. Sedikit mempercepat langkah, akhirnya saya sampai di Islam Centre Dusil.

Begitu masuk, saya melihat ada 3 orang duduk di kursi panjang di samping masjid. Dari bentuk-bentukannya, saya yakin mereka adalah orang Indonesia. Saya mengucapkan salam dan mereka menjawabnya. Saya ikut duduk di sebelah seorang yang sudah cukup tua. Langsung saya diberondong pertanyaan.

  • Dari mana?
  • Kerja dimana?
  • Kuliah di kampus mana?
  • Sudah berapa lama di Korea?
  • Loh, kan di Gimhae ada masjid besar juga, ngapain jauh-jauh ke Dusil?
  • dll.

Satu-persatu saya jawab pertanyaan beliau, mulai dari memperkenalkan diri bahwa saya mahasiswa adalah mahasiswa yang berkuliah di Inje University, Gimhae, dan memilih untuk sholat ied di Dusil karena ingin mencari suasana baru. Saya lanjutkan ngobrol dengan orang itu, ternyata dia bernama Pak Slamet. Sudah 7 tahun dian berada di Korea dan menjadi marbot (penjaga) masjid itu. Dia berasal dari Salatiga, tidak begitu jauh dari Solo. Tak lama kemudian beliau dipanggil dari dalam masjid, nampaknya ada tamu dari Indonesia. Mungkin imam untuk besok, pikir saya. Karena saya belum sholat magrib dan isya, segera saya ambil wudhu dan naik ke atas untuk masuk ke masjid.

Saya memasuki ruangan utama masjid, dan saya merasa benar-benar berada di dalam masjid. Perasaan ini tidak begitu besar saya rasakan di masjid Gimhae. Karpet masjid itu berwarna merah dengan dinding dan atap yang berwarna putih. Saya sholat magrib dan isya dijamak. Saya merasa benar-benar nikmat dan tenang ketika sholat di situ. Berbeda rasanya ketika saya sholat di lab atau di dorm. Saya juga merasakan nikmat yang sama ketika berdoa. Seusai menikmati sholat dan berdoa, saya kembali turun untuk duduk-duduk di kursi panjang. Pada saat itu jumlah orang yang duduk makin banyak, sekitar 6 orang, dan mereka semua pekerja.

Para pekerja dan Pak Slamet ngobrol tentang pekerjaan dan bagaimana nasib para pekerja di Korea. Saya hanya duduk, mengistirahatkan kaki, dan mendengarkan. Kemudian ada beberapa orang yang ‘minta’ makan kepada Pak Slamet. Karena saya sendiri belum makan nasi sejak berbuka puasa tadi, saya pun meminta makan pada beliau. Lumayan, lauknya rendang. Kapan lagi makan rendang. Sambil makan, saya mengobrol dengan salah seorang pekerja di samping saya. Setelah saya tanya, ternyata dia berasal dari Bojonegoro. Karena merasa kenal dengan daerah situ, saya pun bilang kalau ayah saya juga di sekitar situ, di Padangan. Wah, langsunglah dia hafal daerah-daerah sekitar situ, termasuk rumah eyang saya yang terletak di depan perhutani. Dan ternyata rumahnya berada di daerah Ngraho, jalan menuju Bojonegoro dari Ngawi.

Setelah makan, kami semua membayar ke Pak Slamet. Entah kenapa, mungkin karena saya mahasiswa, saya hanya membayar 4000 Won, sedangkan pekerja-pekerja membayar 5000 Won. Mas yang dari Bojonegoro itu beranjak dari tempatnya dan menuju ke masjid. Saya mengikuti mas-mas lain yang bernama Mas Kasnad menuju tempat numpang tidur untuk malam itu. Mas Kasnad mengatakan bahwa tempat yang akan saya tumpangi tidur ini adalah tempat berkumpul para swasta, alias TKI-TKI yang tidak memiliki paspor atau visa yang jelas.

Dan benar saja, ketika saya menaiki tangga dan memasuki ruangan, di situ sangat banyak orang yang berkumpul mengelilingi meja sambil merokok dan mengobrol. Saya berjalan dengan menundukkan badan, seakan meminta izin untuk menginap di situ sambil mengikuti mas Kasnad dari belakang. Saya masuk ke ruangan tidur yang terdapat banyak orang bergeletakan sambil bermain laptop. Wih, ternyata TKI gajinya banyak, bisa beli laptop-laptop semacam Vaio segala.

Saya duduk disana dan bermain HP. Tak lama kemudian mas-mas Bojonegoro datang dan kami ngobrol lagi, mulai dari asal mula saya bisa berada di sini sampai cerita daerah asal masing-masing. O iya, saya juga akhirnya berkenalan dengan dia yang ternyata bernama Mas Sumardi, umur 31 tahun dan memiliki 2 orang anak. Sudah merasa mengantuk, saya mengambil kasur lipat dan tidur. Tidur saya sendiri bisa dikatakan kurang nyenyak. Jam 11 malam saya terbangun dan merasa sudah tidur semalaman. Begitu pula jam 2an saya terbangun lagi.

Saya terbangun oleh azan subuh yang tersambung dengan speaker ke kamar tidur. Saya ke masjid, dan ini adalah sholat subuh pertama di masjid selama saya berada di Korea. Imam Sholat subuhnya adalah Pak Slamet sendiri. Seusai sholat, berkumandanglah takbir hari raya. Saya merinding pada saat itu ketika mendengarkan gema takbir di Korea. Saya tinggal di ruangan masjid sejenak sebelum kembali ke ruang tidur untuk mengambil barang-barang.

Saya mengambil barang dan berpamitan dengan orang-orang di sana kemudian mengambil air wudhu untuk kembali ke ruangan utama masjid lagi. Di sana saya duduk dan ikut bertakbir. Dan tiba-tiba saya kentut. Terpaksalah saya turun untuk mengambil air wudhu lagi. Setelah wudhu, tiba-tiba saya dipanggil leh seorang laki-laki. Ternyata saya diajak sarapan dengan gaya timur tengah, makan bersama di nampan yang besar. Sebenarnya saya ingin puasa sampai usai sholat ied, karena memang sunnahnya seperti itu. Namu berhubung ada rejeki, saya pun sarapan bersama mereka.

Perut kenyang, berwudhu, dan kembali ke ruangan masjid. Cukup lama saya menunggu sholat dimulai. Akhirnya setelah lama bertakbir, sholat dimulai pukul 9.20. Dan ternyata, karena banyaknya orang yang akan sholat ied, sholat ied dibagi menjadi 2 gelombang, pukul 9.20 dan 10.00. Saya sholat bersama banyak orang lainnya di gelombang pertama. Seingat saya, imamnya hanya bertakbir 6 kali dan 4 kali untuk masing-masing rekaat. Ya sidahlah, yang penting sholat. Seusai sholat, saya mendengarkan ceramah yang untungnya berbahasa Indonesia.

Alhamdulillah, selesailah perjalanan saya untuk sholat idul adha di Busan. Sayangnya saya tidak sempat berpamitan dengan Pak Slamet dan Mas Sumardi. Ya sudahlah, semoga perjalanan saya adalah perjalanan yang diridhoi Allah Swt. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s