Solo Traveller on Seoul (bagian 4 – Lantern Festival dan Mushola Guro)

Setelah puas berjalan-jalan rohani ke Itaewon, saya melanjutkan perjalanan ke Gwanghwamun. Di sana sedang diadakan acara yang bernama Seoul Lantern festival 2011. Acara itu dilaksanakan sepanjang sungai Cheonggyecheon. Awalnya saya berpikir tidak akan banyak orang yang ke situ, mengingat acara ini sudah berlangsung hampir seminggu. Namun saya salah perhitungan. Malam itu adalah malam minggu. Ternyata sangat amat banyak orang yang ingin melihat festival lampion tersebut. Sampai-sampai, para volunteer yang mengurusi acara itu membuat antrian mengular yang panjangnya luar biasa, kira-kira mencapai 7 liukan. Setelah sabar menanti, akhirnya sampai juga giliran saya untuk masuk ke area lampion.

Seluruh lampion yang ada di situ sangat menakjubkan dan unik. Pada awal-awal, kami dipameri lampion berbentuk hewan-hewan lambang shio, mulai dari ular sampai naga, dari kambing sampai ayam. Bagian berikutnya menunjukkan dinasti Korea dengan adanya replika Gyeongbokgung Palace di sana, lengkap dengan para pasukan dan penjaga istana. Saya masih semangat memfoto pada awalnya, namun lama kelamaan saya merasa lelah juga, apalagi saya sudah berjalan sejak siang tadi. Ada 6 bagian dari festival itu, dan saya menyerah setelah bagian ketiga. Menyerah artinya saya tidak mengikuti arus pengunjung sepanjang aliran sungai. Saya memilih untuk melihat dan memfoto dari atas jembatan. Meskipun jauh, saya masih dapat memfoto beberapa lampion yang menarik.

Dan yang paling menarik di sini bagi saya malah bukan lampionnya. Pada saat itu udara sangat dingin. Suatu saat ketika mengantri, tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Seluruh orang yang di situ berteriak dengan serempak. Hehehe. Lagian sudah tahu udara dingin, masih ada saja noona-noona yang memakai rok mini tanpa memakai stocking.

Seusai puas melihat festival, saya menelepon teman saya, Keke, yang dulu selab bareng saya di kampus gajah. keke dan suaminya, Kharis, datang dari Daejeon untuk melihat festival ini dan berjalan-jalan di Seoul. Saat saya telepon mereka nampaknya masih berjalan. Saya meninggalkan mereka terlebih dahulu menuju Mushola di daerah Guro. Loh, kenapa tiba-tiba saya menuju ke Mushola Guro?

Jadi ceritanya, saya hanya mendapat jatah untuk menginap semalam saja di Seoul. Oleh karena itu, saya memerlukan tempat untuk menginap pada malam kedua. Mulailah saya kebingungan mencari tempat menginap. Untungnya beberapa hari sebelum berangkat ke Seoul saya sempat berkenalan dengan seorang anggota Perpika bernama Mas harsono via Facebook. Setelah ngobrol, ternyata dia adalah mahasiswa UI asli dari Boyolali. Tak lupa juga saya meminta nomor hpnya. Saat seminar, saya sempatkan sms dia untuk mencari tempat menginap. Dia merekomendasikan Mushola Guro sekaligus memberikan nomor kontak pengurusnya yang bernama Mas Iman. Kemudian saya menghubungi Mas Iman dan beliau menjawab boleh-boleh saja menginap. Berangkatlah saya ke sana seusai puas di Gwanghwamun.

Sampai stasiun Guro, saya langsung menelepon Mas Iman untuk menanyakan ancer-ancer dari musholanya. Saat itu pukul 9.15 dan angin berhembus dengan luar biasa kencang. Saya berjalan sesuai apa yang diarahkan Mas Iman. Akhirnya… Saya tersesat. Saya menelepon Mas Iman dan untungnya beliau baik banget, menjemput saya tepat di seberang pintu keluar stasiun. Kami berjalan bersama menuju mushola dan dari situ saya tahu kalau Mas Iman asalnya dari Cilacap.

Sampai di Mushola, suasanya mirip dengan kamar pekerja yang ada di Busan, hanya saja di sini mereka tiduran di ruangan sholat. Tempat ini lebih mirip mushola Sri Langka yang saya kunjungi di Gimhae dulu. Saya duduk sejenak dan tidak lama kemudian diajak masuk ke warung untuk menonton Indonesia-Vietnam. Rame juga nonton bareng mas-mas pekerja ini, mereka juga ramah meskipun saya bukan pekerja dan baru saja datang ke situ.

Saat istirahat pertandingan saya kembali ke mushola dan mengecek hp. ternyata Keke menelepon 4 kali. Saya menelepon mereka dan ternyata Keke dan Kharis tidak mendapatkan tempat tidur. Hostel yang mereka pesan dicancel karena ada salah paham gara-gara mereka telat sampai hostel. Akhirnya saya berikan nomer Mas Iman kepada Kharis agar mereka sendiri yang meminta izin menginap. Tak lama kemudian Mas Iman keluar dan menyiapkan ruangan ujung mushola untuk Keke yang akan menjadi satu-satunya wanita yang menginap di situ. Setelah kira-kira mereka akan datang, saya menjemput mereka di tempat Mas Iman menjemput saya tadio. Udara dingin saya lawan untuk menjemput mereka. Mas Iman saja yang tidak kenal saya mau menjemput dingin-dingin ke stasiun, kenapa saya yang sudah kenal mereka tidak mau menjemput? Itulah yang ada di pikiran saya. Kami pun bertemu dan berjalan kembali ke mushola untuk beristirahat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s