Jika Saya Punya Istri Nanti

Jika saya punya istri nanti, saya ingin istri saya tidak sekedar menjadi ibu rumah tangga. Selain mengurus keluarga, saya juga ingin dia bisa mengembangkan karirnya.

Jika saya punya istri nanti, saya akan berdiskusi dengannya mengenai pembagian tugas dalam keluarga dan karir masing-masing. Saya tidak ingin pernikahan itu menghambat karir. Sebaliknya, pernikahan itu justru menjadi motivator dan pelecut karir masing-masing.

Jika saya punya istri nanti, saya harus menyiapkan fisik dan mental kalau-kalau ditinggal istri berkarir. Saya harus bisa memasak sendiri, mengurus anak, membersihkan rumah, dll.

Jika saya punya istri nanti, saya ingin banyak berdiskusi dengannya tentang apapun. Dengan berkarir, besar harapan saya bahwa dia memiliki pengetahuan yang luas tentang banyak hal. Hal-hal itulah yang akan menjadi bahan diskusi kami sehari-hari.

Jika saya punya istri nanti, saya ingin dia bisa menyatu dengan keluarga saya seutuhnya dan menerima keluarga saya apa adanya. Berbakti kepada ibu, ikut mendoakan almarhum bapak, sayang kepada adik, dan hormat kepada seluruh anggota keluarga besar.

Jika saya punya istri nanti, saya ingin beribadah bersama dengannya, baik itu membaca quran, sholat berjamaah, berpuasa dll. Ilmu agama sama seperti ilmu lainnya. Saya pun ingin belajar bersamanya khususnya mengenai ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya.

Jika saya punya istri nanti, saya ingin melakukan hal-hal yang saya sukai bersamanya, seperti bernyanyi, berjalan-jalan, menulis, dll. Begitu pula dengan hal-hal yang dia sukai.

Jika saya punya istri nanti, saya ingin satu istri saja, untuk dicintai dan disayangi sepanjang usia.

Subang, 10-10-2013 (62 hari menuju deadline #project111213)

Yonny Septian Izmantoko

7 thoughts on “Jika Saya Punya Istri Nanti

  1. Apakah anda pernah berpikir apabila sudah punya istri kmudian anda jg menginginkan anak. Apakah anda pernah berpikir pd saat istri anda yg berkarir itu lembur sampai jam 11 malam kmudian anak2 anda hanya diasuh oleh baby sister,nanny,pembantu RT. Bahkan istri anda harus berangkat pagi2 skali saat anak2 baru bangun dan pulang saat anak2 sudah tertidur. Sy hanya menggambarkan situasi dimana seorang laki2 biasanya slalu berkata ingin istri yg tetap berkarir namun dia jg harus menghadapi situasi kalau anak2 tidak dalam buaian ibu2 mereka. Ibu mereka hebat dgn pendidikn tinggi dan karir yg gemilang namun anak2 ini setiap harinya hanya dalam buaian seseorang yg mungkin cuma tamat SD atau bahkan tidak sekolah sama sekali. Bagaimana menurut anda.

    • Dear Gemala
      Terima kasih atas pendapat dan pertanyaannya. Bagi saya, normalnya wanita memanglah menjadi istri dan ibu saja, dalam hal ini dia akan tinggal di rumah saja. Namun saya pun tidak ingin ‘mengurung’ kebebasannya untuk berkarir, berekspresi, dll. Jadi, saya membebaskannya untuk bisa berkarir dengan catatan HARUS tetap mampu memberikan waktu lebih untuk keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s