Dijamu Makan Malam di Rumah Profesor

Saya mulai postingan kali ini dengan sebuah fakta,

Selama 4 tahun saya berkuliah di ITB, tidak pernah saya sekalipun diajak makan malam di rumah dosen. Sedangkan 4 bulan di sini, saya sudah diundang makan malam di rumah profesor lab saya.

Bukan bermaksud membandingkan, tapi memang beginilah adanya. Saya kroscek ke teman-teman saya, ternyata tidak semua mahasiswa merasakan hal yang sama. Mungkin saya saja yang kurang beruntung karena belum merasakan hal ini di Indonesia.

Kemarin, saya dan teman-teman lab diundang ke rumah Prof Choi untuk makan malam. Saya tanya ke teman apakah hari ini profesor berulang tahun, ternyata tidak. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan beliau setahun sekali. Penasaran dengan apa yang akan saya dapatkan nanti, kami semua berangkat ke rumah beliau yang terletak di Dongnae, Busan, 21mk dari Inje University.

Sesampainya di sana, kami menuju kamar beliau di apartemen 104 lantai 23. Begitu kami datang, kami disambut beliau dan istrinya. Istri beliau nampak masih muda dan cantik, mungkin seumuran Kim Min Sook yang di My Girlfriend is Gumiho. Kami duduk dan menanti rombongan lain datang.

Akhirnya kami lengkap dan duduk di meja makan. Secara bertubi-tubi makanan datang, mulai dari nachos, spaghetti bolognaise, spaghetti seafood mayo, salad, croissant, roti keju, sampai garlic bread. Teman-teman saya memang sangat mengerti saya, mereka bertanya mana di antara makanan tersebut yang mengandung babi. Untungnya hanya spaghetti seafood mayo dan nachos yang tidak bisa saya makan, selain itu bisa semua. O iya, untuk minumnya, semua orang minum wine yang nampaknya mahal. Saya sendiri cukup meminum Coca Cola.

Tak terasa makanan sebanyak itu habis juga, perut pun kenyang. Saya pikir kami akan segera pulang, ternyata salah. Dimulailah sesi ngobrol-ngobrol. Sebagian besar mereka mengobrol dengan bahasa Korea yang hanya bisa saya tangkap sepintas. Namun sesekali mereka juga ngobrol dengan bahasa inggris sehingga saya dan 2 orang Mongolia yang ada di situ bisa paham. Obrolan mengalir seperti air, mulai dari menceritakan hometown, hobi, sampai pacar dan istri. Begitu juga profesor saya dan istrinya yang saling menceritakan kenangan mereka sejak bertemu sampai punya anak. Saya sendiri hanya tertawa sok tahu (padahal tidak paham). Ada juga kalanya saya diminta bermain gitar dan bernyanyi. Teman saya meminta lagu ‘a Whole New World’ Aladdin, dan saya pun bernyanyi, diakhiri dengan tepuk tangan mereka semua.

Masih belum selesai, makanan penutup adalah buah-buahan dan cheesecake ditambah cokelat. Habiskah semuanya? Habis! gila juga orang-orang ini. Saking enaknya ngobrol dan makan, akhirnya kami baru pulang dari rumah profesor pukul 10 lebih. Masih ada beberapa transportasi yang harus dinaiki sebelum sampai kampus lagi. Dan benar saja, karena terlalu larut, kami kehabisan bus dan harus berjalan dari stasiun ke kampus yang memakan waktu 30menitan.

Lelah? Sangat. Kenyang? Iya. Senang? Tentu. Sangat menyenangkan bisa kumpul bersama selab seperti ini, makan besar, dan ngobrol secara kekeluargaan. Kalau ini berlangsung di Indonesia, mungkin saya akan jauh lebih menikmati acara kumpul seperti ini karena bisa mengikuti pembicaraan dengan lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s