Solo Traveller on Seoul (bagian 3 – Yeouinaru dan Itaewon)

Hari kedua, saya sudah presentasi dan seminar sudah ditutup. Saya juga sudah berpisah dengan Yong Soek. Artinya, saya sendiri! Yeah! Dari list-list tempat yang ingin saya kunjungi (ada 10an), nampaknya saya harus mereduksinya, karena memang tidak masuk akal untuk mengunjungi semuanya dalam kurang dari 2 hari. Akhirnya, hari ini saya memutuskan untuk mengunjungi Yeouinaru dan melanjutkan pencarian masjid di Itaewon.

Saya berangkat dari Ewha ke Yeouinaru seperti biasa menggunakan subway. Sampai stasiun Yeouinaru, saya masih sedikit bingung, apa yang akan saya lakukan di sini. Kata situs pariwisata Korea, tempat ini sangat indah untuk berjalan-jalan. Sebelum naik (stasiun ada di bawah tanah), saya iseng-iseng melihat loker stasiun. Untunglah, loker itu ada bahasa inggrisnya. Saya memasukkan tas saya yang beratnya setengah mati ke dalamnya. Bebas rasanya berjalan-jalan tanpa membawa tas.

Setelah di luar, saya merasakan angin yang sangat sejuk berhembus. ternyata daerah itu adalah kawasan di tepi sungai Hangang. Saya menyusuri jalan dan menyebrang jalan menuju taman di samping sungai. Ternyata taman itu sangat indah. Selain pepohonan, suasana pinggir sungai, angin yang sejuk, gedung-gedung yang menjulang, di tempat itu juga ada track sepeda dan persewaan sepeda. Ada juga jalur dan rintangan untuk freestle sepeda bmx. Siapa saja dapat menyewa sepeda di situ, baik itu sepeda tandem, bmx, balap, maupun sepeda biasa. Karena saya hanya ingin berjalan, maka saya tidak menyewa sepeda.

Saya duduk di anak tangga dan menatap ke sungai dan gedung-gedung yang ada di seberangnya. Nyaman sekali rasanya. Belum lagi ada angin dingin yang berhembus, meskipun dingin namun menyejukkan. Saya bisa membayangkan tempat ini akan lebih indah pada malam hari dengan adanya lampu-lampu gedung. Puas menikmati pemandangan dan merenung di sana, saya beralih tempat. Tujuan berikutnya, Itaewon (lagi).

Di stasiun saya kembali menitipkan tas saya di loker, karena kemarin saya sudah merasakan betapa tersiksanya berjalan dengan membawa ransel seberat itu, ditambah lagi saya tersesat. Saya naik dan kembali melihat peta wisata Itaewon. Kali ini saya foto petanya agar saya bisa bertanya dengan jelas. Saya berjalan sesuai peta itu. Herannya, memang benar, apa yang tertulis di peta itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Saya menuruni jalan yang kemarin karena memang itulah yang tertulis di peta. Kembali saya tersesat entah di mana. Namun sedikit harapan muncul ketika saya melihat papan nama kedubes Arab Saudi. Saya berpikir mungkin mereka tahu letak masjid. Saya masuk, dan sayangnya yang berjaga adalah orang Korea. Untung bahasa inggrisnya basus. Namun dia tidak mengetahui di mana letak masjid. Aduh-aduh, dimana sebenarnya masjid ini?

Saya memutuskan menyusuri jalan yang tadi dan kembali ke jalan Itaewon. Saya sembatkan untuk mengambil uang di atm. Dan alangkah beruntungnya ketika saya melihat apa yang ada di depan atm, Tourist Information! Saya masuk ke sana dan bertanya kepada noona yang berjaga. Dia berkata, silakan menyebrang jalan ini dan berjalan sampai bertemu fire department, kemudian belok kiri. Dari situ, berjalan lagi 2 blok kemudian belok kiri. Wow, sama sekali berbeda dengan yang ada di peta wisata.

Saya mencoba menuruti si noona dan saya menemukan peta biasa dari Itaewon. benar ternyata apa yang dikatakan noona, tepat setelah fire dept, belok kiri, jalan 2 blok, kemudian belok kiri lagi. Ah, peta wisatanya kacau nih! Saya merasa melalui jalan yang benar ketika saya melihat bamyak orang-orang awab melintas dan berada di jalan yang sama dengan saya. Saya makin yakin ketika melihat banyaknya papan iklan yang menuliskan halal atau bahkan menggunakan huruf arab. Saya meneruskan langkah saya, dan akhirnya, Masjid Itaewon!

Saya masuk dan duduk di dalamnya. Ternyata sedang ada kunjungan dari murid-murid Korea. mungkin studi tur atau malah belajar Islam. Tak lama kemudian, azan magrib berkumandang. Saya keluar masjid, mengambil air wudhu dan kembali masuk ke masjid. Saya sholat berjamaah dan saya merasakan hal yang sama ketika saya solat di masjid Busan, tenang dan nyaman. Rindu sekali sholat di Masjid dan mendengarkan imam Indonesia yang membaca surat al fatihah. Saya lanjutkan sholat saya dengan jamak qosor Isya. Seusai sholat, saya berdoa sejenak dan kembali melanjutkan perjalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s