Sedikit Pendapat tentang DPR

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menurut kata-kata pembentuknya adalah wakil dari rakyat. Benarkah? Benar, rakyatlah yang memilih mereka, meskipun tidak dipungkiri bahwa tidak semua rakyat memilih dan tidak semua rakyat memilih orang yang sekarang menjadi anggota DPR. Sebagai orang yang dipilih oleh rakyat, sudah sepantasnya bahwa mereka bertanggung jawab ke rakyat, selain tanggung jawab individu ke Tuhan YME tentunya.

Apa bentuk pertanggungjawaban ke rakyat dari mereka? Setidaknya mereka bisa memberikan laporan apa yang mereka kerjakan selama ini kepada media massa, dan media massa dapat menyebarkannya ke seluruh rakyat Indonesia. Tidak sulit kok, dijamin. Hampir seluruh warga Indonesia memiliki televisi atau radio. Koran pun dengan mudahnya diperoleh cukup dengan 1000-1500 rupiah. Namun entah benar atau tidak, saya merasa tidak pernah melihat laporan resmi dari anggota DPR tentang apa yang mereka lakukan selama ini. Alih-alih mendapatkan laporan resmi, rakyat malah mendapatkan berita-berita dari media massa tentang kelakuan anggota DPR yang tidak benar.

Dari apa yang saya ikuti selama ini, semuanya dimulai dengan banyaknya studi banding yang dilakukan anggota DPR ke luar negeri. Seingat saya Yunani dan Australia pernah menjadi negara tujuan studi banding ini. Alasannya sebenarnya masuk akal, ingin studi banding, membandingkan sistem pemerintahan Indonesia dengan sistem di negara tujuan. Akan tetapi ketika mereka studi banding dengan membawa serta anggota keluarga dan jadwal jalan-jalan yang jauh lebih banyak dibandingkan jadwal studi banding itulah yang menjadi masalah. Belum lagi ditambah anggaran studi banding yang tidak sedikit. Hal ini makin parah dengan tidak adanya laporan yang jelas dari mereka tentang hasil studi bandingnya. Saya tidak menyalahkan ketika rakyat berpikir bahwa mereka (anggota DPR) hanya menggunakan uang rakyat untuk berjalan-jalan ke luar negeri dengan kedok studi banding. Sepakat?

KOntroversi berikutnya adalah pembangunan gedung baru DPR yang anggarannya mencapai lebih dari 1 triliun. 1 triliun (1T) adalah angka 1 yang diikuti 12 angka 0. Saya pribadi belum pernah melihat angka 1 diikuti 7 angka 0 secara langsung. Ini 1T, 1.000.000.000.000, jumlah yang sangat amat besar. Dan uang sejumlah ini dianggarkan untuk membuat gedung DPR baru, lengkap dengan segala fasilitasnya, mulai kolam renang, ruang spa, dll. Uang sejumlah itu dapat lebih bermanfaat jika digunakan untuk membangun SD-SD di pedalaman atau membantu korban bencana alam. Uang sejumlah itu juga bisa digunakan untuk mencicil hutang negara yang entah masih berapa jumlahnya sekarang. Wajar saja jika hampir seluruh warga negara Indonesia mencak-mencak melihat kenyataan ini. Demonstrasi terjadi dimana-mana dan ketua DPR lah yang menjadi sasaran utama kecaman tersebut karena sebagai ketua memang wajar jika dia menjadi orang pertama yang dimintai pertanggungjawaban.

Bicara tentang ketua DPR-RI, tidak lengkap rasanya jika tidak menyinggung beberapa perkataannya yang bisa dikatakan sangat ceplas-ceplos dan (maaf) tidak berpikir panjang. Sempat dia berkata bahwa orang yang tinggal di tepi pantai wajar saja terkena tsunami, salah sendiri tinggal di sana. Begitu pula ketika dia berkata agar KPK dibubarkan saja dan koruptor diampuni. Siapa yang tidak akan marah mendengar ucapannya. Bagi saya, itu bukan ucapan yang sesuai untuk seorang ketua DPR-RI, ketua perwakilan dari rakyat Indonesia.

Yang terakhir, muncul kabar renovasi ruang banggar, yaitu salah satu ruang rapat di DPR yang mencapai puluhan milyar. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa anggota DPR itu jarang lengkap ketika rapat dan ada saja yang tertangkap sedang tidur, BBMan, browsing internet, ataupun malah membuka situs porno ketika rapat berlangsung. Lalu untuk apa ruang rapat direnovasi? Berita menjadi makin parah ketika muncul kabar makin banyaknya anggaran-anggaran ajaib, seperti kalender yang mencapai 1,3M, gorder ruangan yang berharga 6juta per meternya, pembangunan tempat futsal yang mencapai 2M, sampai pengadai mesin fotokopi cepat yang mencapai nilai lebih dari 1M.

Dari seluruh fakta-fakta di atas, saya mohon maaf jika saya mengambil kesimpulan bahwa anggota-anggota DPR (saya tidak bilang semua) berlomba-lomba untuk mengembalikan uang yang mereka gunakan saat kampanye dulu. Gaji mereka sudah cukup besar, lebih besar dari guru dan PNS lainnya yang jelas. Ditambah tunjangan-tunjangan, uang pulsa, uang licin, dll., itu pun masih belum cukup. Berbagai macam anggaran ajaib itu bagi saya merupakan salah satu cara untuk mendapatkan uang lebih agar mereka lebih cepat balik modal. Kalau kata guru SMA saya dulu, periode kerja anggota DPR itu 5 tahun. 1 tahun digunakan untuk bagi-bagi tugas dan pencitraan bahwa mereka anggota yang baik, 3 tahun digunakan untuk mencari balik modal, dan 1 tahun terakhir digunakan untuk persiapan pemilu berikutnya.

Semoga apa yang saya pikirkan ini salah. Apabila apa yang saya pikirkan ini benar, semoga mereka segera kembali ke jalan yang benar. Semoga Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya. Amin.

3 thoughts on “Sedikit Pendapat tentang DPR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s