Mendadak Pulang – 2 (Dari Gimhae ke Incheon)

Minggu dini hari, 2.30, tiba-tiba handphone saya kembali berdering. Saya angkat telepon itu dengan terkantuk-kantuk, ternyata mama. Beliau berkata dengan lemah

Mama: Mas, papa kritis. Sekarang di ICU, sudah pakai ventilator

Saya: Astaghfirullah…

Mama: Mas pulang ya

Saya: (terdiam, tiba-tiba segalanya kabur)

Mama: Sudah dulu ya, mas. Tetep berdoa buat papa.

Seusai telepon ditutup, otak saya mencoba untuk berpikir dengan lebih jernih. Papa keadaannya kritis dan mama meminta saya untuk pulang. Padahal, hari Rabu ini saya, profesor saya, dana beberapa teman lab harus pergi ke Cina untuk mengikuti MITA conference, dimana seluruh hal-hal mulai visa sampai akomodasi sudah siap. Di sisi lain, saat itu pukul 2.30, pesawat ke Jakarta hanya ada dari Incheon dan berangkat pukul 10.45 pagi. Incheon ada di Korea Selatan bagian utara, sedangkan Gimhae, kota saya berada, berada di Korea Selatan bagian selatan. Otak saya pada saat itu berpikir dengan keras tentang keputusan apa yang harus saya ambil, dan keputusan itu harus cepat.

Pertama, saya mantapkan niat bahwa saya harus pulang ke Indonesia dan tidak ikut ke Cina. Di sini ada satu masalah, yaitu izin dari profesor. Jelas saya tidak bisa menghubungi profesor pada saat itu juga karena masiih terlalu pagi. Bahkan mungkin jam 9 pagi pun beliau belum bangun (begitulah keadaan orang Korea di saat weekend). Akhirnya saya putuskan akan menghubungi beliau nanti setelah saya mendapatkan tiket pesawat dan pasti pulang ke Indonesia. Saya pun minta tolong mama untuk membantu mengirim sms ke profesor untuk meminta izin agar saya bisa pulang ke Indonesia.

Kedua, saya buka internet dan mencari seluruh kemungkinan pesawat dari Korea ke Indonesia. Perlahan-lahan saya mencarinya dengan teliti. Ternyata penerbangan langsung Korea-Indonesia hanya ada di Incheon, yaitu Garuda dan Korean Air. Kemudian saya mencari penerbangan dengan transit. Ada beberapa opsi, antara lain Air Asia, Southern Chinese, dan Singapore Airline. Untuk saat ini, saya berharap banyak pada penerbangan pukul 10.45 dan 15.45 dari Incheon menuju Jakarta. Masalah pun mulai bermunculan, yaitu bagaimana cara memesan tiket secara langsung pada hari H. Di Indonesia, sangat memungkinkan untuk pergi ke bandara, membeli tiket di counter maskapai yang diinginkan, dan berangkat jika tiket ada. Di Korea, setelah saya tanya ke teman-teman mahasiswa via Facebook PPI-Korea, mereka bilang sulit. Saya hubungi call center Incheon dan bertanya mengenai masalah ini, dan dia berkata bisa. Jawaban ‘bisa’ dari operator Incheon makin membulatkan tekad saya untuk menuju Incheon tanpa membawa tiket dan berharap bisa membelinya langsung di sana.

Ketiga, saya mencari jadwal KTX paling pagi dari Gupo (stasiun Gimhae) ke Seoul Station. Ternyata kereta paling pagi adalah pukul 6.33. Kemudian saya mulai menghitung waktu. Dari asrama ke Gupo diperlukan waktu 30-45 menit dan saya masih belum punya tiket KTX, jadi saya harus berangkat paling lambat pukul 5.30 dari asrama. KTX sendiri akan membawa saya ke Seoul Station dalam waktu 3 jam, artinya saya akan sampai di sana pukul 9.33. Dari Seoul Station, saya masih harus naik Airport Express (Arex), kereta yang menghubungkan Seoul Station ke Incheon, selama 57 menit. Hitungan kasar, saya akan sampai di Incheon pukul 10.30 – 11.00. Artinya, saya pasti akan melewatkan flight pagi dan hanya berharap pada flight sore.

Azan subuh berkumandang dari laptop dan saya segera menunaikan solat. Saya lanjutkan pagi yang hectic itu dengan mandi koboi dan menyiapkan paspor serta beberapa lembar pakaian. Oleh-oleh? Sama sekali tidak terpikirkan untuk membawa snack-snack yang ada di kamar sebagai oleh-oleh. Setelah semua dirasa siap, saya menuju halte bus di depan kampus dan memulai perjuangan pada hari itu.

Saya mengisi perjalanan ke Gupo dengan terlelap sesaat sampai saya mendengar banyak orang masuk ke bus yang artinya tinggal satu halte lagi sebelum stasiun Gupo. Sesampainy di Gupo, segera saya menuju mesin penjual tiket. Saya pilih menu bahasa inggris, memilih jenis kereta, stasiun tujuan, dan waktu keberangkatan. Alhamdulillah, masih ada seat kosong untuk kereta 6.33. Segera saya pilih opsi itu, gesek kartu debit, dan tiket KTX ke Seoul Station pun berada di tangan. Harganya? 51.000 KRW. Saya sempatkan mengisi perut dengan kopi dari mesin penjual kopi. 6.25, saya menuju platform 3 dan berdiri menanti kereta. Tak lama, kereta itu datang, dan saya pun duduk manis di dalamnya sambil tetap berdoa untuk ayah saya meskipun sekali-sekali saya terkantuk.

9.30 saya sampai di Seoul Station. Langsung saya menuju ke bagian Airport Railroad Express yang berada di Basement 3. Saya tidak berpikir untuk naik kereta express karea toh saya belum punya tiket dan perbedaan waktu antara kereta express dan kereta biasa hanya 10 menit. Saya naik kereta commuter biasa yang menghubungkan Seoul Station dan Incheon serta berhenti di beberapa stasiun di antaranya. Saya memilih duduk dekat pintu masuk, selain karena dekat dengan papan penunjuk lokasi pemberhentian, di tempat itu saya juga bisa menyandarkan kepala ke partisi di samping pintu. Kereta melaju, dan kembali saya terkantuk-kantuk. Saya sampai di Incheon beberapa menit sebelum pukul 10.30. Benar, belum 10.45, tapi adalah harapan kosong jika berharap bisa membeli tiket untuk penerbangan yang tinggal 15 menit lagi.

Saya membaca map Incheon untuk mencari lokasi counter Garuda. Tidak ada. Makin stres, saya kembali menelepon call center Incheon. Dia memberikan nomor kantor Garuda di Incheon. Segera saya telepon nomor itu dan bertanya mengenai flight untuk sore nanti. Bagai tersambar petir di siang bolong, si operator Garuda berkata bahwa flight Garuda sore tidak ada. Dunia seakan runtuh karena seluruh perjalanan saya sampai saat ini akan sia-sia. Saya bertanya dimana lokasi kantor Garuda agar saya bisa berbicara secara langsung dengan si operator.

Sampai di sana, mbak operator menyambut saya dengan ucapan “You called me before, right?”. Perlahan saya menenangkan diri (bahkan saya mengetik artikel ini pun merasa deg-degan seakan dibutu waktu) dan bertanya mengenai flight Garuda sore yang saya lihat di website. Dia bahwa memang ada flight sore ke Jakarta dan bernomor GA-XXX, akan tetapi maskpai dan pesawat yang digunakan adalah Korean Air. Pada saat itu secercah cahaya seakan muncul dari mataku. Saya meminta tolong dia untuk menghubungi Korean Air perihal tiket untuk sore nanti. Saat dia menelepon, saya mendengar 없어요 yang artinya ‘tidak ada’. Cahaya itu pun mulai menghilang, sampai dia mengatakan bahwa ternyata masih ada tiket untuk penerbangan sore nanti, hanya saja itu adalah tiket Business Class seharga 1.459.900 KRW, jauh lebih mahal dibanding tiket kelas ekonomi. Saya bertanya mengenai penerbangan dengan transit. Si operator menelepon agen tiket untuk mencari tiket pesawat transit. Sayangnya, semua habis dan tersisa Korean Air Business Class seharga 1.523.000, lebih mahal daripada membeli langsung di Korean Air.

Dengan mengucap bismillah, saya meminta tolong kepada dia untuk memesan tiket Korean Air Business Class tersebut atas nama saya, lengkap dengan nomor paspor saya. Sebagai gantinya, dia memberikan nomor reservasi yang dapat saya tukar dengan tiket (tentu saja dengan membayarya terlebih dahulu) di counter-B Korean Air. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih kepada mbak operator yang saya tidak tahu nama lengkapnya, saya hanya tahu nama keluarganya adalah Yu. Dia sangat membantu saya dalam mendapatkan tiket ini. Segera saya menuju ke counter Korean Air untuk membeli tiketnya.

Saya menunjukkan nomor reservasi dan tiket saya sudah siap. Tibalah saat membayar. Saya keluarkan karty debit dan menyerahkan kepada penjaga counter. Beberapa saat saya menanti, dia pun berkata bahwa kartu saya tidak dapat digunakan. Harapan tinggal ambil tiket, menanti, dan pulang ke Indonesia pun buyar. Saya masih harus berpikir bagaimana mendapatkan uang cash sejumlah hampir 1.500.000 KRW. Pikiran saya bertambah kalut ketika terbayang situasi dimana ada jumlah maksimal uang yang dapat diambil dalam satu hari seperti di ATM Indonesia. Bahkan sempat saya berpikir akan meminjam uang cash ke teman-teman saya yang berada di Seoul.

Saya kembali ke lantai 1 tempat orang-orang berkumpul dan banyak fasilitas bandara berada. Saya menemukan ATM. Segera saya masukkan kartu saya dan melihat bahwa jumlah maksimal yang bisa diambil adalah 300.000 KRW. Selain itu, ATM tersebut adalah kelipatan 10.000 KRW. Bisa dibayangkan setebal apa 1.500.000 KRW. Saya ambil dulu 300.000 KRW dari ATM tersebut. Benar saja, 300.000 KRW saja sudah sangat tebal dan tidak bisa dimasukkan ke dompet. Saya berkeliling untuk mencari ATM lain sampai saya menemukan ATM dengan pecahan 50.000. Saya masukkan kartu saya lagi dan berharap saya bisa mengambil uang sampai dengan 1.500.000 KRW dalam sehari. Untungnya, bisa. Saya ambil 1.000.000 KRW terlebih dahulu dan disusul 200.000 KRW. Segera saya bawa uang tersebut kembali ke counter dan menebus tiket Korean Air Incheon-Jakarta. Saya bisa pulang ke Indonesia hari ini juga!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s