Hut UT Korea Berbonus Salju

Korea Selatan seperti yang mungkin sudah ketahui banyak orang adalah negara 4 musim. Sebagai seorang warga negara tropis, saya belum pernah melihat apa itu salju, apalagi menyentuhnya dan bermain-main dengannya karena sampai saat ini dia belum turun di Gimhae.

Kebetulan, hari Sabtu lalu (31/12/11) ada acara Syukuran 1 Tahun Universitas Terbuka di Korea. Acara akan dilaksanakan di KAIST, Daejeon. Akan ada beberapa teman Perpika juga yang akan datang. Jadilah saya tertarik dan berangkat ke sana.

Sebelumnya, saya janjian dengan teman-teman alumni EL ITB angkatan 2006 yang berkuliah di KIT. Kami bertemu di Mushola An-Noor, Daejeon. Saya juga bertemu dengan Keke dan Haris (lagi) setelah sebelumnya bertemu di Seoul bulan November lalu. Setelah usai sholat magrib, kami semua berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu dan menikmati malam tahun baru di Daejeon.

Kami mulai berjalan dari mushola menuju ke Jungangno dan melihat suasana downtown lama. Di jalan itu ada banyak sekali orang yang berkumpul dan kebanyakan anak muda. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa papan dari kertas bertuliskan FREE HUG atau BACK HUG.

Eh ini seriusan free hug? *tiba-tiba otak mesum saya muncul. Untunglah saya masih sadar dan tidak menjadi liar untuk segera memeluk mereka satu per satu. Kami berjalan dengan tenang menyusuri jalan dan melihat apa-apa yang mereka lakukan. Sungguh mengherankan, kenapa mereka memberikan free hug? Mungkin hanya sebagai tanda persahabatan. Namun tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang mesum yang memang niatnya memeluk saja. Tapi ya sudahlah, biarkan mereka melakukan hal  tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan ke downtown baru dengan niat awal untuk melihat lebih banyak orang yang ingin merayakan tahun baru. Namun ternyata, hampir tidak ada orang di sana. Saya tidak tahu bagaimana keadaan sehari-hari di tempat itu, namun jelas ini bukan suasana malam tahun baru yang kami harapkan. Alhasil kami hanya berjalan-jalan saja dan tempat tujuan terakhirnya adalah Noraebang alias karaokean.

Dalam perjalanan kami kembali lagi ke mushola, kami melewati downtown lama lagi. Saat itu 5 menit menjelang pukul 00.00. Ada apa di sana? Ada banyak orang, namun sama sekali tidak ada kembang api dan hitungan mundur secara bersama-sama. Kami merayakan malam tahun baru di Daejeon, tepatnya di garingnya downtown Daejeon. Kembalilah kami ke mushola untuk beristirahat.

Keesokan harinya, seperti kebiasaan ketika saya menginap di mushola, kami diberi sarapan setelah selesai sholat subuh. Memang tidak wah, namun kebaikan hati para pengurus mushola sangat pantas untuk dipuji. Mereka memberi sarapan kepada kami, pemuda-pemuda yang berasal dari antah berantah yang tidak dikenalnya. Mungkin inilah yang disebut persaudaraan sesungguhnya. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9.30, saatnya kami beranjak menuju KAIST.

Perjalanan ke KAIST ditempuh menggunakan subway line 1 Daejeon. Sampai di stasiun subway Wolpyeong (KAIST), kami disambut oleh hujan salju yang tipis. Ya, ini adalah pertama kalinya saya melihat salju dan hujan salju. Sebenarnya kami ingin naik taksi dari stasiun ke KAIST, namun kami memilih untuk berjalan sambil menikmati salju. Kami menyusuri jalan dan akhirnya harus menyeberangi sebuah sungai. Ada beberapa bagian dari sungai itu yang membeku. Kami lanjutkan perjalanan dan bertemu sungai kedua. Bedanya, sungai ini beku total.

Teman-teman awalnya ragu apakah sungai ini aman untuk dilewati. Berhubung saya sangat bersemangat karena melihat salju, saya menjadi tester untuk mencoba permukaan sungai ini. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan akhirnya saya berada di tengah sungai. Aman, sungai ini beku total. Mereka semua pun ikut turun dan mengabadikan momen tersebut. Meskipun es di permukaan sungai tidak begitu tebal, namun saya masih bisa melempar es tersebut ke arah teman-teman. Wah, seru juga perang salju ternyata.

Puas bermain, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai ke gedung E11. Kami disambut mahasiswa-mahasiswa Universitas Terbuka yang menjadi panitia acara tersebut. Kami masuk ke sebuah aula dan duduk manis mengikuti acara. Dari acara itu saya dapat melihat bahwa para mahasiswa UT, yang kebanyakan pekerja, merupakan orang-orang yang hebat. Mereka bekerja Senin-Jumat ata bahkan Senin-Sabtu dan hari Minggunya mereka berkuliah, baik itu secara online maupun bertatap muka langsung. Salut, mungkin itu kata-kata yang tepat ditujukan kepada mereka.

Rangkaian acara satu per satu berlalu, dan sayangnya kami harus pulang sebelum acara selesai karena kereta Mugunghwa yang kami naiki akan berangkat pukul 5. Di tengah istirahat sholat asar, kami memohon izin untuk pulang terlebih dahulu kepada Mas Boy, Presiden Perpika, dan beliau mengizinkan kami pulang duluan dengan memberikan beberapa wejangan sebelumnya.

Kami berenam ditambah Mas Boy dan teman-teman pengurus Perpika yang lain keluar dari gedung dan tertegun melihat putihnya pemandangan. Salju sudah menumpuk tebal, menghampar sepanjang mata memandang.  Kami semua tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Foto-foto merupakan hal yang wajib, begitu pula bermain lempar salju. Ini impian yang menjadi kenyataan. Selama ini saya hanya melihat salju dari TV dan membayangkan bagaimana rasanya. Namun sekarang saya sudah menyentuh dan memainkannya dengan tangan ini. Semoga yang belum pernah dan masih memimpikan bermain salju dapat segara merasakannya. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s