2 Tahun dalam 1 Tulisan

Assalamualaikum wr.wb.

Bagi yang belum kenal, perkenalkan, Yonny, satu dari banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Korea. Tidak terasa sudah hampir 2 tahun saya berada di sini. 2 tahun itu pula saya bertemu dengan orang-orang yang unik dan hebat di berbagai kota dan berbagai kesempatan.

Semuanya memang dimulai dari kegalauan saya dalam menentukan berkuliah di Korea atau mengambil program fast track di ITB. Kedua opsi ini bukan hanya tentang lokasi kuliah, tetapi juga tentang hal-hal lain. Memilih antara berkuliah dan mendapatkan gelar MS/MT dalam 2 tahun/1 tahun, memilih antara meninggalkan keluarga dan teman-teman atau menemukan teman-teman yang baru, memilih untuk menikmati zona nyaman saya di Indonesia atau masuk ke zona yang pasti tidak senyaman di Indonesia, dan pastinya memilih antara berkembang di lingkungan yang itu-itu saja atau berkembang di lingkungan baru dan pendapatkan pengalaman-pengalaman yang pasti baru. Setelah merenung, meminta pendapat orang tua  dan keluarga, dan pastinya meminta petunjuk Allah, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di Korea ini.

Kota saya sendiri bukan kota yang besar seperti Seoul, Busan, atau Daegu. Kota saya bernama Gimhae, terletak di barat laut Busan. Kampus saya pun bukan kampus yang terkenal seperti SNU atau KAIST. Hal yang mendorong saya masuk ke Inje University adalah faktor profesor yang track recordnya sangat baik. Terbukti ketika beliau menunjukkan CVnya yang terdiri dari 54 lembar. Selain itu bidang riset saya dan profesor ini sesuai, yaitu tentang medical image processing. Klop! Teman-teman lab pun sangat membantu saya pada awal saya berada di sini.

Satu hal yang cukup mengagetkan adalah fakta bahwa saya adalah mahasiswa Indonesia dan satu-satunya yang berada di Inje University. Hal ini saya pastikan ke petugas di kantor Graduate School dan ke teman-teman PPI Korea Selatan. Tidak adanya orang Indonesia di kampus membuat saya makin aktif berjalan-jalan untuk bertemu dengan orang Indonesia. Orang Indonesia pertama yang saya temui adalah teman-teman TKI di Masjid Al-Barokah, Gimhae. Sedangkan mahasiswa Indonesia pertama yang saya temui adalah senior-senior Elektro ITB yang mengadakan acara kumpul-kumpul di Pusan National University. Kegiatan berburu orang dan pelajar Indonesia ini pun berlanjut sampai saya mengikuti acara gathering Perpika (PPI-Korea) di Daegu. 1 tahun saya menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia di Inje University dan Gimhae, 1 tahun itu pula saya tidak pernah berbahasa Indonesia secara lisan di kampus. Sampai akhirnya datang senior Elektro ITB ke Inje di lab yang berbeda. Akan tetapi sampai tulisan ini selesai ditulis, status saya masih satu-satunya mahasiswA Indonesia di Gimhae, karena 3 lainnya adalah mahasiswi.

Saya berada di Korea bukan hanya untuk berkuliah, tetapi juga untuk menikmati kehidupannya, termasuk berjalan-jalan. Kemampuan Bahasa Korea saya yang seadanya pun tidak menghalang jalan-jalan. Beberapa kali saya berjalan-jalan bersama mahasiswa internasional di kampus (anak Vietnam, Filipina, Thailand, dll) namun lebih banyak saya berjalan-jalan seorang diri. Ini merupakan hal yang baru bagi saya karena selama di Indonesia saya tidak pernah berjalan-jalan seorang diri karena pasti ada teman-teman yang bisa diajak. Ternyata berkeliling Korea seorang diri pun sangat menyenangkan. Saya bebas melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan orang lain: lapar tinggal makan, istirahat tinggal duduk, bosan tinggal pulang, dan tentunya tidak ada yang marah-marah ketika saya salah mengambil jalan. Kerugiannya hanya 2, yaitu tidak ada teman untuk bergantian menjaga ketika saya solat dan tidak ada teman yang diminta untuk memfoto saya dengan latar belakang pemandangan-pemandangan Korea. Jadilah saya mencari tempat yang cukup sepi untuk solat dan memanfaatkan benda-benda sekitar sebagai tripod self-timer atau meminta tolong orang-orang yang lewat. Oleh karena itulah, nantinys saya ingin berbulan madu ke Korea saja, ke tempat-tempat romantis dan indah yang pernah saya kunjungi seorang diri.

Dari jalan-jalan tersebut, tidak terasa sudah 12 kota dan 23 universitas saya kunjungi. Bagi saya jumlah ini sudah lebih dari cukup mengingat saya hanya berada di sini selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa konser musik juga sudah saya tonton, mulai yang gratis sampai yang berbayar, mulai artis Korea sampai artis internasional. Ada juga beberapa festival yang sempat saya datangi, mulai festival bunga sampai festival lantern. Dalam berjalan-jalan Korea ini, saya pun pernah menginap di berbagai tempat, sebutlah mushola, masjid, motel, terminal, sampai stasiun. Tidak hanya menginap, solat pun pernah saya lakukan di berbagai macam tempat umum, mulai dari stasiun besar, stasiun subway, di bawah tangga, dll. Bahkan saya pernah solat terawih di terminal bus Yeosu saat mengunjungi Yeosu Expo. Jalan-jalan gembira ini tidak terlepas dari kehidupan lab saya yang cukup longgar.

Kehidupan di lab saya berjalan dengan normal (normal versi Korea). Deadline mendadak sudah menjadi biasa, tekanan paper pun lumayan banyak. Meskipun jam wajib lab adalah 9-21, profesor memberikan libur setiap weekend. Profesor saya ini orangnya cukup berambisi. Dia bergabung dengan suatu komunitas yang bernama Korea Multimedia Society (KMMS). Pada saat awal mula saya berada di Korea, beliau adalah wakil ketua KMMS. Dia selalu meminta saya untuk menulis paper untuk conference yan diadakan KMMS sampai akhirnya saat ini beliau telah menjadi ketua KMMS. Bersama KMMS ini pula, profesor (sedikit melalui rekomendasi saya) menjalin kerjasama dengan ITB untuk mengadakan sebuah conference bernama MITA di Indonesia. Awalnya conference ini akan diadakan di Bandung, namun setelah beliau dan teman-temannya melihat macetnya Bandung saat survei ke sana, mereka pun mengalihkan lokasinya ke Bali. Secara umum, untuk hidup di lab, saya mencoba menjadi anak manis dan anak baik, sedikit banyak untuk memberikan kesan kepada profesor dan profesor-profesor lain bahwa mahasiswa Indonesia itu adalah mahasiswa yang baik. Kehidupan akademik saya berakhir ketika saya selesai mempresentasikan tesis kepada profesor-profesor dan mengumpulkan buku tesis.

Berikutnya adalah tentang Perpika, himpunan saya selama di Korea. Sebenarnya saya sempat membuat IN2 (Inje-Indonesia) dengan saya sebagai pendiri, ketua, dan sekaligus anggota satu-satunya. Sayangnya, bukanlah organisasi jika hanya terdiri dari satu orang saja. Tahun pertama di Korea, saya mengikuti 2 acara gathering Perpika yang dilaksanakan di Daegu dan Busan. Saya bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa hebat di gathering itu. Tidak hanya gathering, saya juga mencoba mencari kesibukan dengan mengikuti kepanitiaan CISAK 2012 (Conference of Indonesian Students Association in South Korea). Setelah rapat-rapat dan persiapan yang cukup lama, saya dan teman-teman panitia lainnya sukses mengadakan acara ini . Tidak hanya CISAK, Perpika juga mengadakan acara OID (One Indonesia Day) dimana seluruh orang Indonesia di Korea berkumpul tanpa memandang status, baik pekerja, mahasiswa, ataupun orang pemerintahan. Tahun kedua, saya diajak bergabung ke dalam Perpika itu sendiri untuk membantu bagian keanggotaan. Sebenarnya teman-teman divisi saya lah yang lebih banyak bekerja, saya hanya ikut membantu dari belakang. Penerimaan anggota baru, les Bahasa Korea, persiapan CISAK 2013, pembentukan panitia Pemilu Perpika adalah beberapa kegiatan PSDA Perpika yang sukses dilaksanakan oleh teman-teman sedivisi saya. Terima kasih banyak atas pengalaman dan persahabatan teman-teman selama berhimpun di Perpika. Sebagai tambahan, saya meminta maaf kepada panitia CISAK karena saya yang tidak dapat menghadiri acara yang sudah kita rencanakan sejak tahun lalu karena saya harus mengikuti MITA conference di Bali. Begitu pula saya meminta maaf kepada kepada seluruh warga Perpika karena saya tidak bisa mengikuti kongres Perpika dan mempertanggungjawabkan apa yang saya kerjakan selama menjadi pengurus.

Hal yang saya lakukan lainnya selama berada di sini adalah mengajar Universitas Terbuka. Sebelumnya saya harus angkat topi kepada inisiator program UT di Korea ini karena sukses membuka jalan bagi teman-teman TKI yang relatif sibuk untuk bisa belajar. Yang kedua, saya harus mengacungkan kedua jempol untuk teman-teman mahasiswa UT Korea itu sendiri. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja yang sibuk bekerja siang/malam selama Senin-Jumat/Sabtu tetapi masih sempat meluangkan waktu untuk belajar pada hari Minggunya. Saya juga membayangkan mereka membaca modul kuliah di sela-sela jam kerja mereka sekedar untuk mencicil banyaknya materi dan mata kuliah dalam satu semester. Sempat agak kikuk ketika harus mengajar mereka pertama kali, terlebih ketika mereka memanggil saya ‘mas’ padahal saya lebih muda dari mereka. Jadilah kami saling memanggil ‘mas’ dan ‘mbak’. Saya mengajar jurusan Bahasa Inggris selama 3 semester. Semester pertama adalah semester campuran kuliah online via skype dan tatap muka, sedangkan semester kedua dan ketiga hanya kuliah tatap muka saja. Sebenarnya cukup lelah menempuh perjalanan Gimhae-Gyeongsan / Gimhae-Busan tiap minggu selama 2 bulan, namun jika saya selalu menjadi bersemangat melihat teman-teman mahasiswa yang semangat berkuliah, sampai-sampai ada yang naik taksi langsung dari tempat kerja dan membayar 80.000KRW menuju ke tempat kuliah. Saya hanya berharap teman-teman mahasiswa UT tetap bersemangat kuliah, pun bila nanti pulang ke Indonesia, teman-teman masih bisa melanjutkan kuliahnya melalui UPBJJ UT di kota masing-masing.

Akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, menemani, menampung, dan menjadi sahabat saya selama saya berada di Korea ini. Mohon maaf jika ada salah-salah kata atau ucapan. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti di Indonesia ketika membangun Indonesia menjadi negara yang jauh lebih hebat.

Salam hangat summer dari Gimhae, saya pamit.

Wassalamualaikum wr.wb.

9 thoughts on “2 Tahun dalam 1 Tulisan

  1. Dear Mas Yonny..

    Trimakasih sekali telah meluangkan waktu mengajar d kelas englis reading#1..
    D tengah kasibukan Thesis nya..

    Succses selalau buat Mas Yonny.

  2. terkesan dg tulisan ini
    terlebih di bagian masjid al barokah
    ada cinta pertamaku yg tak kan pernah kembali padaku.
    yg dia skarang tinggal di masjid itu.
    trimakash,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s