Tipe Beasiswa di Luar Negeri

Sebelum memulai hari Jumat ini, saya ingin berbagi informasi tentang beasiswa. Mungkin kali ini tidak terlalu berkaitan dengan Korea (entah sejak kapan blog ini menjadi blog yang sangat berbau Korea), namun sedikit banyak akan saya hubungkan dengan kehidupan saya di sini.

Sumber beasiswa pada umumnya terbagi menjadi 3:

  • Pemerintah (asal atau tujuan)
  • Profesor / supervisor
  • Universitas

Pertama, beasiswa dari pemerintah terbagi menjadi 2, beasiswa dari pemerintah asal dan pemerintah negara tujuan. Contoh, beasiswa dari pemerintah Korea Selatan yang paling terkenal adalah KGSP (Korean Government Scholarship Program). Ada pula beasiswa bernama Global IT yang berasal dari kementrian Industri Korea. Di eropa, pasti kita pernah mendengar Erasmus Mundus, beasiswa yang disediakan oleh negara-negara uni-eropa. Sedangkan pemerintah negara asal (dalam hal ini saya beri contoh Indonesia), juga memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Teman saya dibiayai Dikti untuk berkuliah ke Korea Selatan, ada pula teman saya yang berkuliah di Belanda dengan beasiswa dari kementrian Kominfo.

Kedua, beasiswa dari profesor/supervisor. Dalam kasus ini, biasanya mahasiswa mendapatkan uang langsung dari profesor, dan uang itu berasal dari dana proyek yang dia kerjakan. Implikasinya, penerima beasiswa ini harus ikut aktif mengerjakan proyek si profesor.

Ketiga, beasiswa dari universitas. Di sini biasanya yang diberikan adalah beasiswa dalam bentuk potonganĀ tuition fee. Untuk kasus mahasiswa asing, pada umumnya mereka akan mendapatkan potongan biaya pendidikan, mulai dari 50-100%. Di kampus saya sendiri memiliki kebijakan bahwa mahasiswa asing hanya cukup membayar 15% dari biaya pendidikan dan bisa gratis apabila melampirkan nilai bahasa inggris yang baik (TOEIC > 800).

Jadi apa beda utama dari ketiga beasiswa di atas? Beasiswa ketiga tidak akan saya bahas dalam perbandingan ini.

  • Secara nominal, beasiswa dari pemerintah paling besar, tidak sebesar beasiswa dari profesor. Akan tetapi, nominal beasiswa pemerintah ini fix,, tidak akan naik atau turun. Sedangkan beasiswa profesor, meskipun tidak sebesar beasiswa pemerintah, namun nominalnya flexible, bisa naik dan bisa turun (tergantung dari proyek yang diterima profesor). Apabila nominalnya naik, akan melebihi nominal dari beasiswa pemerintah.
  • Jika dilihat dari hubungan profesor ke mahasiswa, penerima beasiswa dari profesor biasanya memiliki hubungan yang sangat intim dengan profesor, karena si mahasiswa tersebut terlibat secara langsung di proyek profesor. akibatnya, profesor akan menanyakan progres riset, progres proyek, dll kepada dia. Berbeda halnya dengan mahasiswa penerima beasiswa pemerintah. Di sini profesor hanya sebagai ‘penampung’ si mahasiswa tersebut. Profesor tidak bisa terlalu ikut campur dalam kehidupan si mahasiswa. Kasus ekstrimnya, di lab saya ada seorang mahasiswa asing penerima beasiswa dari profesor, dan dia tidak dapat membantu proyek profesor dengan baik. Ditambah lagi dia juga tidak aktif menulis paper. yang terjadi adalah profesor saya menghentikan beasiswanya dan mengusirnya dari lab. Hal ini tidak akan terjadi pada mahasiswa penerima beasiswa pemerintah.

Begitulah sedikit tulisan tentang beasiswa di luar negeri, semoga bermanfaat. Jika ada informasi yang kurang lengkap, mohon ditambahkan di komentar.

Salam Mahasiswa Penulis Paper!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s