Tidak Harus Melalui Indonesia Mengajar

Siapa tidak kenal dengan Anies Baswedan dan Gerakan Indonesia Mengajar yang dibawanya? Bagi saya, beliau dan Indonesia Mengajar adalah suatu hal yang sangat menarik jika dilihat dari sudut pandang manapun. Sangatlah luar biasa ketika banyak pelajar luar biasa yang rela meninggalkan kehidupan normalnya, baik itu kerja kantoran maupun melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, demi pergi ke daerah pelosok untuk ‘sekedar’ mengajar anak-anak SD.

Hal inilah yang membuat saya dan beberapa teman saya rela mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Bukan perjalanan Bandung-Jakarta biasa, karena perjalanan yang diwarnai hujan lebat dan badai. Perjalanan ini kami lakukan hanya untuk mengikuti roadshow Indonesia Mengajar di @america, Pasific Place. Di situlah beliau membuka pikiran saya dan saya yakin orang-orang lain yang juga hadir di tempat itu.

Beliau mengatakan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia, yang seudah termaktub dalam pembukaan UUD 1945, adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini tujuan bangsa, yang artinya menjadi kewajiban, bukan hanya kewajiban pemerintah, tetapi juga kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Ditambah lagi beliau menyampaikan sebuah pepatah,

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Bagi saya ini adalah suatu pepatah yang laur biasa. Terlebih ketika kita melihat bangsa Indonesia yang saat ini bisa dibilang terpuruk di berbagai bidang. Apa yang biasa masyarakat lakukan adalah ‘hanya’ menyalahkan pemerintah, meskipun mungkin mereka memang salah. Namun jauh lebih baik jika masyarakat bisa melakukan suatu hal kecil yang dapat menyelesaikan atau setidaknya mengurangi permasalahan-permasalahan bangsa.

 

Dari roadshow IM, saya bertekad untuk memulai menyalakan lilin-lilin kecil yang meskipun hanya satu atau 2 batang bisa menerangi kegelapan. Saya mulai dengan ikut program ITB Mengajar, suatu program di mana anak-anak ITB menjadi guru untuk anak-anak SD di suatu daerah di sekitar kampus. Kami mengajar di sebuah masjid di bawah jembatan Pasopati. Dan sungguh, mengajar itu menyenangkan. Terlepas dari lucu dan anehnya tingkah adik-adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini, entah mengapa saya merasa mengajar itu menyenangkan. Apalagi jika orang yang diajar semangat dan antusias mengikuti pelajaran yang kita ajar. Dari sini mungkin saya bisa mengerti sedikit perasaan guru yang marah ketika murid-muridnya tidak memperhatikannya di kelas.

Saya mengikuti program ITB Mengajar tidak lama, mungkin hanya sekitar 1-2 bulan sebelum saya sidang dan wisuda. Seusai wisuda, saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S2 di Korea, dan dengan terpaksa saya meninggalkan adik-adik ITB Mengajar.

Di Korea, saya hampir melupakan apa yang dikatakan Pak Anies saat roadshow IM karena sibuknya saya kuliah dan padatnya jam standby di laboratorium. Sampai akhirnya saya mengenal adanya program Universitas Terbuka Korea. Ternyata ini adalah suatu program resmi pemerintah Indonesia untuk memberikan pendidikan khususnya kepada TKI-TKI yang berada di seluruh dunia.

Pemerintah sudah membuka jalan, tinggal siapa yang mau berjalan di sana. Universitas Terbuka Korea (UT Korea) ini sendiri dijalankan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Korea yang tergabung dalam Perpika (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Korea Selatan). Program ini sudah 1 tahun berjalan dan karena usia yang masih seumur jagung, tentu saja masih ada banyak masalah di dalamnya. Saya menanti kapankah ada kesempatan bagi saya untuk ikut ambil bagian di dalamnya.

Seluruh penantian pasti ada akhirnya, begitu pula penantian saya. Akhirnya dibuka juga pendaftaran tutor (bukan dosen) UT Korea periode Spring 2012. Seleksi yang dilaksanakan di Seoul, berjarak kira-kira 450-500k dari kota saya, tidak menyurutkan keinginan saya mengikutinya. Saya mengikuti seleksi penuh percaya diri dan singkat cerita, saya menjadi salah satu tutor UT Korea yang akan mengajar Bahasa Inggris (Writing 1 dan Writing 2).

Excited? Sangat. Deg-degan? Iya. Orang yang nantinya akan belajar bersama saya buka anak-anak SD lagi, melainkan mas-mas dan mbak-mbak yang saya yakin lebih tua daripada saya. Tentu saja saya tidak dapat menerapkan teknik yang saya gunakan untuk mengajar anak-anak ITB Mengajar dulu, apalagi kegiatan belajar mengajar di UT sebagian besar menggunakan sistem online. Lagi-lagi ini tidak akan menyurutkan langkah dan niat saya. Minggu depan (4 Maret 2012) adalah hari pertama tatap muka online, yaitu kegiatan belajar mengajar via streming video. Semoga segalanya berjalan lancar.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Satu lilin baru telah dinyalakan, bagaimana dengan lilin-lilin lainnya?

4 thoughts on “Tidak Harus Melalui Indonesia Mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s