Dear Pak Marzuki Alie…

Beberapa hari yang lalu (tanggal 22-11-12) tiba-tiba suatu topik hangat muncul di beberapa media sosial, terutama twitter. Teman-teman saya banyak yang menyesalkan ucapan ketua DPR-RI, Marzuki Alie. Saya langsung berpikir, apa lagi yang beliau katakan dan kali ini membuat sebagian teman-teman saya emosi. Kemudian saya cek link berita itu, dan respon saya adalah campuran antara emosi sesaat dan tersenyum.

Hal yang dia katakan (menurut link berita ini) saya yakin adalah bentuk pembelaan diri atas studi banding DPR ke Jerman yang menurut mahasiswa PPI Jerman adalah suatu studi banding yang salah alamat. Tujuan anggota DPR tersebut adalah studi banding untuk membahas Undang-undang keinsinyuran (entah ini undang-undang apa dan sebesar apa urgensinya sampai perlu studi banding ke luar negeri), namun mereka malah mengunjungi DIN, lembaga standardisasi produk. Ini sudah jelas salah alamat. Kemudian, disebutkan pula di laporan PPI Jerman bahwa antara pihak DPR dan pihak DIN mengalami kesulitan berkomunikasi karena tidak ada penerjemah. Oke, Bahasa Jerman memang bukan bahasa yang biasa dipelajari, namun karena letaknya di Eropa, seharusnya orang-orang Jerman pun fasih berbahasa Inggris. Di sini terlihat bahwa masalahnya ada di kemampuan berbahasa Inggris dari anggota DPR. Toh misalnya mereka merasa bahasa Inggris mereka tidak begitu baik, mereka bisa menyewa penerjemah. Terakhir, seperti yang biasa terjadi di kunjungan-kunjungan DPR di luar negeri, studi bandingnya hanya sehari, namun belanja dan jalan-jalannya berhari-hari. Hal ini juga ditunjukkan oleh foto yang menunjukkan seorang anggota DPR sedang berbelanja dasi di pusat pertokoan Jerman.

Dari laporan tersebut, nampaknya Bapak Ketua DPR, Marzuki Alie langsung tersulut emosinya. Muncullah beberapa pernyataan yang pasti akan membuat beberapa mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Luar Negeri emosi. Ada 4 poin yang di pernyataannya.

 

1. Dia mengatakan, sebaiknya para pelajar indonesia di luar negeri belajar di negeri sendiri. “Kalau DPR tidak boleh studi banding ke luar negeri, kenapa mereka tidak belajar di Indonesia saja? Di Indonesia juga banyak universitas bagus, ilmunya juga lengkap.

Well, Pak Marzuki, universitas-universitas di Indonesia memang bagus dan berkualitas. Namun kita tidak boleh menutup mata, bahwa sebagian besar universitas di Indonesia tidak menyediakan fasilitas yang memadai untuk riset mahasiswa pascasarjana. Sebagian besar dari mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri adalah mahasiswa pascasarjana, dan mereka memilih untuk berkuliah di luar negeri karena di sana fasilitas dan kultur risetnya lebih baik daripada di Indonesia. Ditambah lagi, perkembangan teknologi di sana, sebagian besar lebih maju daripada di Indonesia. Beberapa alat / bahan penelitian yang tidak dapat ditemukan di Indonesia dapat ditemukan dengan mudah di sana.

 

2. Mendapatkan kritik terhadap lembaga yang dipimpinnya, Marzuki Alie pun meradang. Dia balas mengkritik PPI Jerman. Dia menilai keengganan apa yang dilakukan oleh anggota DPR juga seperti yang dilakukan para pelajar Indonesia di sana, yaitu belajar. Soal informasi yang diterima anggota DPR bisa didapatkan dengan mudah di Internet, Marzuki Alie membalikkannya. “Kenapa mereka juga tidak belajar dari Internet saja? Ngapain jauh-jauh keluar negeri? Ngabisin devisa negara saja,

Dari pernyataan ini, saya hanya mengambil poin devisa negara. Pak, asal bapak tahu, tidak semua mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri menggunakan devisa negara. Jauh lebih banyak mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari supervisor (profesor) secara langsung. Ada pula yang mendapat beasiswa bukan dari negara asal, melainkan dari negara tujuan. Lalu dimana peran devisa negara yang kami ‘habiskan’? Di sini bapak salah besar kalau mengatakan bahwa mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri menghabiskan devisa negara.

 

3. Buat undang-undang itu tidak main-main. Kalau salah kebijakan, korbannya rakyat banyak. Kalau salah belajar, sih, cuma mereka saja yang merasakan sendiri

Saya tahu membuat undang-undang itu tidak mudah. Di himpunan atau BEM kampus saya, saya juga pernah membahas AD/ART dan itu tidak mudah. Namun tolong dilihat lagi pernyataan bapak sendiri. “Kalau salah kebijakan, korbannya rakyat banyak.” Pak, studi banding ke luar negeri dengan menggunakan uang negara sampai lebih dari 2 Milyar itu pun secara tidak langsung mengorbankan rakyat. Mereka tidak tahu apa yang dibahas (karena selama ini setahu saya tidak pernah ada laporan jelas hasil studi banding anggota-anggota DPR, CMIIW). Mereka hanya tahu bahwa anggota DPR tertangkap kamera sedang jalan-jalan saat studi banding. Kalau memang ada laporan dan hasil kunjungan yang jelas, tolong tunjukkan kepada rakyat, agar mereka sedikit lebih ikhlas melepas uangnya untuk studi banding anggota DPR.

Sebagai tambahan, kami ini (mahasiswa) saat ini belajar memang untuk diri sendiri, bukan untuk rakyat secara langsung. Namun sedikit banyak beberapa kami telah membuat bangga Indonesia dengan menunjukkan hasil risetnya di jurnal-jurnal dan konferensi-konferensi internasional. Kalau ada orang membaca nama Joko, Bambang, Budi, dll. yang menurut mereka asing, mereka akan bertanya asal dari nama-nama tersebut. Di situlah martabat Indonesia dapat sedikit kami angkat.

 

4. Didiskusikan apa yang mau dicari? Tujuannya apa? Manfaatnya apa? Jangan orang habis kerja, pulang lewat toko, beli dasi, difoto. Apa seperti itu kelakuan orang yang mengaku intelektual?

Menurut saya PPI Jerman punya alasan kenapa mereka menolak bertemu dengan anggota DPR yang berkunjung ke Jerman. Mereka mungkin bosan dengan berita-berita yang menyatakan bahwa anggota DPR studi banding ke negara A, B, C, dll. tanpa hasil yang jelas. Mereka mungkin berpikir bahwa hal ini tidak ada gunanya dan hanya menghabiskan uang negara saja. Dan itu ingin mereka buktikan dengan bukti-bukti yang mereka peroleh, termasuk foto-foto anggota DPR yang sedang berbelanja tersebut.

Pernyataan terakhir bapak akan saya balik untuk bapak, “apa seperti itu perkataan orang yang mengaku intelektual dan merupakan KETUA DPR RI?” Tidak cuma sekali ini saja bapak membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak respek dengan Bapak, tolong jangan buat kami makin tidak respek dengan pernyataan-pernyataan baru yang membuat merah telinga rakyat Indonesia. Berhubung bapak adalah ‘wakil rakyat’ ,tolong sampaikan suara saya ini kepada hati nurani dari masing-masing anggota DPR, secara umum, dan hati nurani bapak, secara khusus.

 

Salam cinta Indonesia dari salah satu mahasiswa Indonesia di luar negeri

One thought on “Dear Pak Marzuki Alie…

  1. Setuju comment nya. Sayang uangnya, abisnya milyaran laporan studi banding pun nggak jelas target dn hasilnya. mending mereka les bhs inggris dulu haha. Kalo mahasiswa bs dapet ilmu, kalo yang satu ini dapet belanjaan hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s