‘Korban’ Ketepatan Waktu Korea

CISAK 2012, bagi yang belum tahu, adalah salah satu acara PPI Korea (Perpika) yang adakan diadakan tanggal 7-8 Juli 2012. Acara ini adalah konferensi yang diorganisasi oleh Perpika dan mengundang seluruh mahasiswa Indonesia, baik yang berada di Korea maupun di negara lain. Terbukti dari paper-paper yang masuk, ada juga paper dari beberapa universitas Indonesia.

Hari Sabtu lalu, dijadwalkan adanya rapat koordinasi ditambah kopi darat untuk seluruh panitia di Daejeon, tepatnya di UST, lokasi CISAK 2012. Rapat dijadwalkan mulai jam 1. Karena jarak yang cukup jauh dari Gimhae ke Daejeon, saya membeli tiket kereta untuk pukul 8.59, karena saya ingin makan pagi terlebih dahulu di asrama. Pada Jumat malam, saya baru teringat bahwa setiap akhir minggu, kantin asrama baru dibuka pukul 8.00. Padahal saya masih harus naik bus dari asrama ke stasiun kereta terdekat selama kurang lebih 30-40 menit. Namun karena pada hari Jumat saya hanya makan roti sebagai makan malam, maka pada hari Sabtunya saya putuskan harus sarapan.

Sabtu paginya, setelah saya mempersiapkan diri dan barang yang akan saya bawa, segera saya meluncur ke kantin. Begitu kantin dibuka, segera saya ambil makan, duduk, dan makan. Saya makan dengan terburu-buru mengingat hanya ada waktu 59 menit dari makan sampai ke stasiun. Akhirnya saya selesai makan pukul 8.10 dan langsung berlari menuju halte bus terdekat. Untuk menuju halte tersebut saya harus menyebrang jalan raya yang cukup ramai. Sialnya, ketika saya menanti lampu pejalan berubah dari merah menjadi hijau, bus 128-1 yang akan membawa saya ke stasiun pun lewat. Alhasil saya harus menunggu sekitar 8 menit untuk bus berikutnya. Bus itu pun datang, saya naik, dan duduk manis di belakang.

Sepanjang perjalanan, tak hentinya saya melihat jam tangan. Bus Sabtu pagi yang saya pikir tidak terlalu ramai, ternyata ramai bukan main. Bus ini hampir berenti di setiap halte. Jadilah saya yang makin deg-degan. Masa-masa perjalanan itu sungguh mendebarkan, bahkan saya sempat berharap bahwa jam tangan saya menunjukkan waktu yang terlalu cepat, artinya saya masih punya waktu lebih. Namun itu hanyalah harapan kosong karena saya selalu mengecek ketepatan jam tangan saya yang selalu saya samakan dengan jam bus atau subway. Saya pun berharap ada delay di pemberangkatan kereta, meskipun hal ini sangat jarang terjadi. Apabila ada delay, delaynya pun tidak lebih dari 3-5 menit.

Menurut jam tangan saya, waktu menunjukkan pukul 8.59 ketika bus sampai di halte stasiun. Perjalanan masih belum usai, saya harus naik jembatan penyebrangan untuk menuju stasiun. Saya berlari sekencang mungkin menuju stasiun, dan begitu sampai di sana, saya melihat jam stasiun menunjukkan 9.01. Kemudian saya melihat jadwal keberangkatan kereta, kereta 8.59 sudah tidak ada. Resmilah saya menjadi ‘korban’ ketepatan waktu Korea. Saya pun membeli tiket lagi dengan tujuan yang sama, Daejeon, untuk pukul 9.24.

Pelajaran hari itu: jangan pernah sekalipun meremehkan ketepatan waktu di Korea

One thought on “‘Korban’ Ketepatan Waktu Korea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s