Saya, Langit, dan Gimhae Observatorium

Langit adalah hal kesekian yang saya sukai selain musik, menulis, game, dan jalan-jalan. Saat saya masih di tinggal di Solo, saya sering duduk sendiri di atap rumah saya sambil bermain gitar, tidak peduli siang atau malam. Saat siang, saya dapat melihat bentuk awan yang beraneka rupa. Malamnya, saya dapat melihat bintang-bintang yang tersebar namun nampak beraturan. Terlebih rumah saya di Solo terletak bukan di tengah kota, jadi saat malam (atau subuh) saya dapat melihat bintang dengan lebih jelas. Bahkan saat saya kecil saya sempat ingin masuk jurusan astronomi saking sukanya melihat bintang. Namanya juga anak kecil, pasti bukan hanya karena bintang, melainkan juga karena saya sering melihat Saint Seiya yang tokoh-tokohnya menggunakan nama bintang.

Di kota saya, Gimhae, meskipun kota ini bukan kota besar, kota ini memiliki suatu tempat semacam observatorium Boscha di Bandung. Letaknya pun tidak jauh dari kamus saya. Namun karena tidak adanya bus yang melewati tempat itu, saya pun baru ke sana setelah 1,5 tahun berada di Gimhae. Bersama Mas Bangun, salah satu mahasiswa Indonesia di Busan, dan Mbak Vica, senior saya di Elektro ITB namun junior saya di Inje, kami ke sana hari minggu sore.

Sama seperti Boscha, jalan menuju tempat ini pun berliku-liku. Meskipun ada track hiking menuju ke sana, karena saat ini winter dan udara sangat dingin, kami lebih memilih untuk naik taksi. Dalam bahasa Korea, tempat ini bernama 김해천문대. Itu pula lah yang harus kita katakan kepada supir taksi jika ingin menuju ke tempat ini. Taksi pun tidak mengantar kita langsung ke bangunan observatorium karena dia  berhenti di pintu gerbangnya saja. Kami pun melanjutkan jalan sekitar 500m di jalan yang menanjak untuk menuju bangunan utamanya.

Sepintas di tempat itu ada 2 bangunan utama, sebuah bangunan dengan 2 kubah dan sebuah bangunan dengan 1 kubah. Kami masuk ke gedung dengan 1 kubah terlebih dahulu. Isi dari bangunan itu adalah penjelasan tentang langit, mulai dari planet, bintang, galaksi, sampai black hole. Namun jangan berharap untuk menemukan tulisan berbahasa Inggris di sini, semuanya ditulis dalam hangeul. Meskipun demikian, jika kita bisa membaca hangeul, sedikit-sedikit kita akan bisa mengerti apa yang dimaksud dari gambar-gambar tersebut. Yang paling penarik di tempat itu adalah diorama Star Wars, salah satu film favorit saya. Di luar bangunan disediakan halaman dengan kota Gimhae sebagai pemandangannya. Di situ juga disediakan teropong (teropong biasa) untuk melihat pusat kota Gimhae.

Gedung observatorium

Diorama Star Wars

Pusat Gimhae dilihat dari Observatorium

Berikutnya kami menuju ke front office untuk membeli tiket masuk ke theater. Pada awalnya saya berpikir bahwa di tempat itu akan disiarkan film, ternyata tidak. Di tempat itu kami menatap bagian dalam kubah sambil duduk di kursi yang dapat direbahkan seakan-akan kami terlentang. Kemudian dalam bahasa Korea seorang operator menjelaskan tentang bintang-bintang yang dapat dilihat dari tempat itu. Tersebutlah aldebaran, capella, sirius, orion, dan beberapa bintang lain. Kami pun penasaran untuk melihat bintang-bintang tersebut secara langung.  Oleh karena itu, kami kemudian membeli tiket untuk observasi langit menggunakan teropong.

Proyektor di Theater

Ini adalah kali pertama saya melihat bintang menggunakan teropong bintang (di Boscha dulu saya hanya melihat teropongnya saja). Jangan berharap dengan menggunakan teropong bintang kita dapat melihat permukaan bintang dan segala macam hal di sana. Yang terlihat dari lensa teropong itu hanyalah bintang yang dizoom beberapa kali lipat. Namun warna asli bintang dapat terlihat dari teropong tersebut. Saya sempat melihat bintang yang berwarna kemerahan dari sana. Sayangnya, observasi ini dilakukan bersama banyak orang sehingga saya tidak bisa berlama-lama mengamatinya karena ada orang yang mengantri di belakang saya. Total, setiap pengunjung akan mengamati bintang melalui 4 teropong bintang kecil, 1 teropong bintang sedang, dan 1 teropong bintang besar.

Foto teropong (nggak bisa foto langsung karena gelap)

Bagi teman-teman yang berkunjung ke Gimhae, selain warung-warung Indonesia di pusat kota, tempat ini adalah tempat wajib kunjung. Saya jamin tidak rugi mengeluarkan 3000KRW untuk penjelasan di theater dan 4000KRW untuk observasi bintang karena kita bisa melihat dan lebih tahu tentang luasnya langit yang ada di atas kita selama ini.

Salam -3C (yang sudah sedikit hangat) dari Gimhae

2 thoughts on “Saya, Langit, dan Gimhae Observatorium

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s