Mendadak Pulang – 3 (Businessman Melarat)

Setelh tiket pesawat berada di tangan, segera saya mencari loket check in. Setelah saya melihat sekitar, nampaklah loker general check in untuk Korean Air, dan dibawahnya tertulis prestige class. Prestige class sendiri adalah istilah untuk business class di Korean Air. Tanpa pikir panjang saya memasuki jalur antrian tersebut. Belum juga masuk, 2 orang wanita penjaga jalur tersebut menghentikan saya dan bertanya dengan nada sedikit keras.

Mbak: Mau kemana?

Saya: Mau ke jakarta

Mbak: Bisa lihat tiketnya?

Saya: (saya keluarkan tiket saya) Ini

Mbak: (dia memperhatikan tiket dengan seksama untuk meyakinkan bahwa orang di depannya ini benar-benar memegang tiket prestige class) Baik, silakan

Saya tidak dapat menyalahkan kedua orang penjaga jalur tersebut yang memeriksa tiket saya dengan seksama, ditambah berbicara kepada saya dengan sedikit keras. Pada saat itu, penampilan saya memang tidak menunjukkan penampilan seseorang yang mampu membeli tiket kelas bisnis untuk maskapai sekelas Korean Air. Saya hanya mengenakan jeans biru, kaos superman hitam, dan jaket PPI-Korea hitam. Selain itu sepatu kets hitam, topi hitam, sebuah tas slempang kecil, dan tas ransel turut melengkapi penampilan saya. Tidak lupa, rambut saya pun kribo belum sempat dicukur. Bandingkan penampilan saya dengan orang-orang lain yang saat itu antri di lajur yang sama, jas, dasi, rambut klimis, dan membawa kopor atau tas kerja.

Hal yang sama terjadi pula saat saya berada di meja check in. Si penjaga loket melihat saya sesaat sebelum kemudian tersenyum setelah melihat tiket saya. Saat dia bertanya apakah saya membawa bagasi, langsung saya jawab “nothing”. Alhasil saya menyia-nyiakan jatah bagasi 30kg untuk penumpang kelas bisnis. hahaha. Boarding pass pun akhirnya berada di tangan. Hanya tinggal 1 langkah lagi sebelum saya pulang, yaitu pengecekan imigrasi dan saya pun akan duduk manis di pesawat setelahnya.

Penantian pun berakhir ketika jam saya menunjukkan waktu yang diperbolehkan untuk masuk ke ruang tunggu penumpang. Saya masukkan barang-barang ke x-ray scanner sebelum imigrasi. Aman, karena memang saya tidak membawa barang-barang yang berbahaya (lebih tepatnya saya tidak membawa apapun selain pakaian dan buku). Di pengecekan imigrasi pun berjalan lancar. Si petugas hanya bertanya kapan saya akan kembali ke Korea, dan saya asal saja menjawab minggu depan. Paspor dicap, saya duduk manis menanti keberangkatan pesawat.

Setelah hampir 2 jam menunggu, gate menuju pesawat pun dibuka. Sama seperti check in, masuk ke pesawat pun dibedakan untuk penumpang ekonomi dan bisnis. Jadilah saya nampak paling ruwet di antara para businessman yang rapi dan necis. Di dalam pesawat, saya dan para penumpang kelas bisnis lainnya diarahkan menuju ke lantai 2. Wow, ini pengalaman pertama saya (dan mungkin untuk terakhir kalinya) naik pesawat Boeing 747 di lantai 2, kelas bisnis. Di sana sudah menanti tempat duduk yang unik, yang nantinya akan saya ketahui bahwa kursi tersebut dapat digunakan sebagai tempat tidur.

Saya sudah membayangkan akan mengatur kursi tersebut sedemikian rupa sehingga saya bisa tidur dengan nyenyak di pesawat nanti. Sunggu mata dan badan ini lelah karena belum beristirahat dengan baik sejak terbangun tadi pagi oleh telepon ibu. Sayang, harapan saya itu urung terjadi.

Sesaat setelah pesawat lepas landas dan tanda wajib menggunakan sabuk pengaman dimatikan, segera saya atur kursi membentuk garis lurus sehingga saya dapat tidur. Namun pramugari datang membawa kertas dan menyerahkan kepada semua penumpang. Di sampul kertas tersebut tertulis PRESTIGE CLASS. Saya buka halaman dalamnya, ternyata isinya adalah daftar menu yang disediakan. Ah, paling ini tiap penumpang disuruh memilih salah satu saja, begitu pikir saya. Lagi-lagi saya salah.

Tak lama kemudian, pramugari muncul, membuka meja makan dari samping kursi saya, memasang taplak di atasnya, dan meletakkan pisau, garpu, dan sendok di sana. Berasa makan di restoran mahal saja. Menu pertama muncul, jamur panggang dengan daging kalkun di dalamnya. Tak lama kemudian, muncul salad mozarella, dan langsung disusul oleh sup. Kembali saya berpikir, berbagai macam hidangan pembuka sudah muncul, setelah ini seharusnya break sesaat sebelum menu utama muncul.

Benar ternyata, ada break sesaat khusus untuk saya, karena yang muncul berikutnya adalah wine. Saya memang tidak minum wine, tapi tetap saja saya tidak bisa memejamkan mata pada saat itu karena pramugari tetap datang dan bertanya pada saya apakah saya mau minum atau tidak. Tak lama berselang, muncullah menu utama. Saya yang memsan bibimbap (nasi campur korea) segera memakannya dengan lahap. Selain karena lapar, saya juga ingin segera menyelesaikan rangkaian makanan ini sehingga saya bisa beristirahat. Perut yang kenyang ini membuat saya makin ngantuk. Namun yang terjadi berikutnya adalah munculnya makanan penutup berupa es krim Haagen Dans satu wadah dan buah segar. Perut sebenarnya sudah kenyang sekali, akan tetapi es krim selalu mendapat ruang kosong di dalamnya. Akhirnya rangkaian makanan itu ditutup dengan segelas kopi yang ditawarkan oleh pramugari. Tidak terasa, hampir 4 jam terlewati sejak pesawat lepas landas. Akhirnya saya bisa beristirahat sejenak.

kira-kira 1,5 jam sebelum mendarat, saya untuk kesekian kalinya dibangunkan pramugari. Dia menawarkan snack malam, yaitu sandwich ayam dan tidak lupa kopi panas. Teman sebelah saya, seorang bapak-bapak Korea, menolak tawaran tersebut dan memilih untuk tidur lagi. Saya sendiri menerima tawaran snack dari pramugari itu. Kapan lagi naik pesawat kelas bisnis dan dilayani layaknya seorang raja begini. Penerbangan kali ini akan menjadi penerbangan yang tidak pernah terlupakan sampai kapanpun.

Sesampainya di Soekarno Hatta, saya harus segera mencari tempat menginap untuk sementara. Saya sampai di sana pukul 20.30 akan tetapi penerbangan ke Solo baru pukul 5.50. Saya mencoba ke Airport Hotel yang sayangnya pada saat itu penuh oleh orang-orang yang sedang liburan. Saya berkeliling bandara sejenak sampai muncul ide di kepala saya untuk menginap di mushola bandara. Berangkatlah saya ke sana. Sebelum menginap, saya meminta izin kepada marbot mushola terlebih dahulu. Alhamdulillah, dia mengizinkannya. Menginap di mushola bukan hal baru bagi saya, karena selama menjelajah Korea, sudah beberapa kali saya menginap di mushola-mushola. Bedanya, kali ini saya menginap di mushola Soekarno Hatta setelah sebelumnya saya naik Korean Air Incheon-Jakarta di kelas bisnis.

Yes, I am a poor businessman…

 

One thought on “Mendadak Pulang – 3 (Businessman Melarat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s