Mendadak Pulang – 5 (Kembali ke Korea)

Suasana rumah pada hari papa meninggal benar-benar dipenuhi duka. Banyak orang yang datang dan banyak pula yang menangis. Alhamdulillah, saya, mama, dan adik bisa bertahan untuk tidak menangis selama acara berlangsung. Berat, sungguh. Berwajah datar, tersenyum kepada orang yang datang, dan tidak menunjukkan kesedihan merupakan hal yang sangat sulit dilakukan ketika suasana hati sedang sedih-sedihnya. Secara bergantian para takziah menyolatkan dan mendoakan papa. Kemudian saya mencoba untuk berpikir positif, Allah memberikan papa sakit sampai tidak sadarkan diri di rumah sakit beberapa hari ini mungkin agar makin banyak orang yang datang menjenguk dan mendoakan papa. Karena memang pada dasarnya papa adalah orang yang senang membantu orang lain, tidak perlu disangsikan lagi pasti banyak orang yang mendoakan papa. Ini membuat saya lebih ikhlas.

Di saat seluruh rangkaian acara selesai, salah seorang bapak-bapak yang mengurusi jenazah memanggil keluarga kami untuk melihat wajah papa terakhir kalinya. Dia membuka kain kafan di bagian kepala pap, dan kami semua (bukan hanya saya dan keluarga, tetapi juga orang di sekitar jenazah papa) melihat wajah papa yang bersih dan tenang, tanpa ada tanda-tanda kesakitan sama sekali. Untuk terakhir kalinya, saya, mama, dan adik mencium pipi papa, tanpa tangisan. Tangisan itu baru pecah dari adik saya ketika jenazah papa diangkat oleh tentara-tentara angkatan udara menuju mobil jenazah untuk dibawa ke pemakaman. Bukan tangisan meronta-ronta, hanya tangisan kecil penuh rasa sayang kepada papa. Seluruh orang yang datang bergantian menyalami kami sekeluarga dan meminta kami sekeluarga agar sabar, tabah, dan ikhlas.

Kemudian hanya saya yang ikut ke pemakaman papa, mama dan adik tidak ikut dan memilih tinggal di rumah. Sampai di sana ternyata jenazah papa sudah dimasukkan ke dalamliang lahat. Orang yang mengurusi proses itu ternyata adalah ustadz Sumadi, ustadz di tempat pengajian papa. Saya mencoba merangsek untuk melihat lebih dekat. Sekali lagi, saya mencoba menahan perasaan haru dan dorongan untuk mengeluarkan air mata. Ketika jenazah sudah diletakkan dengan baik, timbunan tanah mulai dimasukkan ke liang tersebut. Saya turut mengambil beberapa bongkah tanah dan melemparkan ke dalamnya. Seorang ustadz lain kemudian memimpin doa bersama para takziah dan mereka mengamini doa tersebut. Ketika orang-orang mulai meninggalkan tempat itu, saya tinggal untuk beberapa saat dan berdoa seorang diri menghadap kuburan papa yang masih berupa timbunan tanah. Bermacam doa mulai dari doa untuk kedua orang tua, doa kebahagiaan dunia akhirat, doa untuk seluruh umat muslim, ayat kursi, dll saya baca dalam hati. Tidak lupa doa pribadi dari saya sendiri untuk kebaikan papa di alam berikutnya juga saya panjatkan kepada Allah. Saya menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat itu. Setelah 7 langkah saya berjalan, kembali saya baca doa untuk papa dari dalam hati.

Sesampainya di rumah, beberapa orang tamu sudah pulang. Hanya tinggal keluarga papa dari Ngawi, Padangan, dan teman papa dari Jakarta saja. Mama dan adik ingin melihat makam papa pada sore harinya, saya pun mengantarkan mereka berdua ke makam papa. Ternyata makam tersebut sudah bukan berupa timbunan tanah saja, melainkan sudah berupa makam, yaitu tanah yang dibagian sampingnya telah dikaras (saya kurang tahu apa ini, yang jelas bentuknya seperti semen). Saya melihat mama dan adik berdoa untuk papa. Secara tiba-tiba terbayang di kepala saya pada saat itu papa sedang tersenyum melihat kami bertiga datang ke sana. Semoga apa yang saya bayangkan ini memang benar adanya, papa sukses menjawab pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir.

Hari Sabtu, 2 hari setelah papa tiada, saya harus kembali ke Korea. Saya bertanya pada mama apakah saya harus kembali secepat ini. Mama menjawab tidak apa-apa karena di Korea pun saya masih terikat dengan magang di salah satu perusahaan. Selain itu di rumah, adik pun tidak sedang kuliah sehingga bisa menemani mama. Toh saya juga akan kembali lagi ke Indonesia pada tanggal 11 Agustus nanti saat puasa dan lebaran.

Sabtu sore, saya berangkat dari Adi Soemarmo menuju Soekarno Hatta, meninggalkan rumah dan keluarga yang masih dirundung duka. Di sana, saya disambut oleh sahabat saya yang baru saja menikah namun saya tidak bisa datang karena pada saat itu saya sedang berada di Korea. Sabtu 23.20, saya kembali ke Korea dari Soekarno Hatta menggunakan Garuda Indonesia. Bukan untuk langsung ke Gimhae, melainkan ke Daejeon untuk mengikuti acara CISAK 2012, sebuah conference yang diadakan PPI-Korea.

5 thoughts on “Mendadak Pulang – 5 (Kembali ke Korea)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s