Workshop Membuat Kimchi

Mari kita kembali ke artikel santai tentang hidup di Korea. Jadi kemarin ceritanya saya mendapat sms dari graduate school officer, namanya Kim Hee Kyu. Intinya akan ada workshop membuat kimchi yang dilaksanakan hari ini pukul 10AM di kantin Inje Global Town (dorm saya yang lama).

Awalnya saya berpikir karena yang mengundang adalah petugas TU graduate school yang mengurusi mahasiswa internasional, akan ada banyak mahasiswa internasional lain yang diundang. Ternyata setelah saya tanya beberapa mahasiswa internasional lain, mereka tidak disms. Baiklah, karena memang saya disms personal, ya sudah saya datang.

Pagi ini saya berangkat lebih awal dan menaruh tas di lab. Saya mendaki jalan menuju dorm saya yang lama ditemani hembusan angin pagi yang luar biasa dinginnya. Sepanjang jalan saya mencari wajah-wajah mahasiswa internasional, ternyata memang tidak ada. Ok, saya membawa nama Indonesia dan mahasiswa internasional sendirian. Begitu saya masuk kantin, saya melihat begitu banyak mahasiswa Korea di situ. Mereka mengenakan pakaian dapur yang terdiri dari jaket plastik, celemek (ini entah benar atau tidak bahasa Indonesianya), dan sarung tangan. Tidak lupa mereka mengenakan topi Santa Klaus merah dengan bola putih di ujungnya. Lucu juga ini ada sinterklas bikin kimchi. Nampaknya memang event ini disesuaikan dengan acara-acara menuju natal.

Saya mendaftarkan diri dan mendapatkan hal yang sama seperti yang lainnya. Sepertinya ini pertama kali saya memakai pakaian seperti ini. Di tengah ruangan, banyak sawi putih sudah disiapkan bersama dengan sambal gochujang dan lobak yang sudah menjadi kimchi. Saya melihat sekeliling, anak Korea semua. Saya paling hitam dan paling brewokan. hehehe. Ketika orang yang mengurus acara ini memanggil, saya hanya mengikuti mahasiswa lain untuk mengetahu apa yang harus dilakukan.

Kami semua berdiri menghadap sawi putih dan gochujang. Sebelumnya, ahjumma penjaga kantin memberikan contoh bagaimana cara mengoleskan gochujang ke sawi putih itu. Setelah dia selesai mencontohkan, dia melihat sepintas ke arah saya. Nampaknya ahjumma ini sudah hafal dengan saya, satu-satunya mahasiswa yang tidak makan daging babi di situ. Dia tersenyum, saya juga tersenyum.

Saya berdiri di meja ketiga dari de[an,  siap membuat kimchi. Sebelumnya saya mencoba membuka pembicaraan dengan teman sebelah saya, untungnya dia lumayan bisa berbahasa inggris. Nama Koreanya saya lupa, tapi nama inggrisnya Lucas. Saya meminta tolong dia menjelaskan apa yang perlu dilakukan. Namun tidak lama kemudian, saya dipanggil oleh salah seorang laki-laki untuk maju ke baris paling depan. Ya saya sih ngikut saja. Ternyata di depan sudah ada 2 orang cewek Korea. Awalnya saya berdiri di paling ujung, disamping kedua cewek tersebut, namun si petugas meminta saya berpindah ke tengah cewek-cewek itu. Ya saya tambah ok-ok saja, orang ceweknya lumayan cantik. hehehe.

Tak lama, datanglah rombongan yang nampaknya orang penting. Benar, dia adalah Presiden Inje University. Mungkin di Indonesia setingkat rektor. Beliau datang dengan istri dan beberapa stafnya. Begitu beliau selesai mengenakan pakaian yang sama seperti saya, mulailah kami membuat kimchi.

Saya ambil satu sawi, saya oleskan gochujang ke atasnya. Awalnya pelan-pelan, lembar per lembar. Tapi lama kelamaan bosan juga. Akhirnya saya mengoleskan gochujang dengan sedikit brutal dan cepat. Alhasil hasil kimchi saya masih perlu ditambah gochujang oleh ahjumma gara-gara kurang rata. Mungkin ada sekitar 10-15 sawi yang saya olesi gochujang. Cukup gampang ternyata membuat kimchi, cukup bermodal sawi putih dan gochujang.

Di tengah-tengah bekerja, saya mencoba mengobrol dengan kedua cewek (ok, kurang enak pakai cewek. Kita ganti menjadi gadis) Korea. Gadis pertama bernama Eun Sul dan yang kedua bernama Mi Ni. Nampaknya mereka tidak begitu paham berbahasa Inggris. Jadilah mereka Konglish (Korean English). Saya sendiri meskipun lancar berbahas Inggris, tetap saja Javanese English karena medoknya masih terlalu kuat. Kami bercaka-cakap tentang jurusan, asal negara, winter plan, dll. Eun Sul bertanya kepada saya apakah saya menyukai kimchi. Meskipun saya tidak terlalu suka, untuk menjaga perasaan warga Korea, saya menjawab iya.

Kemudian dia memanggil ahjumma dan mengatakan bahwa kimichinya enak. Dia meminta saya melakukan hal yang sama.

Saya: Ahjumma

Ahjumma: (2 orang ahjumma memandang ke arah saya) Ne?

Saya: Kimchireul massiseoyo!!

Kedua ahjumma tersebut tersenyum setelah saya mengatakan kimchinya enak. Lumayan lah, semoga dapat pahala karena menyenangkan perasaan orang lain. Eun Sul dan Mi Ni berkali-kali memakan kulit-kulit sawi yang terlepas. Buset, doyan bener kedua orang ini makan kimchi tanpa nasi. Mereka juga berkali-kali suap-suapan kimchi di depan saya (karena saya posisinya di tengah mereka, otomatis tangan mereka melintang di depan saya). Saya hanya tersenyum melihatnya. Sampai suatu ketika Mi Ni mengambil daun sawi yang terlepas, menggulungnya, dan menyodorkannya ke saya. Meskipun saya yakin rasanya bakal tidak enak, siapa sih yang menolak disuapin sama cewek Korea apalagi ceweknya manis? Hahaha. Jadilah saya memakan kimchi saja tanpa nasi dan berusaha sekuat mungkin untuk menelannya.

Selesai membuat kimchi, kami semua berfoto dengan kimchi-kimchi yang sudah diolah. Saya awalnya ingin berdiri di belakang saja. Namun kali ini giliran petugas wanita yang meminta saya untuk berdiri paling depan. Mungkin ingin menunjukkan adanya mahasiswa internasional yang ikut workshop ini. Jadilah saya berdiri di baris pertama, tepat di samping staf dari Pak presiden Inje.

Berikutnya adalah makan siang. Agak sedih juga katanya lauknya pork. Tapi ternyata ada ikan juga. Saya pun memakan nasi, ikan, dan sayur sawi saja. Lucas baru tahu kalau ternyata saya tidak makan babi, namun akhirnya dia paham kalau muslim memang tidak makan babi. Beres, saatnya pulang. Saat pulang tidak ada hal yang menarik, kami mendapatkan ramyun rasa kimchi (buset, hari ini kimchi-kimchian terus) dan saya pun kembali ke lab untuk langsung menulis artikel ini. Saya hanya berharap nanti ada foto saya yang muncul di majalah bulanan Inje untuk bulan Januari. Amin.

Terakhir, buat referensi kalau mau foto-foto gaya Korea, katakan KIMCHI sebagai pengganti CHEESE. Dan sebagai ganti SATU, DUA, TIGA, katakan HANA, TUL, SET! KIMCHI…!

tambahan, ternyata acara ini masuk ke website Inje dan ada nama saya di sana.

사랑의 김장나누기 행사에 참가한 정유라 (언론정치학부 3년 23세)씨는“연말연시를 맞아 불우한 이웃을 위한 사랑과 정성을 김치에 담아 선물하겠다.”며 참가소감을 밝혔으며, 인니 반둥공대에서 유학 온 요니 셉티안 이즈만토코(Yonny Septian Izmantoko)씨와 네팔 트리부반대학에서 유학 온 카렐 로크 나트 (Kharel Lok Nath)씨는“한국에서 처음 김치를 담아 보는데 잊을 수 없는 추억이 될 것 같다”며 즐거워했다.

Ada fotonya juga,

2 thoughts on “Workshop Membuat Kimchi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s