Family Time in Korea – Seoul 1

Setelah duduk manis kira-kira 3 jam kurang beberapa menit di KTX, sampailah kami di Seoul Station. Langsung kami menuju tempat kami menginap, yaitu di Seoul Backpackers. Lagi-lagi ini bukan hotel mewah sekelas Novotel, Ibis, maupun Sheraton, meskipun harga per malamnya mungkin sama seperti hotel-hotel mewah di Indonesia. Tempat ini hanyalah sebuah bangunan yang tidak begitu besar, terletak di dekat pasar Namdaemun. Memang benar-benar ditujukan untuk para backpackers. Namun kami menyewa kamar keluarga di sini, lebih private karena ada kamar mandi dalamnya.

Seperti yang sudah saya perkirakan, ayah saya kelelahan setelah perjalanan cukup jauh naik KTX, beliau beristirahat di kamar. Saya menemani Ibu dan adik saya yang ingin segera berbelanja di Namdaemun. Masih banyak orang yang belum mendapatkan jatah oleh-oleh. Jadilah kami bertiga berjalan-jalan di pasar.

Seoul memang lebih dingin dari Busan, tapi itu tidak menghalangi saya untuk memakai jaket timnas Indonesia untuk berjalan-jalan. Bukan untuk pamer, lebih tepatnya berharap agar mendapatkan diskon lebih banyak saat berbelanja nanti karena kami merupakan turis dari jauh. Kembali ibu dan adik saya membeli banyak gantungan kunci untuk oleh-oleh. Dan ketika mereka melihat ada tumpukan baju di atas gerobak, langsung saja mereka menyerbunya dan mencari-cari baju yang masih bagus. Memang baju-baju di gerobak tersebut dijual dengan harga murah, kemungkinan besar sisa ekspor. Tapi untuk informasi, standar murah Korea berbeda dengan standar murah Indonesia. Akhirnya ibu mendapatkan sebuah jaket berbulu berwarna putih yang kelihatan masih sangat bagus, cukup dengan belasan Won. Puas belanja, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

***

Keesokan harinya, kami berangkat lebih awal. Tujuan utama hari ini adalah Gyeongbokgung Palace. Saya sebenarnya sudah pernah 2 kali ke sini, dan kebetulan dua-duanya saya melihat upacara pergantian penjaga istana. Dan kebetulan lagi, kali ini saya kembali melihat upacara tersebut, hanya saja kali ini bersama keluarga saya. Saya hanya mengamati dari jauh sedangkan mereka bersama dengan pengunjung-pengunjung lain dengan antusiasnya melihat upacara tersebut. Usai upacara selesai, kami masuk ke halaman utama istana. Tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung, mulai dari turis Jepang, Cina, Asia Tenggara, Eropa, sampai turis lokal Korea selalu memenuhi tempat ini.
Puas melihat-lihat istana, ibu saya tertarik dengan dua orang noona yang berdiri di depan salah satu bangunan. Ternyata itu adalah tempat peminjaman Hanbok (baju khas Korea) untuk berfoto. Hebatnya lagi, ini gratis. Kami hanya cukup mendaftar dan menunggu beberapa saat sampai rombongan sebelum saya selesai berfoto. Kami menunggu di dinginnya udara Seoul, dan akhirnya giliran kami tiba. Satu persatu mulai ibu, ayah, saya dan adik saya didandani oleh noona yang ada di situ. Selanjutnya, dapat dipastikan kami berfoto dengan semangatnya. Setidaknya sebagai bukti bahwa kami sekeluarga pernah berjalan-jalan ke korea dan memakai baju adat Korea.

Selepas dari Gyeongbokgung, awalnya saya ingin menunjukkan cheonggyecheon, sebuah sungai yang terletak tidak jauh dari situ. Saya pikir airnya membeku, ternyata mengalir dengan lancarnya. Akhirnya kami memilih untuk kembali ke penginapan dan beristirahat.

Malam harinya, setelah puas beristirahat, kami kembali berjalan-jalan. Tujuan kali ini adalah N Seoul Tower yang terletak kira-kira 750m dari penginapan. Kami berangkat berjalan kaki mengikuti petunjuk pada peta. Ternyata kami salah jalur, jalan yang seharunya kami lewati ada di sebrang jalan. Cukup jauh jarak yang harus ditempuh apabila harus memutar, memotong jalan pun mustahil karena banyaknya mobil yang bersliweran di sana. Untunglah ada orang Korea dalam mobil pick-up berkata bahwa ada penyebrangan jalan lewat bawah, atau bahasa kerennya underpass. Saya ucapkan terima kasih kepadanya dan kami melanjutkan perjalanan.

Untuk mencapai ke Namsan Park, kami perlu melewati 2 hal. Pertama adalah lift miring. Lift ini berbeda dengan lift pada umumnya karena lift ini berjalan dengan arah miring, tidak tegak lurus. Lift ini menghubungkan trotoar dengan tempat cable car. Nah cable car inilah yang harus kami lewati berikutnya. Memang untuk mencapai Namsan Park dengan nyaman, cable car adalah cara termudah, dibandingkan harus berjalan kaki melalui tangga yang entah berapa jumlahnya. 8000 Won adalah uang yang harus dikeluarkan oleh masing-masing orang untuk naik cable car ini. Singkat cerita, sampailah kami di Namsan Tower.

N dari N Seoul Tower sendiri artinya adalah Namsan. Tempat ini memang sangat ramai dan sebagian besar yang ke sini adalah couple Korea. Selain mereka, tentu saja keluarga-keluarga dan turis asing. Yang menarik dari Seoul Tower ini adalah pertunjukkan video selamat datang yang menggunakan Seoul Tower sebagai layarnya. Model utama video ini tentu saja haechi, makhluk mitologi yang merupakan lambang dari kota Seoul. Video yang cukup menarik karena unik, menggunakan tower sebagai layarnya.

Seusai video, kami naik ke lantai pertama Seoul Tower saja, karena untuk naik ke puncak Seoul Tower diperlukan biaya tambahan lagi. Di dalam Seoul Tower sendiri ada museum Teddy Bear, tentu saja perlu biaya tambahan untuk memasukinya. Kami hanya melihat-lihat lock museum yang jauh lebih padat dibandingkan lock museum di Busan Tower. Wajar saja, penduduk Seoul lebih banyak dibandingkan Busan. Selesai melihat-lihat, kami kembali ke penginapan untuk mempersiapkan hari esok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s