Mendadak Pulang – 4 (Menunggui Papa)

Pagi harinya, alarm HP saya berbunyi dan menunjukkan pukul 5.00. Saya langsung kebingungan, flight pukul 5.50, dan saya belum sholat subuh, mencari lokasi gate, check in, dll. Langsung saya berlari ke tempat wudhu, wudhu, dan sholat subuh. Seusai sholat, saya melihat jam yang ada di mushola itu, 3.05. Otak saya loading sejenak dan menyadari bahwa alarm tadi adalah alarm waktu Korea yang 2 jam lebih cepat daripada Indonesia. Lega rasanya saya masih punya waktu untuk bersiap-siap, tapi malu rasanya mengingat betapa koonyolnya saya.

Saya menuju tempat check in pukul 4.30 dan kemudian saya sholat di mushola ruang tunggu. Tak lama kemudian, panggilan untuk masuk pesawat pun terdengar. Saya antri bersama para penumpang lain untuk masuk pesawat. 55 menit perjalanan berlalu dengan cepat, dan saya pun telah berada di Bandara Adi Soemarmo, Solo. Saya dijemput Mas Joko, supir keluarga yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Tujuan saya pada saat itu adalah ICU RS Islam Surakarta. Mobil kami pun melaju ke sana.

Segera saya berjalan menuju kamar tempat papa dirawat. Di sana sudah ada mama, adik saya, dan papa yang sudah tidak sadarkan diri di atas ranjang ICU, lengkap dengan berbagai macam kabel dan selang yang menempel pada tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya saya berkumpul bersama keluarga sejak Januari 2012, sayang kondisinya tidak seperti yang saya harapkan. 11 Agustus 2012, Garuda Indonesia ICN-JKT-SOC lah yang seharusnya membawa saya berkumpul bersama keluarga untuk menikmati bulan Ramadhan dan lebaran bersama. Kenyataannya, saya harus pulang lebih awal, berkumpul dengan keluarga lebih awal, dengan keadaan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Anak mana yang tidak menangis melihat keadaan ayahnya yang dia kenal sebagai seorang yang kuat, gagah, dan tegas, kini terbaring tak berdaya di ruang ICU. Mama pun bercerita tentang kronologis papa sampai tidak sadar hari minggu dini hari. Cerita itu makin membuat mata saya berair. Mama juga berkata, coba bisikin papa sana, papa memang nggak sadar, tapi pasti denger kok. Saya pun mendekati papa, saya sentuh dan usap tangannya, saya juga membisikkan di telinganya bahwa saya onny (panggilan keluarga untuk saya), sudah datang dari Korea untuk menengok papa. Lagi, air mata memang tidak dapat dibendung secara manual. Satu per satu bulir air mata jatuh ke bantal di samping telinga kanan papa.

Suasana itu berhenti ketika perawat datang untuk membersihkan ruangan dan papa. Kami bertiga keluar sejenak dari ruangan dan menanti di luar. Tak lama kemudian datanglah para penjenguk, mulai dari saudara, teman pengajian papa, tetangga, teman kantor mama, teman kampus adik, dll. Hal yang membuat saya senang adalah mereka semua mendoakan untuk kesembuhan papa. Melihat tamu yang begitu banyak, serta kasihan melihat mama dan adik yang tidur di ruangan yang sempit itu, dokter mengusulkan untuk memindahkan papa ke ruangan yang lebih besar. Mama setuju, kemudian papa dipindah ke kamar ICU yang lebih besar tersebut.

Kegiatan saya selama di Indonesia, sejak Senin pagi-Kamis pagi bisa dibilang hanya berkutat di ICU RS Islam Surakarta dan sekitarnya. Pagi sampai sore hari saya, mama, dan adik menyambut tamu yang menjenguk papa. Tidak lupa mereka pasti bertanya kapan saya sampai, bagaimana kehidupan di Korea, dll. Mama pun sama, beliau selalu menceritakan hal yang sama mengenai kronologis papa sampai tidak sadarkan diri. Untunglah keluarga dari mama, ada eyang dan tante-tante lainnya datang, sehingga kami tidak merasa bosan. Malam harinya, hanya tinggal kami bertiga di ruangan itu bersama papa. Kami berdoa bersama, mengaji, dan saling bergantian menjaga papa. Melihat mama yang kantung matanya sama seperti SBY, saya tidak tega untuk tidur meskipun badan remuk redam kelelahan.

Keadaan papa dalam 3 hari ini bisa dikatakan stagnan, tidak ada perubahan apa-apa, baik itu memburuk maupun membaik. Dokter pun masih belum berani melakukan operasi karena pendarahan di otak papa terlalu luas dan berada di bagian dalam otak, bukan di permukaannya. Sehingga, resikonya akan sangat besar apabila dilakukan operasi. Pada hari Rabu sore keadaan papa berubah, bukan menjadi lebih baik, melainkan tidak baik. Tensi papa terus turun meskipun telah diberi epinephrine untuk menaikkannya. Efek samping dari pbat ini adalah memaksa bagian tubuh lain untuk bekerja lebih keras. Alhasil keadaan papa saat itu adalah tekanan darah yang rendah namun detak jantungnya sangat cepat. Bunyi dari heart rate monitor + spO2 + blood pressure benar-benar memenuhi telinga dan pikiran saya, bahkan sampai sekarang pun masih sering terdengar di kepala saya.

Malam harinya, seusai jam besuk lewat, kami sekeluarga berkumpul dan berdoa bersama untuk papa. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk umatNya, dan Dia juga tidak memberikan ujian yang tidak dapat dihadapi umatNya. Sisa malam itu kami isi dengan mengaji untuk memenuhi keinginan papa untuk khatam sebelum Ramadhan mulai. Kami bertiga mengaji bergantian untuk papa. Subuh, kondisi papa semakin memburuk. Saat itu eyang dan tante sudah datang untuk menemani mama. Saya sempat ragu untuk sholat subuh di masjid karena tidak ingin meninggalkan papa, namun mama bilang tidak apa-apa. Saya berangkat ke masjid tepat saat iqomah berkumandang. Seusai sholat saya berdoa sejenak dan kembali berlari ke kamar papa. Keadaan papa makin memburuk, mungkin inilah yang dinamakan sakaratul maut. Mama dan eyang berkata pada saya, sebagai anak laki-laki dan anak tertua untuk membimbing papa mengucap tahlil. Meskipun papa tidak sadar, kami semua yakin pasti papa mendengar dan mengucap tahlil walaupun dalam hatinya.

La illa ha illallah… La illa ha illallah…

Saya menahan mata ini agar tidak mengeluarkan air mata lagi agar jika Allah memang memanggil papa, tidak ada yang menahannya. Saya mencoba untuk ikhlas dan tegar. Perlahan seluruh orang di ruangan itu mengikuti tahlil yang saya bisikkan di telinga papa. Dan tanpa saya sadari, ternyata tekanan darah papa sudah menjadi 0/0, begitu pula heart ratenya telah menjadi 0. Hanya tersisa spO2nya saja, itu pun bukan berasal dari papa, melainkan bantuan dari ventilator. Ventilator itu dimatikan dan spO2 pun ikut menjadi 0. Ya, pada saat itulah papa tiada. Tidak tampak tanda-tanda kesakitan, tersedak, maupun kaget ketika papa berada di akhir usianya. Semua berjalan lancar dan tenang. Doa saya, doa kami adalah semoga papa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

 

3 thoughts on “Mendadak Pulang – 4 (Menunggui Papa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s