Akhirnya Berlebaran di Indonesia

Tiket untuk libur lebaran ini sudah saya siapkan sejak beberapa bulan yang lalu. Izin dari profesor pun sudah saya kantongi, termasuk konsekuensi harus memulai magang 1 minggu lebih awal daripada jadwal semestinya. Kepulangan saya lebaran ini sebenarnya tidak terlalu wah, karena saya sudah terpaksa pulang 1 bulan yang lalu (cerita lengkap ada di Mendadak Pulang 1-5). Karena kali ini kepulangan saya sudah direncanakan, maka saya pun menyiapkan beberapa oleh-oleh untuk keluarga. Oleh-oleh saya beli di Nampodong bersama teman-teman Busan, sedangkan snack dan makanan kecil saya beli di Homeplus.

Sama saat mendadak pulang, saya harus menuju Incheon untuk naik pesawat ke Indonesia (sebagai pelajaran, pulang berikutnya saya sebenarnya bisa naik pesawat dari Gimhae, hanya saja harus transit di beberapa tempat). Barang bawaan saya adalah sebuah tas ransel berisi laptop, charger, dan barang-barang kecil, tas kecil tempat meletakkan paspor dan tiket, kopor bekas travel umroh, dan sebuah kardus berisi oleh-oleh. Di sinilah saya melakukan kesalahan besar, yaitu tidak memasang tali pada kardus. Akibatnya, kardus yang harus dibaa dengan dua tangan itu cukup merepotkan saya sepanjang perjalanan, baik itu dari dorm ke halte bus, naik bus, turun bus, dari halte bus ke stasiun, naik kereta, turun kereta, berpindah ke kereta airport, naik kereta airport, turun kereta airport, dan berjalan masuk airport. Di dalam airport inilah saya merasa bahagia karena terlepas dari beban mengangkat kardus bergantian tangan kanan-kiri sekaligus menarik kopor. Troli airportlah yang menyelamatkan saya (dan khususnya lengan saya). Karena saya sampai di airport cukup pagi (fyi, saya naik kereta jam 23.40 dari Gupo), saya punya waktu untuk duduk santai dan berisitirahat sambil menunggu Adit dan Mas Hadi.

Tak lama, mereka pun datang. Rombongan kami bertambah 1 ketika anak GIST bernama Anggita bergabung sehingga kopornya yang kelebihan berat dapat diselamatkan dari tambahan biaya. Imigrasi lewat, menunggu sejenak di ruang tunggu, dan pesawat Airbus milik Garuda Indonesia membawa kami kembali ke Indonesia.

Memiliki rumah bukan di Jakarta membuat saya harus naik pesawat lagi untuk menuju Solo. Sayangnya, masa penantian pesawat itu tidak sebentar. Saya harus menunggu sekitar 4 jam untuk melanjutkan perjalanan, bukan ke Solo, melainkan ke Jogja. Kenapa ke Jogja? Karena penerbangan terakhir ke Solo terlalu mepet dengan jadwal kedatangan saya di Soekarno-Hatta. Jadilah saya berbuka puasa di ruang tunggu keberangkatan. Kembali Garuda Indonesia membawa saya, namun kali ini saya sedikit kurang beruntung karena mendapatkan tempat duduk di paling belakang, tanpa ada tempat untuk meletakkan tas kabin saya. Tidak masalah, perjalanan 1 jam ini tidak akan terasa jika dibandingkan perjalanan hampir 7 jam Incheon-Jakarta. Di Jogja, saya disambut oleh mama, adik, serta supir keluarga yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri bersama istrinya. Kami ke Solo naik mobil Panther merah kesayangan almarhum papa saya.

Seminggu puasa di Indonesia bisa dibilang tidak terlalu istimewa. Ada undangan berbuka dari teman-teman SD, berbuka bersama anak yatim di rumah, berbuka bersama teman-teman SMA, dan berbuka bersama detailer obat yang mengundang mama dan keluarga. Tidak lupa ada juga acara kumpul di rumah eyang bersama om, tante, dan adik-adik sepupu. Saya juga menyempatkan membeli ponsel baru (akan saya ceritakan di tulisan lain) karena sudah bosan dengan ponsel saya yang lama.

Lebaran tiba, dan memang ada sesuatu yang kurang tanpa papa. Saya memang berangkat sholat Ied bersama mama dan adik, namun saya berjalan menuju shaf laki-laki seorang diri. Seusai sholat, seperti biasa kami sungkeman di rumah. Makin terasa ada yang kurang ketika saya hanya sungkem ke mama saja. Satu hal lagi yang terasa kurang adalah makan lontong opor bertiga saja, padahal papa saya yang paling suka dengan lontong opor setiap lebaran. Well, get used to it, Yon. Yang namanya pertama kali memang susah, tapi lama-lama harusnya terbiasa juga.

Hari lebaran itu cukup panjang, khususnya bagi kami. Setelah selesai makan dan open house sejenak di rumah, kami melanjutkan perjalanan ke makam papa dan lanjut ke rumah eyang. Sungkeman kepada eyang merupakan hal yang tidak pernah terlewat setiap lebaran. Tidak berlama-lama di sana, kami melanjutkan perjalanan ke Ngawi dan Padangan (sekitar Cepu). Di tempat-tempat itulah keluarga papa berada. Kata mama, silaturahmi tetap harus dijaga meskipun papa sudah tiada. Jadilah saya yang menyupir mobil dari Solo ke tempat-tempat tersebut. Seluruh keluarga papa kami datangi, termasuk nyekar ke makan mbah kung dan mbah uti. Untuk pertama kalinya, kami tidak menginap di rumah Padangan, tetapi di hotel. Rumah Padangan kondisinya sudah tidak begitu layak untuk ditinggali. Kami sampai sana sore dan pagi harinya kami akan kembali ke Solo untuk menghadiri halal bihalal di rumah eyang.

Sisa hari-hari saya di Indonesia di habiskan dengan halal bihalal dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Sampai pada akhirnya, Sabtu, 25 Agustus 2012, saya harus kembali meninggalkan keluarga dan teman-teman untuk kembali ke Korea.

Tinggal 1 tahun lagi dan saya akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, dekat dengan keluarga, dekat dengan teman-teman, dan lebih dekat dengan calon istri yang entah dimana rimbanya🙂

 

One thought on “Akhirnya Berlebaran di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s