Ke Nikahan Orang Korea

2 minggu yang lalu, teman baik saya, Rod, mendapatkan undangan dari Mr. Kim Hee Kyu, salah seorang pegawai di kantor Sekolah Pasca Sarjana. Saya mengenal dia sejak sebelum berada di Korea. Dan karena saya begitu seringnya berhubungan dengan dia sebelum berangkat ke sini, dia pun meluangkan waktunya untuk menjemput saya di bandara Gimhae pada hari kedatangan saya di Korea. Rod bertanya apakah saya mau datang ke sana atau tidak. Awalnya saya merasa tidak enak jika hanya datang bersama Rod. Selain karena takut dikira gay, saya lebih merasa tidak enak dengan beberapa mahasiswa internasional lainnya. namun akhirnya setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat.

Minggu lalu, saya dan Rod berangkat ke sana. Tentu saja tidak hanya berdua, Rod mengajak Ngoc, mahasiswi Vietnam yang jago berbahasa Korea, dan saya mengajak Xue, mahasiswi Cina yang sempat menjebak saya untuk ‘bermain’ bersama tikus-tikusnya. Kali ini giliran dia saya ‘jebak’ untuk menemani saya ke nikahan Mr. Kim. Awalnya saya ingin memakai batik, namun alangkah sedihnya ketika saya melihat batik saya bolong-bolong. Nampaknya dimakan ngengat atau hewan sejenisnya. Akhirnya, SUIT UP! Saya terpaksa mengeluarkan jas yang selama ini saya siapkan di sini hanya untuk conference atau wisuda saja.

Sampai di sana, acara belum dimulai. Banyak orang berkumpul di depan altar pernikahan. Beruntungnya, kami langsung bertemu Mr.Kim di sana. Langsunglah kami bersalaman dan mengucapkan selamat. Tak lupa kami juga berfoto, sayang fotonya masih dibawa Xue. Jam 3 sore acara dimulai. Seluruh hadirin duduk di kursi.

Suasananya mirip dengan pernikahan di gereja (yang saya lihat di film-film). Pertama, kedua ibu dari masing-masing mempelai maju ke depan. Kemudian Mr. Kim bejalan seorang diri ke depan altar, disusul calon istrinya yang digandeng oleh ayahnya. Setelah mereka berdua berada di depan altar, penghulu (saya tidak tahu apa istilahnya) memberikan berbagai macam cerita, wejangan, dan saran kepada mereka berdua. Acara ini nampaknya tidak berdasarkan agama apa-apa, karena saya tidak melihat prosesi keagamaan apapun di sini.

Berikutnya adalah menghormati kedua orang tua dari masing-masing pihak. Si mempelai wanita membungkukkan badannya seperti ruku’, dan Mr. Kim menghormat dengan dalamnya dengan posisi bersujud. Acara dilanjutkan dengan menyanyi dan pemotongan kue. Selesai, itulah inti acaranya.

Kemudian seluruh hadirin berpindah tempat ke restoran buffet di gedung lainnya. Berbagai macam makanan ada di sana. Untungnya, tiap makanan diberi label, sehingga saya dapat memilih mana yang bisa saya makan dan mana yang tidak bisa saya makan. Perut kenyang, saatnya pulang.

Berhubung di depan lokasi pernikahan ada Taman Yeonji, kami ke sana sebentar. Benar, saya masih mengenakan jas. hahaha. Kapan lagi bisa mengenakan jas di taman, di saat orang beramai-ramai mengenakan baju santai dan celana pendek.

Well, pengalaman baru di Korea. Saya jadi tahu bagaimana bentuk nikahan modern orang Korea.

Mr. Kim dan istrinya

Rod, saya, Ngoc, dan Xue

Xue dan Saya (dengan jas yang sudah nggak karuan)

One thought on “Ke Nikahan Orang Korea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s