L’Arc en Ciel, 5/5/2012, Jamsil Gymnasium, Seoul

Sabtu pagi, seorang anak muda memantapkan langkahnya menuju terminal bus Gimhae. Anak itu mengenakan baju berwarna hijau lusuh, bercelana jeans, bersepatu kets berwarna putih, dan membawa sebuah tas berwarna krem yang nampak lusuh. Dia menuju ke loket penjualan tiket dan berkata kepada wanita yang ada di sana.

Si Anak: 서울 있어요? 9시10분 주세요.

Wanita: 있어요. 32.000원

Anak tersebut mengeluarkan domepet dan selembar uang 50.000 Won kemudian menyerahkannya kepada wanita penjual tiket tersebut. Dia menunggu sekitar 15 menit di sana, dan kemudian dia pun duduk manis di bus menuju Seoul. Dalam perjalanan tersebut, si anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tertidur, meskipun berulang kali dia terbangun karena sopir yang sering mengerem mendadak.

4,5 jam perjalanan, dia pun sampai ke Seoul. Masih ada waktu cukup lama sebelum waktu janjian untuk bertemu dengan temannya yang berangkat dari Daejeon. Si anak tersebut pun memutuskan untuk kembali berpetualang seorang diri, kali ini tujuannya adalah National Museum of Korea. Sudah berkali-kali si anak berjalan-jalan ke berbagai museum yang ada di Korea tetapi tidak jua dia merasa bosan, karena memang museum-museum tersebut dikemas secara indah dan teratur. Di museum ini, kembali dia melihat berbagai macam peninggalan purba, kerajaan, sampai karya seni abad 20 yang ditemukan di Korea. Satu hal y ang membuat perjalanan ini lebih menarik adalah suatu fakta bahwa tempat itu pernah digunaakn untuk pengambilan gambar salah satu episode Running Man, reality Show Korea favoritnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 4.30, dia pun menuju ke Sports Complex, di daerah Jamsil. Sampai sana, ternyata sedang berlangsung pertangdingan baseball di stadion baseball yang juga berada di tempat  tersebut. Sambil menunggu temannya, dia pun membeli makan siang di salah satu restoran cepat saji yang ada di sana. Tak lama kemudian, pertandingan usai dan seluruh penonton keluar dari stadion. Jadilah si anak terjebak di lautan suporter Bears dan Twins. Seusai gelombang tersebut usai, si anak menuju ke Gymnasium untuk menunggu temannya.

Tidak disangka, si anak malah bertemu Adhi, seniornya ketika berkuliah di kampus gajah dulu. Akhirnya dia mempunya teman mengobrol. Mereka pun ngobrol. Tak lama kemudian, Adit, temannya yang berasal dari Daejeon, dan beberapa orang temannya datang. Si anak senang bertemu Adit karena itu adalah pertama kalinya mereka bertemu semenjak acara wisuda bulan Juli tahun 2011. Perasaan si anak pun makin tenang karena saat ini dia telah memiliki tiket untuk menonton konser. Ya, sejak berangkat tadi si anak tidak memegang tiket karena tiketnya dibawa oleh Adit.

Si anak Gimhae itu jauh-jauh pergi ke Seoul hanya untuk melihat konser L’Arc en Ciel, salah satu band non-Indonesia dan non-barat favoritnya. Ini adalah kedua kalinya dia melihat konser di Korea. Konser pertama yang dia lihat adalah Asia Song Festival di Daegu tahun lalu. Kini dia berada di Seoul, di antara ribuan penggemar L’Arc en Ciel dari penjuru Korea. Tiketnya adalah tiket stage, artinya dia akan duduk manis selama konser berlangsung, itu teorinya. Tapi mustahil nampaknya melihat konser musik non-klasik dan penontonnya hanya duduk manis di kursinya.

Pukul 19 lebih beberapa menit, konser pun dimulai. Hal yang paling mengagumkan adalah tata panggung dan layar yang menampilkan berbagai macam animasi dan ilustrasi tiap lagu. Ditambah lagi banyaknya lampu halogen yang diatur untuk menyala pada beberapa bagian lagu. Tidak lupa permainan lampu yang luar biasa. Si anak pun hanya bisa mengacungkan 2 jempol atas kemegahan konser ini. Sayangnya, kemegahan visual tersebut tidak dapat diimbangi oleh keindahan audionya. Si anak itu merasa suara dari Hyde tidak terlalu terdengar. Sebaliknya, bass Tetsu terdengar terlalu besar dan gitar Ken  terlalu cempreng. Ditambah lagi bass drum Yukihiro yang sama kerasnya seperti bass Tetsu.

Seperti yang sering dilakukan oleh musisi asing yang melangsungkan konser di negara lain, Hyde dkk pun menyapa penonton dengan beberapa kata dalam bahasa Korea, seperti 안녕, 감사합니다, 고마워, 저미있어요, dll. Tidak hanya menyapa, Ken dan Yukihiro sempat bercanda dalam bahasa Korea juga. Tetsu tidak ketinggalan, dia melemparkan beberapa buah pisan dan permen kepada penonton, tidak lupa dia mencium pisang dan permen tersebut sebelum dilempar kepada para penonton. Alhasil seluruh penonton pun histeris. Si anak yang melihat dari tribun pun hanya bisa tertawa melihat para penonton di festival yang berteriak meminta pisan dan permen itu. Hal yang paling membuat anak itu heran adalah ke’cantik’an Hyde. Meskipun dia laki-laki, namun dandanannya, mulai dari makeup sampai pakaian benar-benar kelihatan cantik. Ditambah lagi beberapa kali dengan centilnya dia mengedipkan mata atau membuat gerakan kiss-bye kepada para penonton.

Akan tetapi, bagi anak itu, keseluruhan konser tersebut sangatlah luar biasa. Terutama karena merupakan hal yang unik melihat konser band Jepang di Korea, terlebih band ini merupakan band yang cukup terkenal di dunia. Meskipun si anak tidak hafal lirik lagu-lagu L’Arc en Ciel, namun si anak masih tetap dapat mengikuti konser tersebut karena memang  dia cukup familiar dengan lagu-lagunya, seperti Driver’s High, Anata, Link, Niji, dll. Sayangnya lagu favorit si anak, 4th Avenue Cafe tidak dimainkan di konser ini.

Konser berakhir dan waktu sudah menunjukkan larut malam. Akhirnya si anak menumpang tidur semalam di asrama Adhi dan pulang pada keesokan harinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s