Membandingkan Korea dan Indonesia (2)

Saya mencoba melanjutkan hasil pengamatan saya selama berada di Korea. Jika sebelumnya saya membahas tentang transportasi, keuangan, pendidikan, dan bahasa, sekarang saya akan membahas hal lainnya.

5. Cuaca

Saya datang ke Korea pada September 2011, artinya saat itu Korea sedang mengalami musim gugur. Inilah musim gugur yang pertama kali saya alami. Di Indonesia memang sering kita lihat daun pohon jati meranggas, tapi itu bukan musim gugur sebenarnya. Musim gugur adalah musim ketika seluruh dedaunan berubah warna, baik itu menjadi merah ataupun kuning. Ini adalah musim yang mungkin paling indah dan romantis.

3 bulan berikutnya, musim mulai berganti. Saya akan mengalami musim dingin pertama saya. Harapan orang-orang daerah tropis ketika berada pada musim dingin tentu saja melihat sesuatu yang mustahil ditemui di Indonesia, selain puncak Jaya Wijaya, yaitu sesuatu yang berwarna putih dan lembut. Sesuatu ini adalah salju. Namun sayang seribu sayang, kota saya berada di daerah selatan Korea, artinya cukup kecil kemungkinan untuk mendapati salju menumpuk di halaman seperti di film-film. Namun apabila kita bergerak ke utara, kota-kota seperti Daejeon dan Seoul benar-benar tempat yang tepat untuk melihat tumpukan salju. Beruntung saya sempat melihat salju ketika berada di sana.

Masih ada 2 musim lagi, yaitu musim semi dan musim panas. Bayangan saya, musim semi adalah musim dimana daun-daun tumbuh dari pohon yang kering, dan segalanya menghijau. Sedangkan musim panas adalah musim kemarau di Indonesia. Musim panas inilah Busan menjadi surganya Korea dan orang-orang yang berlibur ke Korea. Kenapa? Karena Busan memiliki banyak pantai, dan di situlah inti musim panas.

Seperti yang kita tahu, Indonesia hanya memiliki 2 musim, kemarau dan penghujan. Kedua musim tersebut tidak memiliki perbedaan suhu yang signifikan. Dari sini dapat dikatakan bahwa daya adaptasi tubuh orang Indonesia kurang jika dibandingkan orang Korea. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa atau pekerja Indonesia yang pertama kali mengalami musim dingin di Korea, saya contohnya, akan mengalami pecah-pecah di sebagian besar tubuh. Udara dingin itu menyakitkan, bisa membuat kulit kering, terluka, dan mengeluarkan darah. Itulah yang terjadi pada saya selama 1,5 bulan pertama musim dingin. Lama kelamaan tubuh baru bisa beradaptasi. Untuk musim panas, mungkin tidak akan terlalu sulit untuk beradaptasi karena kata teman-teman saya suhu udaranya maih tidak lebih panas dibandingkan Indonesia.

Satu hal lagi mengenai perbedaan musim antara Korea dan Indonesia adalah mengenai waktu Sholat, bagi muslim. Di Indonesia, sudah menjadi suatu patokan bahwa subuh pukul 4.30, dhuhur, pukul 12.00, asar pukul 15.00, magrib pukul 17.30, dan isya pukul 19.00. Misalnya ada perbedaan waktu, selisihnya tidak akan lebih dari 1 jam. Namun di Korea penentuan waktu solat adalah hal yang berbeda. Kita tidak bisa menggunakan patokan di atas untuk setiap waktu, karena setiap musim memiliki jadwal solat yang berbeda. Sebagai contoh, pada musim dingin, saya sholat subuh pukul 6.00, bukan karena saya kesiangan, tapi karena memang azan subuh pukul 6.00. Terkadang pada suatu musim sholat asar baru pukul 16.30 dan magrib pukul 19.30. Di sinilah sebagai seorang muslim kita harus lebih memperhatikan waktu sholat, tidak bisa menyamaratakan waktunya untuk semua musim.

6. Kebersihan

Korea lebih bersih dibandingkan Indonesia. Bukan bermaksud menggeneralisasi, tapi ini merupakan suatu kenyataan. Hampir di seluruh kota yang pernah saya datangi di sini lebih bersih dibandingkan kota-kota yang pernah saya datangi di Indonesia.

Seoul misalnya, jaug lebih bersih dibandingkan sister citynya, Jakarta. Sangat jarang saya temukan sampah bertebaran di jalan. Misalkan ada, itu adalah kumpulan sampah yang sudah terkumpul dalam sebuah plastik besar dan disandarkan di sebatang pohon. Contoh lainnya Busan. Kota ini juga jauh lebih bersih dibandingkan sister citynya, Surabaya. Pelabuhan Busan kelihatan sangat rapi dan tertata, berbeda dengan Tanjung Perak atau Tanjung Priok.

Di Korea pun saya punya pengalaman masuk pasar tradisional, padahal di Indonesia saya sangat jarang masuk ke pasar seperti itu. Alasan saya tidak mau ke pasar tradisional Indonesia adalah karena semrawut, bau dan becek, meskipun itu tidak hujan. Di sini, yang namanya pasar tentu saja bau, baik itu bau daging, ikan, maupun bau bumbu-bumbu Korea yang baunya memag ajaib. Akan tetapi, bau-bau tersebut tidak bercampur dengan bau sampah dan bau beceknya jalan di dalam pasar yang bisa menghilangkan nafsu makan. Jujur saya heran melihat orang-orang yang bisa tahan untuk makan di dalam pasar tradisional Indonesia yang baunya entah bagaimana menjelaskannya. Namun di lain sisi saya juga heran kenapa saya juga bisa makan di Gelap Nyawang, jalan di depan ITB yang penuh dengan kuda-kuda berikut kotorannya di sekitarnya.

Kembali ke kebersihan Korea, menurut mentor saya di kantor, budaya hidup bersih ini sudah ditanamkan sejak Korea menjadi tuan rumah olimpiade tahun 1988. Mulai dari situlah mental warga Korea untuk hidup bersih mulai ditumbuhkan dan hebatnya berlangsung sampai sekarang. Selain itu kalau diperhatikan, di sepanjang jalan di Korea sangat jarang ditemui tong sampah, kecuali di sekitar perempatan atau persimpangan jalan yang cukup besar. Kenapa? Menurut teman saya, hal ini disebabkan budaya orang Korea untuk tidak makan atau minum sambil berjalan. Memang benar, sangat jarang saya melihat orang Korea, terutama yang sudah cukup tua, untuk makan atau minum sambil berjalan. Ini pun yang menyebabkan di setiap convenience store sejenis 7Eleven, GS25, Family Mart, dll selalu menyediakan air panas, microvawe, sekaligus tempat untuk makan dan minum di dalamnya. Nampaknya hal ini cukup sulit untuk diterapkan di Indonesia.

7. Kebudayaan

Bicara tentang budaya, tidak lengkap jika tidak membicarakan budaya secara lebih luas lagi. Seperti yang kita tahu, sama seperti Indonesia, dahulu kala Korea pun berbentuk kerajaan. Ada beberapa dinasti yang menguasai Korea, setahu saya ada dinasti Silla dan dinasti Gaya. Dinasti-dinasti tersebut meninggalkan berbagai macam hal, mulai dari kuil, kerajaan, patung, dan barang-barang lainnya.

Salah satu objek pariwisata di Korea yang sering dikunjungi adalah kuil. Memang mayoritas penduduk Korea adalah penganut agama Budha, namun menurut teman kantor saya, sebagian besar tidak mengamalkan ajaran-ajarannya. Akan tetapi, memang hampir di setiap bagian Korea dapat ditemukan kuil-kuil. Di Indonesia mungkin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke pura-pura di Bali.

Objek lain adalah istana-istana. Yang paling terkenal tentu saja Gyeongbokgung yang terletak di Gwanghwamun, Seoul. Di sekitar tempat itu juga ada Hanok Village, sebuah komplek perumahan yang berisi rumah-rumah adat Korea. Di tempat itu selain bisa berfoto, pengunjung juga bisa mendapatkan pengalaman mengikuti upacara minum teh, cara membuat kimchi, dll. Indonesia juga punya keraton dan beberapa rumah adat yang dapat dilihat oleh wisatawan.

Lalu apa bedanya? Menurut saya hampir sama, kedua negara sama-sama melindungi kebudayaannya. Namun yang saya lihat di sini adalah siapa orang yang bertanggung jawab atas hal-hal tersebut. Benar semuanya berada di bawah kementrian budaya dan pariwisata, hanya saja kondisi geografis Korea dan Indonesia bisa dibilang cukup ekstrim. Di Korea, kementrian ini cukup mudah mengawasi dan mengembangkan pariwisata budaya secara langsung tanpa perlu banyak birokrasi. Berbeda dengan Indonesia yang wilayahnya cukup luas, diperlukan birokrasi yang cukup panjang dari pusat sampai ke cabang terkecil untuk menentukan siapa yang akan mengurus kebudayaan-kebudayaan tersebut.

Kalau saya lihat dari bidang ini, Indonesia bisa menjadi sehebat Korea. Syaratnya hanya rasa kelebihpedulilan masyarakat secara umum dan pemerintah secara khusus atas lokasi-lokasi kebudayaan ataupun tempat-tempat bersejarah kita.

8. Industri

Terakhir, jika berbicara tentang industri, secara langsung bisa dikatakan Indonesia kalah jauh dari Korea. Siapa tidak kenal Samsung, LG, Hyundai, KIA, dll? Produk-produk industri besar Korea sudah mendunia dan dipakai banyak orang. Indonesia? Bisa dibilang tidak ada barang dari industri Indonesia yang sudah dipakai secara mendunia. Sebenarnya ada barang-barang semacam bola kaki, sepatu bola, knalpot mobil, dan rangka mobil yang dibuat oleh oleh Indonesia. Akan tetapi ketika barang-barang tersebut sampai ke konsumen, barang tersebut sudah berganti menjadi merk Nike, Adidas, dan BMW.

Lalu bagaimana cara mengembangakn Industri di Indonesia? Saya buka orang bisnis, hanya pengamat lingkungan sekitar. Yang saya lihat di Kore, orang-orang dengan bangga menggunakan produk-produk asli Korea. Contoh mudahnya adalah hampir semua mobil di sini adalah Hyundai, KIA, atau Samsung Renault. Begitu pula dengan bangganya anak muda Korea menggunakan jaket Polham yang merupakan produksi asli Korea.

Dari sini terlihat jelas bahwa Industri akan berkembang pesat apabila didukung penuh oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia tidak perlu malu menggunakan produ dalam negeri karena dari situlah kemajuan industri Indonesia bermula.Nampaknya semboyn ‘Aku conta produk Indonesia’ perlu diboomingkan lagi.

9 thoughts on “Membandingkan Korea dan Indonesia (2)

  1. Saya sangat suka korea, salah satunya karena mereka cinta dengan produk dalam negeri mereka. Saya juga akan mencoba produk yang ada dalam negeri untuk membantu perkembangan perindustrian Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s