The Baby Face

Bukan salah siapa-siapa jika beberapa kejadian ini terjadi

1. Saya, ibu, dan adik sedang bersama dan tiba-tiba bertemu dengan salah seorang teman ibu. Tiba-tiba sambil merujuk pada saya dan adik, dia bertanya,

“Ini kakaknya yang mana ya?”

2. Masih kejadian bersama ibu saya dan temannya. Nampaknya memang teman ibu ini jarang bertemu dengan saya. Kejadian ini terjadi setelah saya selesai menempuh S2 saya. Dia bertanya,

“Mas sekolah dimana?”
Saya pun menjawab, “Sudah selesai S2, sekarang sudah bekerja.”
“Loh, saya kirain masih SMA, masih imut gitu mukanya.” *tolong abaikan fakta bahwa saya berkumis dan berjenggot tipis.

3. Ketika saya berada di pool travel dan menunggu giliran dipanggil dalam waiting list, seorang bapak-bapak menyapa saya,

Bapak-bapak(A): “Kuliah di mana dik?”
Saya(B): “Saya sudah bekerja, Pak”
A: “Oh sudah bekerja, kirain masih kuliah”
B: “Iya pak, sudah selesai S2 kira-kira 1 tahun yang lalu.”
A: “Kalau pulang dari Bandung, biasanya naik travel jam berapa?”
B: “Biasanya sih jam setengah 6”
A: “Hoo, wajar lah. Kalau lajang masih santai”
B: “Hmm, saya sudah punya istri kok pak”
A: “Oh, sudah menikah juga ternyata. Tapi belum punya momongan kan, ya?”
B: “Sekarang belum, Pak. InsyaAllah awal tahun depan”
A: “Wah, istri sedang hamil? Selamat-selamat, semoga lancar.”
*ibarat main game, bapak ini terkena triple kill setelah salah menerka beberapa kali

4. Di kantor saya yang baru, Hari Jumat. Seorang manajer tiba-tiba bertanya,
A: Yonny kalo weekend kemana biasanya?
B: Saya ke Bandung,Bu
A: Oh rumah di Bandung ya?
B: Bukan rumah saya, rumah istri saya
A: Loh, sudah menikah?
B: Iya sudah, Bu
A: Istri kerja dimana?
B: Di klinik, dokter.
A; Oh tidak di rumah sakit?
B: Belum saya bolehin, Bu. Nunggu lahiran sekalian.
A: Wah, istrinya sedang hamil? Kirain kamu masih anak-anak, eh sudah mau punya anak

[Lowongan Kerja] Programmer Pabrik Nike

Dear pembaca yang saya hormati. Saya ingin memberi informasi mengenai lowongan kerja di kantor saya. Saat ini, perusahaan saya, PT Taekwang Industrial Indonesia, membutuhkan beberapa orang programmer sebagai staf IT. Pabrik ini berlokasi di Kota Subang, Jawa Barat. Pabrik ini merupakan pabrik Korea yang merupakan cabang dari kantor pusat yang berada di Korea. Bidang usaha pabrik ini adalah manufacturing (produksi) sepatu Nike yang secara resmi diorder oleh Nike Amerika.

Kualifikasi yang dibutuhkan tidak terlalu berat. Yang paling utama adalah berpengalaman dan menguasai bahasa pemrograman: Visual Basic dan/atau Java. Pengetahuan lebih tentang database juga akan sangat membantu. Sekedar informasi, perusahaan ini menggunakan database dan sistem dari Oracle.

Jika ada yang berminat, silakan kontak saya melalui komen di blog ini. Terima kasih.

Di Penghujung 2013 #latepost

*Baru menemukan tulisan yang sesungguhnya benar-benar saya tulis di akhir 2013

Di Penghujung tahun ini, saya bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberikan umur panjang kepada saya sehingga saya masih dapat menjalani tahun 2013 dengan baik. Saya juga bersyukur karena beberapa target yang saya canangkan pada awal tahun ini dapat tercapai dengan baik dan beberapa lainnya tertunda dengan alasan yang pasti telah Dia tentukan dengan tepat.

1. Saya berhasil lulus dengan gelar baru di belakang nama saya. Setelah menjalani 2 tahun kurang kuliah di Korea Selatan, akhirnya saya mendapatkan gelar master saya di sini, lengkap dengan gelar cumlaude yang tidak saya peroleh ketika saya berkuliah S1 di ITB. Alhamdulillah, perkuliahan dan kehidupan akademik saya berjalan dengan lancar.

2. Saya pulang ke Indonesia pada bulan Juli 2013. Sebulan berada di Solo selama bulan Ramadhan, dan memulai bekerja di Subang beberapa hari setelah lebaran.

3. Semua lagu saya terdokumentasikan dengan rapi, termasuk lagu-lagu baru yang saya buat di tahun ini

4. Nampaknya rekaman saya tertunda, bukan karena kekurangan biaya, namun lebih karena kurangnya waktu untuk rekaman itu sendiri. Semoga tahun depan kantor saya segera libur pada hari Sabtu, sehingga saya memiliki waktu lebih banyak untuk diri saya sendiri

5. Well, target #project111213 saya untuk menikah pada tanggal 11 Desember 2013 meleset. Namun alhamdulillah, saya insyaAllah sudah menemukan wanita yang akan menjadi pendamping saya untuk selamanya nanti. Saya dan keluarga pun telah melamarnya. Tunggu tanggal mainnya untuk #MarchInProject

DSC_0246

6. Saya belum sempat berkunjung ke kota Pohang, tempat Fidel, sahabat PSDA Perpika saya tinggal. Akan tetapi saya sudah ke kota tempat tinggal Wahyono di Ulsan dan ke Gyeongju, kota pusat kerajaan Korea pada masa lampau

7. Saya belum sempat ke DMZ karena ke sana harus dengan rombongan beberapa orang dan waktu saya dari lulus sampai pulang terlalu mepet

8. Alhamdulillah, target tabungan saya tercapai dan dapat digunakan untuk biaya beli snack nikahan ­čÖé

9. Untuk hal paper, saya cukup sukses. Dari target 2 paper, saya berhasil membuat 3 paper saat masih berada di Korea, dan 2 paper susulan setelah saya berada di Indonesia.

10. CISAK 2013 yang mengundang Ilham Habibie dan Ridwan Kamil berjalan dengan lancar. Sayangnya saya tidak dapat mengikuti acara tersebut karena saya berada di Indonesia untuk mengikuti conference bernama MITA. Terima kasih banyak untuk teman-teman panitia yang sudah mensukseskan acara ini.

11. Farewell party bersama teman-teman Korea berjalan dengan lancar dalam tempat dan waktu yang berbeda-beda.

12. 70an halaman cerita tentang kehidupan saya selama di Korea telah berhasil ditulis. Namun saya belum tahu kapan buku ini dapat diwujudkan.

13. Saya belum punya kartu kredit sampai saat ini, alasan utamanya adalah karena saya belum memiliki NPWP yang masih diurus di kantor pajak Subang

Begitulah review singkat target-target saya selama 2013. Seperti harapan orang-orang pada umumnya, saya berharap tahun 2014 menjadi tahun yang jauh lebih hebat dibanding tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya. Selamat tahun baru!!

Tentang #Project111213

Dengan tulisan ini, saya, Yonny Septian Izmantoko, menyatakan bahwa saya gagal memenuhi target #project111213. #project111213 yang dicetuskan pada tanggal 17 September 2012 ini gagal dikarenakan satu dan lain hal, salah satunya adalah terlalu singkatnya waktu yang ada untuk mempersiapkan acara pada tanggal tersebut. Terlepas dari itu, saya sudah melakukan usaha sekuat tenaga untuk mencapai hal itu. Namun nampaknya Dia belum memberikan izin bagi saya untuk sukses memenuhi target tersebut, dan saya pun yakin selalu ada alasan kenapa Dia mengizinkan suatu hal terjadi atau tidak terjadi.

Akan tetapi, sebagai gantinya, #project111213 berubah menjadi #projectpreparation121314, yang rencananya akan dilangsungkan pada Bulan 12, Tahun 2013 dan Tanggal 14. Ya, insya Allah 3 hari dari tulisan ini dibuat, saya, keluarga saya, partner saya, dan keluarga partner saya akan berkumpul di rumah partner saya untuk mengawali dan membahas proyek yang sesungguhnya. Proyek yang saya sebut #MarchInProject.

Informasi lebih lanjut mengenai #MarchInProject akan saya sampaikan lebih lanjut. Saat ini saya memohon doa restu dari teman-teman yang membaca tulisan ini agar #projectpreparation121314 dan #MarchInProject dapat berlangsung dengan lancar. Terima kasih ­čÖé

PS: #MarchInProject rencananya akan dilangsungkan di Solo pada bulan yang sesuai dengan nama proyek

Hidup di Indonesia (lagi)

Ini adalah tulisan pertama saya di blog ini semenjak saya menjejakkan kaki lagi di Indonesia. Ya, terhitung sejak 2 Juli 2013 sampai tulisan ini dibuat, saya sudah tinggal di Indonesia selama kurang lebih 4 minggu. Apa saja yang saya lakukan selama 4 minggu tersebut?

Mari kita mulai dari penerbangan saya dari Korea ke Indonesia. Normalnya, saya akan menggunakan flight Incheon – Soekarno Hatta. Akan tetapi, kali ini saya menggunakan flight Incheon – Ngurah Rai. Kenapa Bali? Singkat cerita, profesor saya adalah presiden dari Multimedia Society di Korea. Mereka mengadakan conference di Nusa Dua, Bali. Sebagai anak lab yang berbakti pada profesor, tentu saja saya dan teman-teman diminta untuk mengirimkan paper ke sana. Pada mulanya saya berpikir bahwa saya akan diminta bolak-balik Korea-Indonesia-Korea dan pulang ke Indonesia beberapa waktu kemudian. Namun profesor saya malah menyuruh saya untuk pulang saja ke Indonesia dan tidak kembali ke Korea lagi karena seluruh urusan saya telah selesai. Jadilah penerbangan Incheon-Ngurah Rai itu sebagai penerbangan perpisahan saya dengan Korea.

Di Bali, selain menjadi peserta conference, saya juga menjadi guide sekaligus supir untuk tur teman-teman lab saya. Presentasi saya dan teman-teman di conference berjalan dengan lancar seperti biasa. Hari berikutnya, saya membawa mereka ke Garuda Wisnu Kencana, melihat sunset di Uluwatu, melihat sunrise di Sanur, melihat sunset di Kuta, dan berjalan-jalan ke Tanah Lot. Tanggal 5 Juli tengah malam, mereka kembali ke Korea lagi.

Satu hal yang unik di sini adalah ‘beranaknya’ barang bawaan saya. Saya ingat dengan jelas, kali pertama saya berangkat ke Korea, saya membawa 2 buah kopor dengan berat total 25kg. Saat saya kembali ke Indonesia lagi, total bagasi saya adalah 60kg. Untung saja teman-teman lab tidak membawa terlalu banyak barang sehingga saya dapat menitipkan barang-barang saya kepada mereka. Lalu bagaimana cara saya membawa barang-barang dari Bali ke Solo? Di sini saya ‘mengundang’ ibu dan adik saya ke Bali untuk berlibur sejenak sekaligus membantu menambah bagasi saya untuk kembali ke Solo. Namun tetap saja pada akhirnya masih ada 10kg buku yang dikirim via pos. Akhirnya, saya dan barang-barang saya pun kembali ke Solo dengan selamat.

Selamat datang di kampung halaman, Yon. Selamat menikmati masa istirahat sebelum engkau mulai bekerja.

Departed

 

2 Tahun dalam 1 Tulisan

Assalamualaikum wr.wb.

Bagi yang belum kenal, perkenalkan, Yonny, satu dari banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Korea. Tidak terasa sudah hampir 2 tahun saya berada di sini. 2 tahun itu pula saya bertemu dengan orang-orang yang unik dan hebat di berbagai kota dan berbagai kesempatan.

Semuanya memang dimulai dari kegalauan saya dalam menentukan berkuliah di Korea atau mengambil program fast track di ITB. Kedua opsi ini bukan hanya tentang lokasi kuliah, tetapi juga tentang hal-hal lain. Memilih antara berkuliah dan mendapatkan gelar MS/MT dalam 2 tahun/1 tahun, memilih antara meninggalkan keluarga dan teman-teman atau menemukan teman-teman yang baru, memilih untuk menikmati zona nyaman saya di Indonesia atau masuk ke zona yang pasti tidak senyaman di Indonesia, dan pastinya memilih antara berkembang di lingkungan yang itu-itu saja atau berkembang di lingkungan baru dan pendapatkan pengalaman-pengalaman yang pasti baru. Setelah merenung, meminta pendapat orang tua  dan keluarga, dan pastinya meminta petunjuk Allah, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di Korea ini.

Kota saya sendiri bukan kota yang besar seperti Seoul, Busan, atau Daegu. Kota saya bernama Gimhae, terletak di barat laut Busan. Kampus saya pun bukan kampus yang terkenal seperti SNU atau KAIST. Hal yang mendorong saya masuk ke Inje University adalah faktor profesor yang track recordnya sangat baik. Terbukti ketika beliau menunjukkan CVnya yang terdiri dari 54 lembar. Selain itu bidang riset saya dan profesor ini sesuai, yaitu tentang medical image processing. Klop! Teman-teman lab pun sangat membantu saya pada awal saya berada di sini.

Satu hal yang cukup mengagetkan adalah fakta bahwa saya adalah mahasiswa Indonesia dan satu-satunya yang berada di Inje University. Hal ini saya pastikan ke petugas di kantor Graduate School dan ke teman-teman PPI Korea Selatan. Tidak adanya orang Indonesia di kampus membuat saya makin aktif berjalan-jalan untuk bertemu dengan orang Indonesia. Orang Indonesia pertama yang saya temui adalah teman-teman TKI di Masjid Al-Barokah, Gimhae. Sedangkan mahasiswa Indonesia pertama yang saya temui adalah senior-senior Elektro ITB yang mengadakan acara kumpul-kumpul di Pusan National University. Kegiatan berburu orang dan pelajar Indonesia ini pun berlanjut sampai saya mengikuti acara gathering Perpika (PPI-Korea) di Daegu. 1 tahun saya menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia di Inje University dan Gimhae, 1 tahun itu pula saya tidak pernah berbahasa Indonesia secara lisan di kampus. Sampai akhirnya datang senior Elektro ITB ke Inje di lab yang berbeda. Akan tetapi sampai tulisan ini selesai ditulis, status saya masih satu-satunya mahasiswA Indonesia di Gimhae, karena 3 lainnya adalah mahasiswi.

Saya berada di Korea bukan hanya untuk berkuliah, tetapi juga untuk menikmati kehidupannya, termasuk berjalan-jalan. Kemampuan Bahasa Korea saya yang seadanya pun tidak menghalang jalan-jalan. Beberapa kali saya berjalan-jalan bersama mahasiswa internasional di kampus (anak Vietnam, Filipina, Thailand, dll) namun lebih banyak saya berjalan-jalan seorang diri. Ini merupakan hal yang baru bagi saya karena selama di Indonesia saya tidak pernah berjalan-jalan seorang diri karena pasti ada teman-teman yang bisa diajak. Ternyata berkeliling Korea seorang diri pun sangat menyenangkan. Saya bebas melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan orang lain: lapar tinggal makan, istirahat tinggal duduk, bosan tinggal pulang, dan tentunya tidak ada yang marah-marah ketika saya salah mengambil jalan. Kerugiannya hanya 2, yaitu tidak ada teman untuk bergantian menjaga ketika saya solat dan tidak ada teman yang diminta untuk memfoto saya dengan latar belakang pemandangan-pemandangan Korea. Jadilah saya mencari tempat yang cukup sepi untuk solat dan memanfaatkan benda-benda sekitar sebagai tripod self-timer atau meminta tolong orang-orang yang lewat. Oleh karena itulah, nantinys saya ingin berbulan madu ke Korea saja, ke tempat-tempat romantis dan indah yang pernah saya kunjungi seorang diri.

Dari jalan-jalan tersebut, tidak terasa sudah 12 kota dan 23 universitas saya kunjungi. Bagi saya jumlah ini sudah lebih dari cukup mengingat saya hanya berada di sini selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa konser musik juga sudah saya tonton, mulai yang gratis sampai yang berbayar, mulai artis Korea sampai artis internasional. Ada juga beberapa festival yang sempat saya datangi, mulai festival bunga sampai festival lantern. Dalam berjalan-jalan Korea ini, saya pun pernah menginap di berbagai tempat, sebutlah mushola, masjid, motel, terminal, sampai stasiun. Tidak hanya menginap, solat pun pernah saya lakukan di berbagai macam tempat umum, mulai dari stasiun besar, stasiun subway, di bawah tangga, dll. Bahkan saya pernah solat terawih di terminal bus Yeosu saat mengunjungi Yeosu Expo. Jalan-jalan gembira ini tidak terlepas dari kehidupan lab saya yang cukup longgar.

Kehidupan di lab saya berjalan dengan normal (normal versi Korea). Deadline mendadak sudah menjadi biasa, tekanan paper pun lumayan banyak. Meskipun jam wajib lab adalah 9-21, profesor memberikan libur setiap weekend. Profesor saya ini orangnya cukup berambisi. Dia bergabung dengan suatu komunitas yang bernama Korea Multimedia Society (KMMS). Pada saat awal mula saya berada di Korea, beliau adalah wakil ketua KMMS. Dia selalu meminta saya untuk menulis paper untuk conference yan diadakan KMMS sampai akhirnya saat ini beliau telah menjadi ketua KMMS. Bersama KMMS ini pula, profesor (sedikit melalui rekomendasi saya) menjalin kerjasama dengan ITB untuk mengadakan sebuah conference bernama MITA di Indonesia. Awalnya conference ini akan diadakan di Bandung, namun setelah beliau dan teman-temannya melihat macetnya Bandung saat survei ke sana, mereka pun mengalihkan lokasinya ke Bali. Secara umum, untuk hidup di lab, saya mencoba menjadi anak manis dan anak baik, sedikit banyak untuk memberikan kesan kepada profesor dan profesor-profesor lain bahwa mahasiswa Indonesia itu adalah mahasiswa yang baik. Kehidupan akademik saya berakhir ketika saya selesai mempresentasikan tesis kepada profesor-profesor dan mengumpulkan buku tesis.

Berikutnya adalah tentang Perpika, himpunan saya selama di Korea. Sebenarnya saya sempat membuat IN2 (Inje-Indonesia) dengan saya sebagai pendiri, ketua, dan sekaligus anggota satu-satunya. Sayangnya, bukanlah organisasi jika hanya terdiri dari satu orang saja. Tahun pertama di Korea, saya mengikuti 2 acara gathering Perpika yang dilaksanakan di Daegu dan Busan. Saya bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa hebat di gathering itu. Tidak hanya gathering, saya juga mencoba mencari kesibukan dengan mengikuti kepanitiaan CISAK 2012 (Conference of Indonesian Students Association in South Korea). Setelah rapat-rapat dan persiapan yang cukup lama, saya dan teman-teman panitia lainnya sukses mengadakan acara ini . Tidak hanya CISAK, Perpika juga mengadakan acara OID (One Indonesia Day) dimana seluruh orang Indonesia di Korea berkumpul tanpa memandang status, baik pekerja, mahasiswa, ataupun orang pemerintahan. Tahun kedua, saya diajak bergabung ke dalam Perpika itu sendiri untuk membantu bagian keanggotaan. Sebenarnya teman-teman divisi saya lah yang lebih banyak bekerja, saya hanya ikut membantu dari belakang. Penerimaan anggota baru, les Bahasa Korea, persiapan CISAK 2013, pembentukan panitia Pemilu Perpika adalah beberapa kegiatan PSDA Perpika yang sukses dilaksanakan oleh teman-teman sedivisi saya. Terima kasih banyak atas pengalaman dan persahabatan teman-teman selama berhimpun di Perpika. Sebagai tambahan, saya meminta maaf kepada panitia CISAK karena saya yang tidak dapat menghadiri acara yang sudah kita rencanakan sejak tahun lalu karena saya harus mengikuti MITA conference di Bali. Begitu pula saya meminta maaf kepada kepada seluruh warga Perpika karena saya tidak bisa mengikuti kongres Perpika dan mempertanggungjawabkan apa yang saya kerjakan selama menjadi pengurus.

Hal yang saya lakukan lainnya selama berada di sini adalah mengajar Universitas Terbuka. Sebelumnya saya harus angkat topi kepada inisiator program UT di Korea ini karena sukses membuka jalan bagi teman-teman TKI yang relatif sibuk untuk bisa belajar. Yang kedua, saya harus mengacungkan kedua jempol untuk teman-teman mahasiswa UT Korea itu sendiri. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja yang sibuk bekerja siang/malam selama Senin-Jumat/Sabtu tetapi masih sempat meluangkan waktu untuk belajar pada hari Minggunya. Saya juga membayangkan mereka membaca modul kuliah di sela-sela jam kerja mereka sekedar untuk mencicil banyaknya materi dan mata kuliah dalam satu semester. Sempat agak kikuk ketika harus mengajar mereka pertama kali, terlebih ketika mereka memanggil saya ‘mas’ padahal saya lebih muda dari mereka. Jadilah kami saling memanggil ‘mas’ dan ‘mbak’. Saya mengajar jurusan Bahasa Inggris selama 3 semester. Semester pertama adalah semester campuran kuliah online via skype dan tatap muka, sedangkan semester kedua dan ketiga hanya kuliah tatap muka saja. Sebenarnya cukup lelah menempuh perjalanan Gimhae-Gyeongsan / Gimhae-Busan tiap minggu selama 2 bulan, namun jika saya selalu menjadi bersemangat melihat teman-teman mahasiswa yang semangat berkuliah, sampai-sampai ada yang naik taksi langsung dari tempat kerja dan membayar 80.000KRW menuju ke tempat kuliah. Saya hanya berharap teman-teman mahasiswa UT tetap bersemangat kuliah, pun bila nanti pulang ke Indonesia, teman-teman masih bisa melanjutkan kuliahnya melalui UPBJJ UT di kota masing-masing.

Akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, menemani, menampung, dan menjadi sahabat saya selama saya berada di Korea ini. Mohon maaf jika ada salah-salah kata atau ucapan. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti di Indonesia ketika membangun Indonesia menjadi negara yang jauh lebih hebat.

Salam hangat summer dari Gimhae, saya pamit.

Wassalamualaikum wr.wb.