Medioker – 1

Menjadi seorang yang sedang-sedang saja bukanlah sesuatu yang salah. Semenjak saya SD sampai saya kuliah S1, saya bukanlah orang yang menonjol di sekolah maupun di suatu komunitas tertentu. Ambil contoh saat saya SD, saya hanya bertahan menjadi siswa dengan peringat kelas 1-3 sampai kelas 3 saja, dimana saat itu belum ada pembagian kelas unggulan dan kelas non-unggulan. Sampai akhirnya saya dipindahkan ke kelas yang berisi orang-orang pintar, peringkat saya pun turun mendadak ke peringkat belasan. Untungnya saya masih memiliki kebanggaan setelah mendapatkan juara 1 lomba puisi Jawa se-Kecamatan. Ya, hanya kecamatan, bukan provinsi atau pun nasional. Meskipun demikian, pada saat ujian akhir saya berhasil memperoleh peringkat 10 nilai terbaik di SD saya, cukup untuk masuk ke SMP terfavorit di Solo.

Saat SMP, hal yang sama terulang lagi dengan lebih parah. Tidak ada perbedaan kelas berdasarkan kemampuan siswa. Karena SMP saya adalah SMP favorit, maka diasumsikan seluruh siswa memiliki kemampuan yang sama, dan kemampuan mereka ada di level atas. Alhasil, saya hanya berkutat di peringkat 10 besar kelas tanpa pernah menyentuh peringkat paralel. Di bidang non-akademik pun sama aja, saya tidak memiliki prestasi yang dapat dibanggakan selain pernah menjadi finalis festival band se-Jawa Bali bersama teman-teman saya. Namun sama seperti saat saya SD, saya menutup SMP saya dengan cukup manis, menjadi peringkat 3 di kelas untuk nilai ujian akhir. Sekali lagi, nilai ujian saya itu membawa saya masuk ke SMA terfavorit di Solo.

Masuk ke SMA, saya masih menjadi siswa tengah-tengah, tidak di level bawah maupun atas. Di kelas, saya termasuk siswa pasif. Secara default, saya akan diam saja menunggu ditanya guru ketika ada pertanyaan di kelas. Namun apabila sudah ditanya, keluarlah semua yang ada dalam pikiran saya. Kepasifan dan kebiasa-biasaan saya ini ternyata diperhatikan oleh teman-teman saya. Secara tidak sadar mungkin mereka mengecap saya sebagai Yonny si murid biasa saja. Sampai akhirnya pada kelas 3 semester 1, secara mengejutkan saya mendapat peringkat 1 di kelas. Seluruh murid unggulan di kelas saya pun terkaget-kaget melihat anak biasa-biasa saja menjadi peringkat 1 di kelas, sampai-sampai mereka mengecek nilai saya secara langsung ke ruang guru. Saya sendiri tetap biasa-biasa saja meskipun hal ini hal yang tidak biasa untuk saya. Toh tidak ada yang salah ketika anak biasa menjadi sedikit luar biasa. Berbeda halnya dengan anak luar biasa yang tiba-tiba menjadi biasa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s