Mahasiswa dan Gitar Bolongnya

Seorang mahasiswa Indonesia dengan tinggi sedikit di atas rata-rata orang Indonesia dan berat bada yang naik 6 kg sejak berada di Korea itu membungkus dirinya dengan jaket musim dingin. Malam itu dia bertekad melawan udara dingin hanya untuk sekedar pergi ke HomePlus, salah satu pusat perbelanjaan di Gimhae, kota kecil di selatan Korea tempat ia tinggal saat ini. Kenapa dia rela melawan udara dingin malam itu untuk pergi ke HomePlus? Saat itu dia sedang sakau, saat itu dia sedang benar-benar membutuhkan sesuatu untuk mengobati ketergantungan pada sebuah hal yang disebut musik. Dia membeli sebuah gitar bolong seharga 116.000 KRW, cukup mahal untuk ukuran gitar bolong, dan dia kembali ke asramanya.

Sesampainya di asrama, hal pertama yang dia lakukan adalah meminta izin teman sekamarnya untuk bermain gitar. Teman sekamarnya tidak masalah dengan hal tersebut. Mahasiswa itu pun memainkan gitar barunya diselingi beberapa bait nyanyian yang mengalun tidak cukup merdu dari pita suaranya.

Musim berganti (benar-benar berganti, bukan hanya kata-kata manis dari puisi maupun lirik lagu), teman sekamar si mahasiswa itu pun berganti. Kali ini temannya tidak setuju jika ia memainkan gitarnya di kamar. ia pun mengalah, ia bawa gitarnya ke suatu tempat yang selalu ia kunjungi setiap hari kerja, tempat itu adalah laboratorium. Ia letakkan gitarnya di ujung ruangan dan hanya dimainkan ketika malam tiba atau ketika pagi menjelang. Ia hanya bermain gitar ketika tidak ada orang di lab. Ia pun bebas bernyanyi.

Tidak hanya bernyanyi, berpuas hati, dan selesai begitu saja. Dia merasa perlu mendokumentasikan nyanyian-nyanyiannya. Dengan percaya diri dia merekam dirinya sendiri ketika bernyanyi dan mengunggahnya ke Youtube. Seluruh lagu-lagunya dapat didengarkan di sini http://www.youtube.com/user/jonimaulana.

Kehidupannya di lab pun menjadi makin panjang. Jika selama ini di selalu pulang ke asramanya seusai makan malam, akhir-akhirn ini ia bisa tinggal di lab sampai pukul 11-12 malam. Selain tuntutan dari profesornya untuk meriset segala macam hal, ia pun dengan setia menanti teman-temannya pulang sampai akhirnya dia seorang diri dan dapat memainkan gitarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s