Ramadhan dan Satu-satunya Muslim

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saya adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia di kampus saya sampai saat ini. Lebih jauh lagi, saya merupakan satu-satunya mahasiswa muslim di lab saya dan di kantor tempat saya magang. Dalam bulan Ramadhan ini, sebagai satu-satunya mahasiswa muslim, saya mendapati beberapa hal yang unik.

Di lab saya, hampir semuanya tahu saya muslim. Mereka pun tahu kebiasaan saya untuk melakukan sholat pada jam-jam dhuhur dan asar di meja kerja lab saya, termasuk kebiasaan meninggalkan lab selama 2 jam pada hari Jumat untuk jumatan. Mereka juga tahu saya tidak bisa memakan hewan yang disebut babi dan tidak meminum alkohol, apapun jenisnya. Hal ini sudah saya tekankan sejak hari pertama saya berkenalan dengan profesor dan teman-teman lab saya. Di kantor pun saya melakukan hal yang sama, saya menceritakan seluruh kebisaan saya sehari-hari sebagai seorang muslim. Hebatnya, mereka semua menghargai itu. Mereka tidak mengganggu saat saya sholat, mereka memilihkan makanan yang aman bagi saya, dan saya mendapatkan kerja setengah hari di hari Jumat.

Hal yang baru bagi mereka adalah puasa. Baru karena saya tidak melakukan puasa setiap hari. Sehingga, pada awal Ramadhan saya perlu mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak makan dan tidak minum sejak matahari akan terbit sampai matahari terbenam. Awalnya mereka bingung, kenapa saya tidak makan dan tidak minum saat Korea Selatan sedang berada dalam musim panas yang luar biasa panasnya? Kenapa saya malah berhaus-haus ketika mereka dengan nikmatnya menikmati es kopi di siang hari? Namun setelah saya katakan bahwa ini adalah bulan khusus bagi orang Islam dan saya harus melakukan puasa, maka mereka mengerti.

Hal yang lucu terjadi ketika teman-teman lab dan profesor akan mengadakan pesta syukuran kelulusan seorang mahasiswa PhD dan 2 orang mahasiswa MS. Adalah hal yang normal mengadakan syukuran pada saat makan malam. Perlu diketahui, bahwa makan malam di Korea (dan di negara 4 musim lainnya) tidak berdasarkan gelap terangnya keadaan sekitar. Mereka makan berdasar waktu. Jika jam sudah menunjukkan pukul 18.00, seterang apapun keadaannya, maka itu adalah saat makan malam. Begitu pula acara syukuran ini pun diadakan pukul 18.00. Saya mengatakan kepada profesor bahwa saya baru bisa makan pada pukul 19.37 (azan magrib waktu Gimhae dan sekitarnya). Akan tetapi profesor tetap meminta saya untuk datang. Akhirnya sebagai mahasiswa yang baik, saya menurut.

Sempat terlintas di pikiran bahwa acara syukuran ini akan ditunda sampai pukul 19.30 untuk menunggu saya berbuka. Ternyata perut mereka tidak bisa menunggu selama itu. Kami semua pergi ke restoran dan duduk bersila melingkari meja panjang. Saya duduk di pojok dan melihat seluruh orang makan dengan lahapnya. Aroma daging yang dimasak, cola yang diteguk mereka membuat air liur saya terkumpul dengan banyaknya di dalam rongga mulut ini. 19.20, mereka semua selesai makan. Beberapa menit kemudian arloji saya menunjukkan 19.37. Saya ambil segelas air putih dan meminumnya. Kemudian prof memesankan makanan khusus untuk saya. Saya makan sendiri dan semua orang gantian melihat saya makan dengan lahapnya. hahaha.

Cerita yang mirip terjadi saat makan-makan kantor. Mereka mengajak saya untuk nonton film korea berjudul Thieves. Sebelum makan, mereka makan terlebih dahulu di Lotteria (McDonald versi Korea). Kembali saya hanya duduk dan melihat mereka makan. Tidak jarang saya menjawab ‘it is OK’ ketika mereka bertanya apakah saya tidak masalah tidak makan pada saat itu. Saat menonton bioskop, saya hanya dibekali 1 gelas coca cola untuk berbuka. Ketika waktu menunjukkan azan magrib, dengan sangat terpaksa saya berbuka dengan coca cola. Beruntunglah teman samping saya membawa popcorn dan nampaknya dia sudah bosan memakannya sehingga memberikannya kepada saya. Jadilah saya berbuka puasa dengan coca cola dan popcorn. Mentor saya bermaksud baik membelikan hotdog untuk saya, ternyata dia baru sadar bahwa semua sosis di korea (setahu dia) terbuat dari daging babi sehingga tidak bisa saya makan. Untunglah saya belum memakannya.

Itulah sekelumit pernik Ramadhan di Korea. Selain puasanya yang cukup lama (sekitar 14-15 jam), saya ternyata masih harus berhadapan dengan undangan-undangan makan yang susah untuk dihindarkan. Selamat berpuasa 10 hari kedua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s