Solo Traveller on Seoul (bagian 5 – Gyeongbokgung Palace)

Sebelum saya makin sibuk dalam mengerjalan beberapa tugas akhir semester ini, mari kita selesaikan cerita jalan-jalan di Seoul ini. Akhirnya sampai juga kita ke bagian terakhir dari cerita ini.

Pagi hari setelah tidur bareng bersama para pekerja di Mushola Guro, kami bangun dan sholat subuh bersama. Setelah subuh, seperti yang sudah saya perkirakan, ada sedikit ceramah dan pengumuman dari orang-orang yang bertanggung jawab di mushola itu, termasuk Mas Iman. Seusai mendengarkan ceramah singkat dari temannya Mas Iman, kami semua duduk bersama mengelilingi mushola. Ada yang bergerombol bermain internet, ada yang tidur lagi, ada yang mengobrol, dll. Saya sendiri memilih untuk duduk dan mengobrol bersama Kharis dan Mas Iman. Tak lama kemudian, datanglah minuman pagi, teh jahe. Wih, enak bener dingin-dingin minum jahe. Tidak lupa ada snacknya, yaitu biskuit Khong Guan. Hehehe, kapan lagi bisa maka biskuit Khong Guan.

Teh pagi selesai, saya ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi (sangat amat penting sampai harus diceritakan). Keluar dari kamar mandi, niatnya saya bersama Keke dan Kharis akan langsung pamit. Namun mas-mas yang ada di dapur berkata agar kami jangan pulang dulu sebelum sarapan. Antara sungkan dan senang, saya pun mengiyakan permintaan mas-mas tersebut. Cara makan di tiap mushola memang menggunakan cara arab, nasi diletakkan di nampan besar dan disiram dengan kuah kari dengan ayam di atasnya. Sudah 3 kali saya makan bergaya seperti ini di Korea, padahal di Indonesia baru mengalami hal ini satu kali. Seusai makan kami izin pamit dan mengucapkan terima kasih banyak, terutama untuk Mas Iman yang sudah mengizinkan kami tinggal di situ selama semalam.

Kami berjalan kembali ke stasiun. Entah kenapa hari itu sangat dingin. Saat itu baru pukul 9 pagi, ada matahari bersinar, namun angin begitu kencangnya. Kami semua menggigil kedinginan dan muncullah asap dari mulut kami ketika berbicara. Dari Stasiun Guro, tujuan kami berikutnya adalah Gwanghwamun, tepatnya Gyeongbokgung Palace. Saya memang pernah ke sini sebelumnya, namun saya tidak sempat masuk ke dalam karena keterbatasan waktu. Dan mumpung ada Keke dan Kharis, saya bisa mengabadikan momen di sana karena ada yang bisa dimintai untuk memfoto.

Ternyata benar yang kami rasakan. 10.30 kami sampai di stasiun Gwanghwamun dan melihat ke termometer yang ada di layar stasiun. -2 derajat celcius!! Ini pertama kalinya saya merasakan suhu minus secara alami. Sebelumnya saya pernah merasakan minus juga, tepatnya di tenda-tenda yang memamerkan pahatan-pahatan es. Namun satu hal yang berbeda di sini adalah anginnya yang luar biasa kencang, menambah sensasi dingin.

Kami berjalan menuju palace dan beruntungnya bersamaan dengan upacara pergantian penjaga gerbang. Kami melihat acara itu sesaat dan mengambil beberapa foto. Puas melihat upacara itu, kami membeli tiket di loket. Harga tiket 3000 Won, tidak mahal menurut saya. Kami masuk ke dalam dan merasakan benar-benar berada di Korea zaman dahulu kala. Bangunan-bangunan di situ seluruhnya merupakan bangunan kuno dan berasitektur khas Korea, mulai dari rumah, ruang tamu, taman, dll. Kami berjalan berkeliling Gyeongbokgung Palace dan tentu saja saya sempatkan untuk meminta tolong difotokan. Kapan lagi ada yang memfoto saya saat jalan-jalan. Selama berkeliling, 2 kali kami berhenti ke toilet. Bukan untuk buang air, hanya untuk mencuci tangan, menghangatkan tangan dengan air dingin yang tidak sedingin udara luar.

Tak jauh dari situ, ternyata ada juga Korean Folk Museum yang terhubung langsung ke palace. Mumpung ada di situ, kami sempatkan masuk ke sana. Di sana, ada berbagai macam sejarah tentang Korea mulai zaman batu sampai zaman sekarang. Kalau di Indonesia, mungkin ini sama seperti museum Sangiran yang ada di wilayah Jawa Tengah. Banyak sekali pengunjung di sini, sehingga sedikit kurang nyaman untuk menikmati seisi museum. Praktis hanya 1/3 perjalanan yang bisa kami nikmati, sisanya hanya sekedar melihat-lihat saja.

Pukul 12.00, masih ada 2.40 menit lagi sebelum kereta saya berangkat. Kami mampir ke Dongdaemun. baru keluar dari stasiun, saya sudah digoda dengan penjual jaket yang menjualnya seharga 5000 Won saja. Saya paling tidak tahan melihat jaket, karena itulah yang saya sukai. Namun saya memang sudah berikrar tidak membeli jaket baru karena saya sudah memesan jaket Perpika. Jadilah di Dongdaemun kami hanya membeli makan siang berupa kimbab di GS25.

Tibakah saat perpisahan. Saya akan melanjutkan perjalanan ke Seoul Station sedangkan Keke dan Kharis akan ke terminal. Kami berpisah di Chungmuro dan saling mengucapkan selamay tinggal. Saya sampai di Seoul Station pukul 14.10, hanya setengah jam dari keberangkatan. Saya duduk-duduk saja menunggu kereta datang. Kereta itu pun datang, dan berakhirlah petualangan saya di Seoul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s