Family Time in Korea – Seoul 2

Nampaknya ada satu tempat yang terlewat untuk diceritakan di Seoul 1. Tempat itu adalah Trickeye Museum. Tempat ini berisikan berbagai macam lukisan yang dibuat seolah-olah keluar dari piguranya. Entah teknik apa yang digunakan, mungkin sejenis teknis perspektif dan bayangan, yang jelas tempat ini benar-benar sangat keren. Hampir di setiap lukisan diberi petunjuk bagaimana cara berfoto agar seakan-akan objek dari lukisan tersebut keluar dari bingkainya.

Hari kedua di Seoul, kami sekeluarga menuju tempat yang dijamin tidak dapat ditemukan di Indonesia. Tempat itu adalah ski resort. Sebagian tempat ski terletak cukup jauh dari Seoul dan memerlukan transportasi yang cukup ribet untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, kami memilih untuk mengikuti tur saja. Tur ini bisa dibilang relatif murah untuk standar Korea. Masing-masing orang dikenai biaya 45.000 KRW. Uang sebanyak itu sudah termasuk transportasi pulang pergi ke ski resort, supir, guide, dan biaya masuk ke ski resortnya. Tempat yang kami datangi ini bernama Jisan Ski Resort.

Berhubung tempatnya lumayan jauh, kami berangkat dari hotel pukul 7 pagi, waktu yang sama ketika saya harus berangkat ke kantor. Saat itu suasana masih gelap namun kami sudah duduk manis di mobil jemputan menanti rombongan dari guesthouse lainnya. Tidak lama kemudian rombongan lain pun datang, disertai 2 orang guide. Seorang guide khusus sebagai guide berbahasa Cina dan guide lainnya berbahasa Inggris. Beruntunglah guide yang berbahasa Inggris ini masih muda dan cantik. Namanya Kasori (entah bagaimana menulis namanya dengan benar).

Kami sampai di resort kira-kira pukul 9.30. Sebelum ke resort, rombongan kami masuk ke persewaan alat-alat ski terlebih dahulu. O ya, pada mulanya kami tidak berniat untuk ski, hanya ingin melihat salju saja. Jadilah di tempat itu kami hanya duduk manis menunggu teman-teman serombongan memilih alat ski. Untuk jaga-jaga, kami menyewa 2 buah ski slide, siapa tahu tiba-tiba jadi ingin bermain. Setelah beres, kami semua naik ke resort ski. Di sana yang pertama kami lihat tentu saja adalah putihnya salju yang mustahil ditemukan di Solo.

Kami berpisah dari rombongan dan mulai berjalan-jalan melihat orang-orang bermain ski. Satu hal yang membuat saya pribadi malu adalah tidak adanya orang lain yang membawa ski slide seperti yang kami bawa. Dan ketika saya melihat ada yang membawa alat itu, dia membawanya untuk kedua anaknya yang masih balita. Merah padamlah wajah saya berjalan sambil membawa barang itu. Waktu berjalan dan akhirnya adik saya pingin juga untuk mencoba ski. Bersama ibu, dia menyewa seperangkat alat ski. Orantua saya memilih untuk melihat-lihat saja, begitu pula saya yang masih saja menikmati pemandangan dan orang-orang yang bermain ski.

Namun yang namanya jiwa petualang tidak bisa dibiarkan diam begitu saja. Akhirnya saya ingin juga mencoba untuk bermain di salju. Lebih gilanya lagi, saya menyewa snowboard, bukan ski. Sebagai informasi, snowboard jauh lebih sulit digunakan daripada ski. Namun saya lebih memilihnya karena satu alasan saja, terlihat lebih keren. Setelah mendapatkan snowboard itu, saya bergabung dengan adik saya untuk bermain di bukit kecil untuk pemula.

Ternyata alasan saya memilih snowboard karena keren benar-benar salah. Amat sangat sulit mengendalikannya. Jangankan untuk berhenti, untuk berbelok saja susah. Alhasil saya tidak pernah sekalipun meluncur dengan selamat sampai ke bawah. Yang terjadi adalah saya menabrak antrian anak kecil yang sedang antri diajari oleh pelatih ski, menabrak wanita Cina yang sedang terjatuh, dan menabrak pagar pembatas antara ski umum dan sekolah ski. Saat menggunakan snowboard, kaki terpasang pada board dan tidak bisa dilepas dengan mudah. Oleh karena itu saya sering menabrak orang-orang karena tidak dapat menghindarinya dengan melepaskan board. Malukah saya? Sama sekali tidak. Adalah sangat wajar jika gagal ketika pertama kali mencoba.

Puas bermain, kami makan siang di restoran. Antriannya luar biasa panjang. Mungkin inilah yang disebut konsep monopoli, hanya ada satu tempat makan dan begitu banyak pengunjung di sana. Harga makanan pun ditembak dengan seenaknya, seperti nasi daging sapi seharga 9000 KRW dan udon seharga 6000 KRW. Tapi ya sudahlah, tidak apa, kapan lagi makan dikelilingi salju seperti ini. Usai makan, kembalilah kami ke tempat persewaan alat tadi dan bersama-sama kembali ke Seoul.

One thought on “Family Time in Korea – Seoul 2

  1. selamat malam pak, saya mau tanya utk tur ski itu didapat dari mana ya?saya berencana jalan-jalan sendiri tanpa tour/travel ke korea. Stelah bbrp hari di seoul, ingin inap di ski resort semalam dan main ski. thanks sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s